Go-Jek Backdoor Listing TAXI Sulit Dilakukan - Sikapi Rumor Pasar

NERACA

Jakarta – Merebak kabarnya PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Jek) akan backdoor listing PT Express Transindo Utama Tbk (TAXI) ketimbang melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO), direspon langsung pihak PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dinilai sulit dilakukan.

Terlepas benar atau tidaknya kabar tersebut, kata Direktur BEI Samsul Hidayat, secara struktur backdoor listing agak sulit dilakukan oleh Go-Jek, karena valuasi Go-Jek yang sangat besar. "Kalau Go-Jek akan lebih mudah jika melakukan penawaran saham perdana alias initial public offering (IPO),"ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, secara struktur agak sulit menemukan perusahaan yang bisa melakukan rights issue sebesar valuasi Go-Jek. Melakukan pemindahan aset juga cukup sulit, lantaran aset Go-Jek juga cukup sulit dihitung. Menurut Samsul, saat ini aset yang dimiliki oleh Go-Jek tak sebesar valuasi Go-Jek di pasar. Sebagai gambaran, backdoor listing merupakan cara perusahaan non terbuka untuk masuk ke bursa dengan mengakuisisi perusahaan terbuka (tercatat di bursa). Sedangkan, initial public offering (IPO) adalah penawaran saham perdana kepada publik.

Pihak BEI sendiri, kata Samsul sudah mempersiapkan berbagai insentif untuk IPO start-up, antara lain adalah digodoknya aturan listing yang tidak hanya terpaku pada net tangible asset (NTA), namun juga dari sisi revenue. BEI masih mengkaji aturan tersebut dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Asal tahu saja, dampak dari rumor tersebut, tiga hari berturut-turut harga saham PT Express Transindo Utama Tbk melaju kencang. Bahkan, harga saham emiten jasa transportasi dengan kode saham TAXI ini naik hingga menyentuh batas atas persentase hariansehingga terkena penolakan otomatis alias auto rejection (AR). Tengok saja, pada perdagangan hari Jumat akhir pekan kemarin, harga saham TAXI naik 34,44% menjadi Rp 121 per saham. Dua hari sebelumnya, harga saham TAXI berturut-turut naik 34,55% dan 21,62%.

Meski Direktur Utama Express Transindo Utama Benny Setiawan telah membantah rumor tersebut, toh pasar tetap menanggapi positif rumor yang beredar. Bahkan, volume perdagangan saham TAXI selama tiga hari terakhir melonjak tajam. Sebelumnya, CEO Gojek Nadiem Makariem tidak membenarkan bahwa perusahaannya telah membeli 20% saham Blue Bird seperti rumor yang beredar.

Nadiem melanjutkan bahwa selama ini yang dilakukan perusahaan dengan Bluebird adalah kemitraan dan integrasi. Tidak ada bentuk investasi pada perusahaan penyedia taksi tersebut seperti yang dilakukan Grup Astra pada Gojek."Bluebird beda, partnership, integrasi fleed ke dalam teknologi kita. Kalau ini kan Astra investment," tambahnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi pihak Bluebird juga menyangkal perihal pembelian saham tersebut. Perusahaan pun tidak bersedia komentar mengenai rumor tersebut."Seperti yang sudah disampaikan Gojek, kami tidak menanggapi kabar yang masih sebatas isu," jelas Amelia Nasution, Direktur Marketing Blue Bird.

BERITA TERKAIT

CIMB Niaga Syariah Perluas Pasar KPR Syariah

    NERACA   Yogyakarta - Unit Usaha Syariah PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga Syariah) terus memperluas penetrasi…

Real Time Futures Bidik Investor Kalangan Milenial - Penetrasi Pasar Bursa Berjangka

NERACA Jakarta -Tingkat pertumbuhan transaksi perdagangan berjangka (futures trading) di Bursa Berjangka tergolong masih lambat jika dibandingkan dengan perdagangan saham…

KOTA DEPOK - Pedagang Pasar Kemiri Muka Tolak Eksekusi Lahan

KOTA DEPOK Pedagang Pasar Kemiri Muka Tolak Eksekusi Lahan  NERACA Depok - Para pedagang Pasar Kemiri Muka Kota Depok, Jawa…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Obligasi Indosat Oversubscribed 1,5 Kali

NERACA Jakarta –Penawaran obligasi yang dirilis PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo direspon pasar cukup positif yang ditandai dengan…

Taspen Tingkatkan Porsi RDPT Jadi 20%

NERACA Jakarta – Tahun ini, PT Taspen (Persero) mulai meningkatkan porsi investasi di sektor pasar modal melalui reksa dana penyertaan…

Laba Lippo Karawaci Terkoreksi 30,39%

NERACA Jakarta - Lesunya bisnis properti di 2017, memberikan dampak terhadap kinerja keuangan PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR). Dimana emiten…