Pefindo Pangkas Peringkat MDLN Jadi A- - Arus Kas Dinilai Tidak Baik

NERACA

Jakarta – Dibalik agresifnya ekspansi bisnis properti PT Modernland Realty Tbk (MDLN), rupanya PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat perseroan dan obligasi berkelanjutan I tahun 2015 seri A serta seri B menjadi idA- dari sebelumnya idA. Informasi tersebut disampaikan Pefindo dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Dalam penjelasannya, disampaikan penurunan peringkat tersebut disebabkan tingkat leverage keuangan dan perlindungan arus kas perusahaan yang tidak membaik sesuai dengan yang diharapkan. Pefindo mencatat Modernland Realty tidak mencapai proyeksi pendapatan serta EBITDA (Earning Before Interest, Taxes, Depreciation, dan Amortization) yang disertai dengan tingkat utang yang lebih tinggi dari proyeksi tahun 2017.

Pada akhir 2017, perseroan memiliki rasio utang terhadap EBITDA dan rasio arus kas dari operasi terhadap EBITDA masing-masing sebesar 3,4 kali dan 15,3% atau relatif sama dengan kinerja perusahaan pada tahun 2015-2016. Obligasi berkelanjutan I tahun 2015 seri A senilai Rp 600 miliar akan jatuh tempo pada 7 Juli 2018. Perusahaan berencana untuk melunasi obligasi tersebut menggunakan dana internal. Pada 31 Desember 2017 MDLN memiliki saldo kas dan setara kas sebesar Rp 1 triliun.

Sejalan dengan penurunan peringkat tersebut, Pefindo merevisi prospek untuk peringkat perusahaan menjadi stabil dari negatif. Sedangkan peringkat idA mengindikasikan bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang kuat dibanding obligor lainnya dalam memnuhi komitmen keuangan jangka panjangnya.

Sedangkan tanda minus menunjukkan bahwa peringkat yang diberikan relatif lemah dan dibawah rata-rata kategori yang bersangkutan dengan obligor dan perusahaan lainnya. Secara keseluruhan, peringkat tersebut mencerminkan bahwa MDLN memiliki cadangan aset (lahan) yang besar, kualitas aset yang baik dan marjin profitabilitas yang baik. Namun, peringkat tersebut dibatasi dengan proteksi arus kas perusahaan yang lemah, konsentrasi proyek dan kurangnya recurring income, serta adanya resiko dari pengembangan proyek baru di lokasi baru.

Pefindo menyatakan, peringkat bagi MDLN tersebut dapat dinaikkan jika perusahaan secara konsisten mencapai target marketing sales, pendapatan serta EBITDA. Pencapaian tersebut juga harus disertai oleh tingkat leverage keuangan yang lebih konservatif yang ditandai oleh rasio utang terhadap EBITDA di bawah 2,75 kali secara berkelanjutan.

Peringkat MDLN akan dirurunkan kembali jika perusahaan membukukan marketing sales yang jauh dibawah proyeksi, serta apabila progress pembangunan properti residensial lebih lama dari perkiraan dan mengakibatkan pendapatan perusahaan yang tidak mencapai target. Peringkat juga dapat berada di bawah tekanan jika MDLN menambah jumlah utang lebih besar dari yang diproyeksikan, sehingga menyebabkan struktur permodalan menjadi lebih agresif dan ditandai oleh rasio utang terhadap EBITDA lebih besar dari 4,0 kali secara berkelanjutan.

BERITA TERKAIT

Unilever Bagikan Dividen Rp 6,9 Triliun - Buktikan Arus Kas Masih Positif

NERACA Jakarta – Hasil rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) memutuskan untuk membagikan dividen dari…

Jaksa Agung: Penanganan Korupsi Tidak Bisa Berjalan Sendiri

Jaksa Agung: Penanganan Korupsi Tidak Bisa Berjalan Sendiri NERACA Jakarta - Jaksa Agung HM Prasetyo menegaskan bahwa penanganan kasus korupsi…

OJK : Tidak Ada Penarikan Simpanan Besar-Besaran

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak mendeteksi adanya potensi penarikan dana simpanan nasabah secara besar-besaran,…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harum Energy Bagikan Dividen US$ 45 juta

Sukses membukukan kinerja positif dengan perolehan laba bersih melesat tajam, PT Harum Energy Tbk (HRUM) akhirnya memutuskan untuk membagikan dividen…

PTPN X Terbitkan MTN Rp 500 Miliar

PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menerbitkan "Medium Term Notes" (MTN) atau surat utang jangka menengah tahun 2018 senilai Rp500 miliar,…

Mitra Investindo Masuk Pengawasan BEI

Lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajaran, perdagangan saham PT Mitra Investindo Tbk (MITI) masuk dalam pengawasan PT Bursa…