Menjadikan Industri Nasional Pemenang di Negeri Sendiri - Indonesianisme Summit 2017

NERACA

Jakarta - Ketua Umum pengurus pusat IA-ITB Ridwan Djamaluddin mengatakan lemahnya penguasaan teknologi, penguasaan merek dan penguasaan pasar menyebabkan Indonesia menjadi pasar yang empuk bagi bangsa lain.

“Karena itu, dibutuhkan aksi terpadu sinergis dan miltansi keberpihakan, baik dari masyarakat bangsa ataupun pemerintah Indonesia untuk menjadikan industri Indonesia menjadi pemenang baik di negeri sendiri maupun di dunia,” ungkap Ridwan saat acara Indonesianisme Summit 2017 di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Sebagai langkah nyata dari keinginan tersebut, Ridwan menginginkan Ikatan Alumni (IA) ITB sebagai wadah alumni institusi pendidikan teknik tertua di Indonesia berinisiatif menggelar forum Indonesianisme Summit 2017, bertujuan membangkitkan semangat penguasaan teknologi, industri dan manufaktur melalui aksi terpadu sinergis dan militansi keberpihakan hasil-hasil karya industri anak bangsa demi memperkuat brainware bangsa.

Lebih lanjut Ridwan mengatakan forum ini wujud IA-ITB untuk berkontribusi dalam memperkuat kedaulatan dan kemakmuran ekonomi Indonesia dengan mendorong perkuatan di bidang penguasaan teknologi, manufaktur dan infrastruktur. Harapannya agar Indonesia menjadi bangsa pemenang di sektor industri.

Di tempat yang sama, sekretaris Jenderal PP ITB sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Indonesianisme Summit 2017 Gembong Primadjaja mengatakan, untuk mendorong pemenangan industri, IA ITB berharap acara ini dapat dijadikan ajang untuk saling bertukar informasi dan pemikiran antara pemerintah, korporasi dan institusi pendidikan serta menjadi ajang pertemuan bisnis antara korporasi dan teknopreneur. "Acara Indonesianisme Summit 2017 akan berisi paparan pandangan industri 2018, memberikan kesempatan pada korporasi dan teknopreneur untuk menjelaskan karya-karya yang sudah mereka lakukan di bidang-bidang yang vital untuk dikuasai," katanya.

Gembong menjelaskan, industri tersebut sangat vital untuk kedaulatan dan keberlangsungan hidup serta memenangkan persaingan di dunia berdasarkan prinsip-prinsip Indonesianisme atau keberpihakan pada Indonesia. "Bidang-bidang tersebut di antaranya yakni industri energi, industri transportasi dan infrastruktur, industri pangan dan obat serta industri digital kreatif." terang dia.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Pandjaitan menyatakan penyerapan tenaga kerja dari lapangan kerja berbagai negara industri mulai menyusut akibat kemajuan teknologi.

Luhut mencontohkan Amerika Serikat yang total working hours-nya menurun tapi produkstifitasnya naik karena mereka sudah pakai artificial intelligence. "Teknologi sudah mengubah banyak struktur penciptaan lapangan kerja industri,” ujarnya.

Perkembangan digitalisasi, menurut Luhut Pandjaitan, bakal semakin banyak mengubah struktur penciptaan lapangan kerja ke depan. Industri manufaktur di dunia pun mulai mengedepankan teknologi robotic yang lebih efisien ketimbang tenaga kerja. “Banyak pekerjaan yang dapat tergantikan software,” ujarnya.

Rektor ITB Kadarsyah Suryadi memperkirakan pada sebanyak 60 persen tenaga kerja yang tersedia saat ini dapat tergantikan sistem otomasi robotic dan komputer pada 2030. Hanya saja, pada 2025 terdapat sebanyak 50 persen kesempatan kerja di dunia yang belum tersedia saat ini. "Artinya memang ada lapangan kerja yang hilang karena otomasi. Tapi sistem otomasi robot itu juga menciptakan peluang kerja baru,” katanya.

Dalam dua dekade ke depan, menurut Kadarsyah, resources yang diperebutkan dunia merupakan pekerja usia produktif. Sementara itu, komposisi pekerja usia produktif di dalam populasi global pada 2035 mendatang diperkirakan hanya mencapai separuh angka saat ini. “Artinya apa? Dalam dua dekade lagi, resources yang diperebutkan dunia adalah tenaga kerja generasi muda,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik mencatat peranan industri pengolahan nonmigas terhadap PDB Indonesia mencapai 17,76 persen pada kuartal ketiga tahun ini. Industri manufaktur menyumbang peranan tertinggi ketimbang sektor lain seperti pertanian dan perdagangan. Pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada periode yang sama tercatat sebesar 5,49 persen, atau mulai melesat lebih tinggi ketimbang pertumbuhan ekonomi nasional 5,06 persen.

Kadarsyah berpendapat, peranan industrialisasi terhadap PDB nasional perlu terus ditingkatkan lantaran pembentukan devisa RI masih bergantung kepada ekspor komoditas. “Industri perlu menyumbang kontribusi yang lebih tinggi terhadap ekonomi,” ucapnya.

BERITA TERKAIT

SBP PTPP Solusi Pendanaan Berkelanjutan - Pionir di Industri Keuangan

NERACA Jakarta – Rencana PT PP (Persero) Tbk (PTPP) menerbitkan surat berharga perpetual (SBP) melalui Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT)…

Revolusi industri 4.0 Layu Sebelum Berkembang

  Oleh: Bhima Yudhistira Adhinegara Peneliti INDEF   Charles Schwab yang mempopulerkan kosa kata Revolusi Industri 4.0 menjelaskan bahwa perubahan…

Kemenperin Terus Pacu Industri Fesyen Muslim Nasional Jadi Kiblat Dunia

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) Gati Wibawaningsih mengatakan industri busana muslim terus merangkak naik seiring…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Dunia Usaha - Disiapkan, Pelatihan Implementasi Industri 4.0

NERACA Jakarta – Pemerintah tengah menyiapkan program pelatihan mengenai implementasi Industri 4.0 kepada pegawai di lingkungan pemerintahan, Badan Usaha Milik…

Industri Kecil dan Menengah - Kemenperin Pacu IKM Agar Go Global dan Go Digital

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian fokus dalam pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) karena telah lama berperan penting menopang perekonomian…

Teknologi Industri Berperan Penting Dongkrak Daya Saing

NERACA Jakarta – Balai penelitian dan pengembangan (litbang) industri di lingkungan Kementerian Perindustrian selama ini mengambil peran dalam upaya mendongkrak…