e-Smart IKM Berikan Kemudahan Pengembangan Usaha

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM), Gati Wibawaningsih mengungkapkan pihaknya terus mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing IKM melalui program e-Smart IKM, yang diharapkan pula akan membantu penyerapan tenaga kerja dan pengentasan kemiskinan.

“Dengan mendorong para pelaku IKM, terutama mereka yang berada di sentra-sentra agar masuk ke dalam marketplace, diharapkan dapat memberikan akses pasar yang lebih luas sehingga akan memudahkan pelaku IKM untuk mengembangkan usahanya,” ujar Gati usai membuka pameran produk IKM Expo 9. yang terselenggara atas kerjasama Kemenperin dan Kadin Jakarta, di kantornya, Selasa (5/12)

Menurut Gati, selain memacu para pelaku IKM nasional agar bisa bertransaksi di pasar online seiring dengan perkembangan ekonomi digital dan memperluas akses pemasaran produk-produknya, program e-Smart IKM ini nantinya dapat membantu Ditjen IKM Kemenperin dalam membuat program lanjutan untuk mendukung penumbuhan dan pengembangan IKM di Indonesia ke depannya. “Guna memperkuat IKM agar selalu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, kami senantiasa mengupayakan berbagai hal dalam mengatasi tantangan utama IKM yang berasal dari modal, bahan baku dan pemasaran,” tukas Gati.

Hingga saat ini, masalah permodalan masih selalu membayangi IKM. Untuk itu, Gati akan terus melakukan sosialisasi mengenai Kredit Usaha Rakyat (KUR) di berbagai daerah. Selain itu, Kemenperin juga terus mendukung program pemerintah dalam pembiayaan permodalan IKM dalam bentuk Financial Technology (Fintech) dan berbagai bentuk pendanaan lainnya baik dari lembaga perbankan maupun non perbankan.

"Kemudian, mengenai pasokan bahan baku, Kemenperin juga sedang mengupayakan kemudahan akses bahan baku dan bahan penolong bagi IKM melalui pembertukan Material Center," ungkapnya.

Lebih lanjut, Gati mengatakan saat ini sedang menyusun konsep pembentukan material center (pusat bahan baku) bagi pelaku IKM Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan bahan baku impor seperti benang dan kain sutera.

“Untuk itu, sektor hulu dan hilir perlu bersinergi untuk kembali membangkitkan industri TPT kita. Salah satunya industri persuteraan alam nasional, karena Indonesia memiliki potensi yang besar untuk mengembangkannya,” ujarnya.

Indonesia merupakan produsen sutera terbesar ke-9 di dunia. Adapun daerah yang menjadi basis industry persuteraan alam adalah Sulawesi Selatan (Sopeng, Wajo, dan Enrekang), Jawa Barat (Garut, Sukabumi, Majalaya, Cianjur), Gorontalo, dan Pati (Jawa Tengah).

“Saat ini, Ditjen IKM sedang menyusun konsep pendirian material center IKM yang bersinergi dengan industri tekstil dalam negeri. Sebagai pilot project akan mendirikannya di Semarang untuk komoditi pakaian jadi dan batik,” tukas Gati.

Pentingnya sinergi sektor hulu dan hilir sangat penting bagi pengembangan industri persuteraan alam. Menurut Gati hal ini perlu dilakukan sebagai upaya penguatan rantai nilai industri, sehingga kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri dan stabilitas harga bahan baku dapat dikendalikan.

“Salah satu contoh sinergi yang telah dilakukan dalam rangka pengembangan IKM tenun di Timor Tengah Selatan (TTS),” jelasnya. Pada bulan Mei 2017, Ditjen IKM telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Kementerian Pertanian dan Bupati TTS dalam rangka penyediaan bahan baku kapas bagi IKM Tenun di TTS.

Gati mengatakan Komitmen ini sudah berjalan dan pada awal November telah dilakukan pemanenan kapas untuk yang pertama kalinya dan diuji coba untuk produksi bahan baku benang untuk kain tenun. Kami berharap hal serupa dapat dilakukan juga untuk pengembangan industri persuteraan alam ini

Sekedar informasi, sebanyak 1.630 industri kecil dan menengah (IKM) telah mengikuti workshop program e-Smart IKM hingga November 2017. Loka karya yang dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal IKM Kementerian Perindustrian ini bertujuan untuk memberikan bimbingan teknis kepada pelaku IKM nasional mengenai pemanfaatan teknologi digital yang dilatih para tenaga ahli dari marketplace dalam negeri. Jumlah tersebut melampaui target yang ditetapkan pada tahun 2017 sebanyak 1.000 IKM.

BERITA TERKAIT

Pemkab Lebak Miliki Aplikasi "Smart City"

Pemkab Lebak Miliki Aplikasi "Smart City" NERACA Lebak - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak miliki aplikasi publik berbasis "smart city" guna…

Strategi Kemitraan Upaya Efektif Bangun IKM Otomotif Mandiri

NERACA Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan strategi kemitraan merupakan salah satu upaya yang paling efektif untuk membangun IKM…

Jelang Tutup Tahun, JICT Tetap Komitmen Berikan Layanan Terbaik

Jelang Tutup Tahun, JICT Tetap Komitmen Berikan Layanan Terbaik NERACA Jakarta - Jelang tutup tahun, bukan berarti kegiatan semakin sepi…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Kecil dan Menengah - Pemerintah Pacu Daya Saing IKM Lewat Platform Digital E-Smart

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) nasional agar memanfaatkan platform digital e-Smart…

Akuakultur - KKP Realisasikan Asuransi Untuk Pembudidaya Ikan Kecil

NERACA Jakarta- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) merealisasikan program Asuransi Perikanan bagi pembudidaya ikan kecil. Program tersebut merupakan kerjasama antara…

Proyeksi Kebutuhan Gula Industri 3,6 Juta Ton di 2018

NERACA Jakarta - Direktur Jenderal Agro Kementerian Perindustrian, Panggah Susanto memperkirakan konsumsi gula mentah untuk kebutuhan industri mencapai 3,6 juta…