Laba Bersih Melonjak 175%, Dongkrak Penjualan 69%

Kinerja Antam 2010

Rabu, 02/03/2011

NERACA

Jakarta-PT Aneka Tambang Tbk (Antam) membukukan laba bersih (unaudited) tahun 2010 sebesar Rp1,663 triliun, atau naik 175% dibandingkan laba bersih pada 2009 yang sebesar Rp604 triliun. Laba bersih per saham Antam di 2010 tercatat Rp174,58 dibandingkan 2009 yang sebesar sebesar Rp63,46. "Kenaikan laba bersih perseroan terutama disebabkan peningkatan penjualan komoditas feronikel yang memiliki marjin lebih besar serta peningkatan harga komoditas," ujar Direktur Utama Antam Alwin Syah Loebis dalam keterangan tertulisnya yang diterimaNeraca, Selasa (1/3).

Alwin mengatakan, harga pokok penjualan Antam turun seiring penurunan penjualan logam mulia yang memiliki marjin kecil, setelah manajemen Antam menghentikan kegiatantradinglogam sejak awal 2010 untuk menurunkan risiko fluktuasi harga.

Kinerja keuangan Antam 2010 merefleksikan peningkatan signifikan kinerja penjualan komoditas utama feronikel serta peningkatan harga komoditas. “Tahun lalu, seluruh fasilitas operasi nikel kami berjalan optimal sementara operasi komoditas emas juga meningkat seiring pengoperasian tambang emas baru di Cibaliung (Banten)," tutur Alwin.

Dia menjelaskan, perseroan juga berhasil melakukan efisiensi sebesar Rp225,5 miliar sehingga tingkat biaya tetap terjaga. Sedangkan tahun ini, perseroan memprioritaskan dimulainya proyek-proyek hilir bernilai tambah seperti proyek Chemical Grade Alumina Tayan.

Nilai penjualan tidak diaudit Antam sebesar Rp8,745 triliun di 2010 tercatat naik dibandingkan nilai penjualan di 2009 yang berjumlah Rp8,711 triliun. Peningkatan ini disebabkan kenaikan tajam penjualan komoditas feronikel di 2010 yang berhasil menutupi penurunan volume penjualan dari kegiatan trading logam mulia yang dilakukan untuk menurunkan risiko fluktuasi harga.

Seiring dengan optimalnya operasi pabrik FeNi I, FeNi II dan FeNi III Antam, di 2010 volume produksi feronikel naik tajam 49% dibandingkan 2009 menjadi 18.688 ton nikel dalam feronikel (TNi). Optimalnya level produksi dan peningkatan permintaan menyebabkan volume. Penjualan komoditas feronikel naik 29% dibandingkan 2009 menjadi 18.254 TNi. Peningkatan volume penjualan ini didukung kenaikan harga jual rata -rata feronikel sebesar 49% dibandingkan 2009 menjadi US$10,12 per pon yang menyebabkan pendapatan dari feronikel naik tajam 71% dibandingkan 2009 menjadi Rp3,679 triliun.

Sementara itu, volume penjualan bijih nikel Antam juga melonjak sebesar 20% dibandingkan 2009 menjadi 5.863.840 wmt. Peningkatan ini juga didukung kenaikan harga jual rata-rata bijih nikel sehingga pendapatan dari komoditas bijih nikel naik 39% menjadi Rp2,364 triliun.

Secara keseluruhan, segmen usaha nikel Antam menyumbang 69% dari total penjualan Antam di 2010. Dengan dimulainya pengoperasian tambang emas baru Cibaliung, produksi emas Antam naik enam persen dibandingkan 2009 menjadi 2.776 kg.

Sementara itu, dari sisi volume penjualan, menyusul keputusan manajemen pada awal 2010 untuk menghentikan kegiatantradinglogam mulia yang memiliki marjin kecil dan menurunkan risiko fluktuasi harga, volume penjualan emas Antam turun 49% dibandingkan 2009 menjadi 6.561 kg.

Hal ini menyebabkan pendapatan dari komoditas emas turun 45% menjadi Rp2,354 triliun, meski harga jual rata-rata emas di 2010 naik 26%, dibandingkan 2009 menjadi US$1.227,47 per toz (troy ounce).

Suntik Dana Ke ICA US$ 140,5 Juta

Sebelumnya, perseroan memberikan pinjaman PT Indonesia Chemical Alumina (ICA) yang masih anak usahanya mencapai US$140,5 juta. Pinjamana itu memiliki tingkat bunga pinjaman ini sebesar 3,5% per tahun dan mulai dapat dimanfaatkan sejak tanggal 4 Februari 2011 dan akan jatuh tempo pada tanggal 30 Juni 2011.

Komitmen perseroan ini untuk memenuhi kewajiban keuangan ICA terkait dengan down payment dan konstruksi CGA Plant. Pinjaman digunakan juga untuk menghindari adanya wanperstasi terhadap kontrak EPC dan menghindari kemungkinan kenaikan pada harga proyek oleh kontraktor EPC.

Fasilitas ini untuk mendukung kewajian PTICA kepada konsorsium pembangunan proyek CGA Tayan Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat yang masih dalam tahap finalisasi pendanaan. Hal ini akan mendukung peningkatan produksi olahan komoditas bijih bauksit.

Perseroan mengharapkan output produksi sebesar 200.000 ton CGA akan digunakan SDK sebagai pengganti output CGA dari pabrik miliknya di Yokohama. Sementara 100.000 ton CGA akan dijual di pasar Indonesia.

Sebelumnya, perseroan menganggarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar Rp 3 triliun pada 2011. "Dana tersebut akan dibiayayai dari kas internal," ujar Direktur Utama ANTM Alwin S Lubis.

Belanja modal ini akan digunakan untuk pengerjaan proyek pembangkit listrik, proyek feronikel, dan proyek lainnya. Dana belanja modal akan didapatkan dari pinjaman bank dan internal. "Kita telah mendapatkan pinjaman dari JBIC dan bank lain," ujarnya.

Perseroan juga berpotensi untuk melakukan akuisisi tambang batu bara pada 2011. Tapi Alwinsyah masih enggan menyebutkan tambang yang akan diakuisisi. "Kalau ada yang bagus maka kita akan akuisisi tahun ini," kata Alwinsyah.

Selain itu, ANTM akan menggunakan dana ini untuk membiayai beberapa proyek. Salah satunya yakni proyek Tayan yang mulai kontruksi tahun depan. Selain itu, tahun depan ANTM juga akan melaksanakan proyek SGA yang memiliki nilai proyek US$ 1 miliar, Halmahera senilai US$ 1,4 miliar dan Mandiodo yang bernilai US$ 140 juta.

Dia mengakui, produksi emas mencapai 2,8-2,9 juta ton pada 2010. Emas memiliki kontribusi sekitar 30% kepada pendapatan perseroan.

Kemudian, per akhir Juni 2010, ANTM sudah berhasil memproduksi sekitar 1,5 ton emas. Padahal, target produksi tahun 2010 hanya 2,6 ton. Perusahaan pelat merah itu pun tengah menggarap proyek Chemical Grade Alumina (CGA) Tayan, Smelter Grade Alumina (SGA) Mempawah, PLTU Pomala, dan FeNi 4 Halmahera. "Kami berharap, proyek-proyek itu sudah bisa beroperasi 2014," patok Bimo Budi Satrio, Sekretaris Perusahaan ANTM. (ardi/bani)