Volume Transaksi di BBJ Tumbuh 49,26% - Ditopang Transaksi Bilateral

NERACA

Jakarta – Di tengah maraknya produk investasi bodong yang dinilai menghambat industri bursa berjangka, namun PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) mencatat pertumbuhan volume transaksi signifikan sepanjang kuartal pertama tahun ini. Dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, volume transaksi BBJ tumbuh 49,26% per akhir Maret lalu.

Berdasarkan data BBJ, total volume transaksi pada kuartal-I 2018 mencapai 5,14 juta lot. Volume ini terdiri dari transaksi bilateral sebesar 4,77 juta lot dan transaksi multilateral sebesar 369.000 lot. Dalam transaksi multilateral, kopi robusta menjadi komoditas dengan volume transaksi terbesar sebanyak 114.960 lot. Diikuti, emas berjangka 250 gram dan 100 gram yang masing-masing membukukan volume transaksi sebesar 78.684 lot dan 53.773 lot.

Sementara, single stock mencatat volume transaksi terbesar sebanyak 3,54 juta lot pada transaksi bilateral. Diikuti oleh transaksi komoditas emas Loco London sebesar 857.120 lot hingga Maret 2018. Direktur Utama BBJ Stephanus Paulus Lumintang menjelaskan, kenaikan volume transaksi ini disebabkan adanya fluktuasi harga komoditas yang terjadi sejak awal tahun.”Volatilitas yang dialami nilai tukar rupiah juga berpengaruh terhadap pergerakan harga komoditas, termasuk yang dihasilkan di Indonesia seperti kakao dan olein. Fluktuasi ini yang membuat animo investor meningkat," ujar Paulus di Jakarta, kemarin.

Hingga akhir tahun ini, Paulus menargetkan total volume transaksi di BBJ bisa tumbuh 10% mencapai angka 6 juta lot. Asal tahu saja, tahun lalu volume transaksi BBJ turun tipis dari 5,68 juta lot menjadi 5,5 juta lot. Paulus menyampaikan, potensi pasar derivatif di Indonesia masih begitu besar. Saat ini, jumlah akun nasabah BBJ masih di kisaran 112.000. Transaksi harian dari segi volume lot juga terbilang masih sangat minim. “Namun, kami optimistis menargetkan tahun ini transaksi over the counter (OTC) bisa mencapai 19.000 lot per hari. Kami sudah mencapai itu di kuartal pertama 2018," kata Paulus.

Paulus sendiri mengakui, sampai saat ini industri perdagangan berjangka masih dirasa kurang berkembang. Di tengah potensi pasar yang besar, masyarakat Indonesia masih sangat kurang informasi soal investasi derivatif. “Apalagi banyak perusahaan perdagangan berjangka yang dimiliki asing tanpa legalitas. Ini sangat mengganggu industri kita," ujar Paulus.

Dia menambahkan, munculnya persepsi masyarakat yang takut dengan investasi berjangka salah satunya disebabkan oleh maraknya penipuan atau biasa dikenal dengan investasi bodong. Pialang ilegal sangat mudah menggaet nasabah sebab modal yang dikeluarkan juga sedikit.”Sementara untuk jadi pialang resmi, ada aturan informasi Sistem Informasi Transaksi Nasabah (SITNA), menggunakan sistem Kliring Berjangka Indonesia (KBI), agar nasabah bisa memantau transaksinya," kata Paulus.

Untuk itu, Paulus mengimbau agar masyarakat betul-betul memahami terlebih dahulu serta mempelajari investasi yang diinginkan dalam perdagangan berjangka. Sangat penting juga untuk mengecek keabsahan pialang yang dituju ke regulator, yakni Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bapebbti).

BERITA TERKAIT

Pendapatan Bali Towerindo Tumbuh 42%

NERACA Jakarta - Di kuartal tiga 2018, PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI) membukukan kenaikan pendapatan usaha 42% menjadi Rp…

Laba Bersih Bersih MNC Studio Tumbuh 49% - Ditopang Rating Tinggi dan Iklan

NERACA Jakarta – Di kuartal tiga 2018, PT MNC Studios International Tbk (MSIN) mencatatkan laba bersih Rp168,1 miliar atau naik…

Secara Volume, Indonesia Eksportir Ikan Hias Terbesar Dunia

NERACA Bogor - Rifky Efendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Investor Papua Didominasi Kaum Milenial

Kepala kantor perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Papua Barat, Adevi Sabath mengatakan, investor pasar modal di Papua Barat didominasi oleh…

BEI Suspensi Perdagangan Saham SURE

Setelah masuk dalam kategori saham unusual market activity (UMA) atau pergerakan harga saham di luar kebiasaan, kini PT Bursa Efek…

Volume Penjualan Semen Baturaja Naik 38%

Hingga September 2018, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR) mencatatkan penjualan semen domestik tumbuh 38% dibandingkan dengan periode yang sama…