GMF AeroAsia Anggarkan Capex US$ 127 Juta - Danai Ekspansi Bisnis

NERACA

Jakarta – Guna memuluskan rencana ekspansi bisnis, tahun ini PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI) mempersiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang cukup besar. Disebutkan, belanja modal tahun ini sebesar US$ 127 juta merupakan yang terbesar yang pernah dianggarkan perseroan.

VP Corporate Secretary GMF, Mohamad Arif Faisal dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin mengatakan, untuk memenuhi belanja modal tersebut perseroan mengandalkan beberapa pendanaan seperti hasil IPO yang belum terpakai. Selain itu, GMFI mengandalkan pendanaan dari strategic investor yang akan melakukan private placement di kuartal 1 dan pinjaman dari bank.

Nantinya belanja modal tersebut bakal dipakai untuk melakukan akuisisi dan joint venture. Meski enggan menjelaskan rencana bisnis tersebut, Arif menyebut ada beberapa perusahaan yang ingin bekerja sama dengan GMFI dari beberapa global footprint. Lanjut Arif, sejumlah pemrintah juga mulai melirik kerja sama dengan GMFI. Bahkan, Arif bilang, ada pendekatan yang berasal dari pemerintah daerah di wilayah Korea Selatan.

Sebagai informasi, sejak mencatatkan saham perdananya di pasar modal tahun 2017 kemarin, anak usaha dari PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk ini berambisi untuk ekspansi ke luar negeri yang akan melibatkan bengkel pesawat di negara tujuan dan pihak swasta. Dengan dilakukannya ekspansi ke luar negeri, diharapkan memperluas bisnis bengkel pesawat GMFI.”Di luar negeri kita tidak sendiri, kita ada kerja sama lokal partner MRO, atau public sector di luar negeri memperluas pasar kami di luar dan sekaligus mendekatkan diri layanan kami ke luar," kata Iwan Juniarto, Direktur Utama GMF.

Perseroan berhasil menghimpun dana IPO sebesar US$ 83,5 juta atau senilai Rp. 1,129 Triliun. Sebesar 60% dana IPO ini akan digunakan untuk kebutuhan ekspansi GMF, 25% untuk modal kerja dan sisanya untuk refinancing. Di tahun 2018 ini, dana IPO akan dikonsentrasikan untuk belanja modal dalam rangka pengembangan kapabilitas, kapasitas dan inisiatif inorganik perseroan. Komposisi investor datang dari investor institusi maupun perorangan baik lokal maupun asing. Dengan kondisi ini kepemilikan saham GMF oleh induk usaha yang semula sebesar 99% berubah menjadi 89,1%, sedangkan Aerowisata yang memiliki 1% saham GMF menjadi 0,9% dan sisanya dimiliki publik.

Belum lama ini, perseroan menandatangani kontrak Strategic Partnership untuk international footprint di Australia dengan KORR Group. Dalam penandatanganan kontrak ini, GMF dan KORR Group sepakat untuk bekerja sama dalam pengerjaan Line Maintenance untuk pesawat tipe Boeing 737, Boeing 787, Airbus A320, dan Airbus A330.

BERITA TERKAIT

Buyback 9,29 Juta Saham - Arwana Realisasikan Dana Rp 3,29 Miliar

NERACA Jakarta – Perusahaan keramik, PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) telah membeli kembali 9,29 juta saham lewat aksi korporasi buyback.…

Overburden Capai 55 Juta Ton - Samindo Klaim Produksi Lampaui Target

NERACA Jakarta -PT Samindo Resources Tbk (MYOH) telah merampungkan operasional overburden dan produksi tahun lalu dengan capaian melebihi target. Disebutkan,…

Program B20 Hemat Impor Solar Hingga US$937,84 juta

      NERACA   Jakarta - Kebijakan pencampuran Bahan Bakar Nabati (BBN) berupa biodiesel sebesar 20 persen (B20) ke…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Harga Saham Melorot Tajam - Saham Cottonindo Masuk Pengawasan BEI

NERACA Jakarta - Perdagangan saham PT Cottonindo Ariesta Tbk (KPAS) masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) karena mengalami…

Kuras Kocek Rp 460,38 Miliar - TBIG Realisasikan Buyback 96,21 Juta Saham

NERACA Jakarta - Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) telah membeli kembali atau buyback saham dari…

KINO Akuisisi Kino Food Rp 74,88 Miliar

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) akan menjadi pemegang saham pengendali PT Kino Food Indonesia. Rencana itu tertuang dalam perjanjian Jual…