Sky Energy Bidik Pendapatan Rp 539 Miliar - Lepas 203 Juta Saham Ke Publik

NERACA

Jakarta – Tahun ini, PT Sky Energy Indonesia Tbk menargetkan pendapatan sebesar Rp539 miliar dan Rp627 miliar pada tahun 2019. Sementara itu, margin laba tumbuh sebesar 7% dan membaik menjadi 8% dalam tiga tahun mendatang. “Margin laba pada industri modul surya tidak lebih dari dua digit,” kata Direktur Keuangan PT Sky Energy Indonesia Tbk, Christoper Liawan di Jakarta, Selasa (20/2).

Guna mendukung target itu, jelas dia, perseroan akan menambah kapasitas produksi modul surya dari 100MWp menjadi 200 MWp. Hal itu seiring beroperasinya pabrik modul surya yang baru, dengan kapasitas produksi 100 MWp pada tahun 2019.“Kami harap pabrik baru akan beroperasi pada tahun 2019,”ujarnya.

Lebih lanjut Liawan menjelaskan, untuk membangun pabrik baru tersebut, perseroan menggelontorkan dana sebesar Rp228 miliar. Rinciannya, Rp110 miliar untuk pembebasan lahan, Rp37 miliar guna pembangunan bangunan pabrik dan Rp81 miliar untuk mesin produksi. Nantinya, pabrik baru ini akan memiliki kapasitas produksi 100 MWp pertahun.

Sementara itu, lanjut dia, sumber dana belanja modal itu akan berasal dari hasil penawaran saham perdana dan pinjaman bank. Dimana 60%-nya berasal dari pinjaman perbankan. Perseroan saat ini tengah melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) dengan melepas 203.256 juta lembar saham baru yang mewakili 20% dari modal disetor dan ditempatkan, pada harga Rp375 hingga Rp450 perlembar.“Sehingga perseroan berpotensi meraup Rp76,2 miliar hingga Rp91,5 miliar,” kata dia.

Dengan harga penawaran tersebut, price earning ratio (PER) tahun 2018 akan berada pada rentang 12,3 kali hingga 14,75 kali . Sedangkan PER industri sejenis dikawasan Asia Tenggara berada pada 24 kali. Masa penawaran awal IPO ini berlangsung pada 8 Februari 2018-28 Februari 2018. Sementara ini, masa penawaran umum akan dilangsungkan pada 15 Maret 2018-21 Maret 2018.

Direktur Utama sky Energy Jackson Tandiono bilang, seluruh dana dari IPO ini akan digunakan untuk belanja modal. Rinciannya, akan digunakan untuk pembelian mesin dan peralatan seiring dengan pengembangan kegiatan usaha, pembelian tanah, dan penambahan area produksi. "Pertimbangan dilakukannya ini adalah untuk menambah kapasitas produksi sehubungan bertambahnya permintaan dari dalam dan luar negeri, " tutur Jackson.

Sebagai informasi, Sky Energy adalah produsen modul surya. Kapasitas produksi Sky Energy saat ini adalah sebesar 100 MW modul surya (solar panel) dan 50 MW sel surya (solar cell).

BERITA TERKAIT

Lunasi Utang US$ 200 Juta - XL Axiata Rencanakan Refinancing di 2019

NERACA Jakarta – Mengurangi porsi beban utang, PT XL Axiata Tbk (EXCL) bakal bayar utang senilai US$ 200 juta hingga…

BEI Suspensi Saham Perdana Bangun

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi atau penghentian sementara perdagangan saham PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) setelah sebelumnya…

Perumnas Terbitkan MTN Rp 300 Miliar

Danai pengembangan bisnisnya, Perusahaan Umum Pembangunan Perumahan Nasional (Perumnas) akan menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Industri di Papua Berpeluang Go Public

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Jayapura berupaya mendorong pelaku industri di Papua untuk mengakses permodalan dari pasar modal untuk…

Restrukturisasi TAXI Disetujui Investor

Berdasarkan hasil rapat umum pemegang obligasi (RUPO) PT Express Trasindo Utama Tbk (TAXI), para pemegang obligasi akhirnya menyetujui paket restrukturisasi…

Bidik Generasi Milenial - Chubb Life Luncurkan Platform Digital

NERACA Jakarta – Penetrasi pasar asuransi di Indonesia, PT Chubb Life Insurance Indonesia (Chubb Life) meluncurkan platform online bernama Chubb…