Bunga Tinggi, Investor Beralih Ke Obligasi Dan Reksadana

Neraca

Medan – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif, banyak memicu investor mengalihkan portofolio investasi di depositi ke obligasi dan reksadana. Alasannya, bunga dan keuntungan obligasi dinilai tinggi ketimbang nabung di bank.

Oleh karena itu, kata SVP and Head of Wealth Management HSBC, Steven Suryana, potensi nasabah obligasi dan danareksa di Indonesia masih cukup besar karena hingga dewasa ini masyarakat masih cenderung berinvestasi di instrumen konvensional, yakni tabungan dan deposito. "HSBC melirik peluang itu apalagi memang dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup bagus, investasi khususnya di pasar uang dan saham dinilai akan menguntungkan,”katanya kemarin.

Dia mengatakan hal itu menjelang Seminar Economic Outlook 2012 yang digelar HSBC untuk para nasabah bank tersebut di Medan. Menurut dia, hasil survei yang dilakukan HSBC di delapan negara, masyarakat Indonesia masih cenderung menyukai atau memilih inevestasi dalam bentuk tabungan dan deposito atau dalam bentuk emas.

Namun hal yang menggembirakan, adanya peningkatan jumlah "middle class" berusia muda atau rata-rata 38 tahun dan menyadarai pentingnya berinvestasi. Fakta-fakta tentang perkembagan perekonomian Indonesia dan secara global diharapkan membuat nasabah semakin bisa menentukan pilihan tepat bagi investasinya.

Sementara itu, Vice President Investment Sales and Communication HSBC, Jeffry Lomanto, menyebutkan, Indonesia dianggap sebagai tempat investasi yang menarik karena konsumsi yang tinggi menyusul jumlah penduduknya yang banyak dan ditambah pendapatan masyarakatnya yang semakin tinggi.

Investasi ke negara berkembang seperti Indonesia juga dilakukan pemodal asing karena mempertimbangkan bahwa pemerintah negara itu masih lebih leluasa membuat berbagai kebijakan yang menguntungkan atau melindungi investor atau pengusaha dari kemungkinan kerugian. "Perekonomian Indonesia di 2012 masih tidak terlalu berbeda dengan 2011 sehingga Indonesia tetap menjadi pilihan investasi,"ungkapnya .

Memang investor pasti lebih berhati-hati dibandingkan 2011 karena Indonesia tidak kebal dari dampak krisis di Amerika Serikat dan Eropa. Apalagi nyatanya, krisis di dua negara itu belum selesai sehingga berpotensi terjadi gagal bayar utang dan berdampak pada lemahnya permintaan di pasar. "Yang pasti, perekonomian Indonesia diperkirakan masih lumayan bagus sehingga nasabah memang harus bisa memanfaatkan peluang itu dengan memilih investasi yang tepat dan manajemen HSBC siap membantu,"janjinya. (bani)

BERITA TERKAIT

Kebijakan Suku Bunga Bakal Dipengaruhi Dolar

    NERACA   Jakarta - Kebijakan suku bunga nasional mendatang dinilai sangat dipengaruhi nilai penguatan mata uang dolar Amerika…

Manulife Sebut Pasar Obligasi Masih Positif

  NERACA   Jakarta - PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) memandang beberapa faktor positif dari domestik masih akan terus…

Jelang Natal dan Tahun Baru, PLN Area Sukabumi Gelar Apel Siaga

Jelang Natal dan Tahun Baru, PLN Area Sukabumi Gelar Apel Siaga NERACA Sukabumi - Jelang Natal dan Tahun Baru, PLN…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pasok Permintaan PLN - DWGL Kejar Produksi 8 Juta Ton Batu Bara

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan saham perdananya di pasar modal pada perdagangan Rabu (13/12), PT Dwi Guna Laksana Tbk (DWGL)…

Samindo Anggarkan Capex US$ 13,8 Juta

NERACA Jakrta - Tahun depan, PT Samindo Resources Tbk (MYOH) perusahaan penyedia jasa pertambangan batu mengalokasikan capex sebesar US$ 13,8…

Permintaan Ban TBR Meningkat - GJTL Genjot Produksi Jadi 3.500 Ban Perhari

NERACA Jakarta - Mengandalkan pasar ekspor dalam menggenjot pertumbuhan penjualan, PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) terus meningkatkan kapasitas produksi dan…