Industri Tekstil Terpukul Terus

 

Oleh: Nailul Huda, Peneliti INDEF

 

Secara umum, industri tekstil dan produk tekstil Indonesia memiliki daya saing yang relatif baik di pasar internasional. Sebab, Indonesia memiliki industri yang terintegrasi mulai dari hulu sampai hilir, yakni dari produk benang (pemintalan), pertenunan, rajutan, dan produk akhir. Indonesia memiliki industri pemintalan (spinning) yang besar di kawasan Asia dan Oceania. Demikian pula dengan industri pertenunan yang produksinya kedua terbesar setelah China, serta industri pakaian jadi yang dikenal di dunia internasional. Maka dari itu, tidak heran jika industri tekstil Indonesia menjadi salah satu sektor unggulan ekspor dalam beberapa tahun terakhir terutama pasca reformasi.

Puncak dari kinerja industrti tekstil terjadi di tahun 2007 dengan adanya surplus produk tekstil hingga mencapai USD7,8 miliar dimana pada tahun 2001 hanya surplus USD5,24 miliar. Saat itu, bisa dibilang kinerja industri tekstil sangat bagus. Namun demikian, kondisi itu berbalik di periode 2008 hingga tahun 2018 dan bisa berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. Pada tahun 2008, surplus industri tekstil hanya USD5,04 miliar dan pada tahun 2018 menurun drastis menjadi USD3,2 miliar. Penyebabnya bisa bermacam-macam, salah satunya adalah gempuran barang tekstil impor terutama dari Tiongkok.

Produk garmen dari impor naik 2 kali lipat dari tahun 2016 hingga 2018. Hal ini yang menyebabkan industri tekstil lokal terpukul sehingga untuk bersaing dalam negeri akan kalah apalagi untuk ekspor. Mungkin banyak yang berpendapat bahwa kain impor untuk meningkatkan ekspor produk garmen, namun pernyataan itu ternyata berlawanan. Ekspor garmen tidak mengalami peningkatan di saat impor kain naik tajam. Akibatnya industri kain dalam negeri terpuruk hingga menyababkan kebangkrutan maupun PHK di sektor industri tekstil.

Salah satu penyebab maraknya impor produk kain terutama dari Tiongkok adalah adanya Pusat Logistik Berikat (PLB). PLB sendiri ada karena keinginan pemerintah untuk menekan biaya distribusi yang relatif mahal di Indonesia. Namun demikian, PLB sendiri mempunyai dampak negatif yaitu lebih cepatnya produk impor masuk ke dalam pasar domestik.

Sistem pengecekan juga tidak seketat di pelabuhan biasa maka dari itu dapat disinyalir ada kebocoran impor produk tekstil. Hal ini diperkuat dengan temuan data ada selisih data berat ekspor produk tekstil dari Tiongkok (dicatat di Tiongkok) dan data berat impor produk tekstil dari Tiongkok (dicatat di Indonesia). Selain itu, biaya di PLB juga jauh lebih murah yang menyebabkan harga kain dari Tiongkok maupun dari negara lainnya jauh lebih murah.

Industri tekstil nasional saat ini butuh kebijakan yang notabene dapat meningkatkan kinerja industri dari dalam negeri, terutama untuk lebih meningkatkan utilitas kapasitas mesin yang sudah terpasang. Kebijakan-kebijakan berupa pengendalian impor menurut saya pribadi akan efektif membendung gempuran produk tekstil impor sehingga industri tekstil dalam negeri bisa kembali menggapai puncak kejayaan seperti tahun 2007.

BERITA TERKAIT

Pandemi, Momentum Mereset Ekonomi Nasional

Oleh: Sarwani Pengamat Kebijakan Publik Dunia usaha tengah mengambil ancang-ancang menyusun model bisnis baru pasca pandemi Covid-19. Langkah ini tidak…

Meningkatkan Geliat Ekonomi

Oleh: Airlangga Hartarto Menko Perekonomian Kebijakan pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan dimulainya akitivitas ekonomi pada era New Normal berdampak positif terhadap perekonomian…

Traffic Separation Scheme

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Traffic separation scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat…

BERITA LAINNYA DI

Pandemi, Momentum Mereset Ekonomi Nasional

Oleh: Sarwani Pengamat Kebijakan Publik Dunia usaha tengah mengambil ancang-ancang menyusun model bisnis baru pasca pandemi Covid-19. Langkah ini tidak…

Meningkatkan Geliat Ekonomi

Oleh: Airlangga Hartarto Menko Perekonomian Kebijakan pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan dimulainya akitivitas ekonomi pada era New Normal berdampak positif terhadap perekonomian…

Traffic Separation Scheme

  Oleh: Siswanto Rusdi Direktur The National Maritime Institute (Namarin)   Traffic separation scheme (TSS) di Selat Sunda dan Selat…