Industri Pasar Modal Diyakini Tetap Tumbuh - Dibayangi Risiko Politik di 2018

NERACA

Jakarta - Pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang bakal dilakukan serentak di 171 daerah pada tahun depan, rupanya mendapat kekhawatiran pelaku pasar modal akan dampaknya terhadap sentimen negatif di pasar. Namun menurut analis pasar modal Binartha Sekuritas, Reza Priyambada, kinerja industri pasar modal di 2018 optimis tetap tumbuh dibandingkan tahun sebelumnya, meski dibanyangi risiko politik,”Hingar-bingar politik di dalam negeri memang akan membuat investor berhati-hati. Namun, kinerja pasar modal tetap akan tumbuh seiring dengan ekonmi nasional," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Pada 2018, dia mengatakan bahwa terdapat pelaksanaan Pilkada secara serentak, serta manuver politik menjelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Di tengah situasi itu, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan terkonsolidasi.”Potensi IHSG naik cukup terbuka hingga semester pertama tahun depan. Memasuki semester kedua akan konsolidasi karena dipengaruhi oleh hingar bingar politik. Namun, biasanya hanya bersifat jangka pendek, apalagi kalau semua asumsi berlangsung aman-aman saja," tuturnya.

Dirinya juga menyampaikan optimistis agenda politik itu akan berjalan kondusif sehingga pertumbuhan ekonomi nasional dapat tumbuh sesuai target pemerintah sekitar 5,4%. Tengok saja, pada pilkada sebelumnya, atau pemilu tahun 2004, 2009, dan 2014 lau, kinerja IHSG tetap positif. Sementara Direktur Utama BEI, Tito Sulistio pernah bilang, situasi politik yang sedang terjadi di dalam negeri menjelang Pilkada serentak tidak memengaruhi industri pasar modal domestik.”Secara historis, kondisi politik dalam negeri tidak berdampak ke pasar saham. Memang banyak yang bilang situasi politik akan mengganggu, tapi tidak bagi pasar modal,”tandasnya.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa salah satu yang perlu diantisipasi di sektor keuangan pada tahun politik 2018, yakni potensi penarikan dana dari sektor keuangan, termasuk pasar modal.”Agenda itu berdekatan juga dengan pembayaran pajak, ini yang harus diantisipasi. Tapi kalau sentimen politik, tidak akan pengaruh,”tegasnya.

BERITA TERKAIT

Sido Muncul Menaruh Asa Penjualan Tumbuh 10% - Perluas Pasar dan Produk Baru

NERACA Surabaya – Masih terjaganya daya beli masyarakat menjadi keyakinan PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) bila…

Tujuan Perluasan Ganjil Genap Sukseskan Asian Games 2018

  Oleh : Rima Putri, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia (LSISI) Asian Games menjadi acara yang ditunggu-tunggu di…

PP Properti Raih Penghargaan HANI 2018 - Apartemen Bebas Narkoba

NERACA Jakarta – Sebagai bentuk dukungan terhadap pemberantasan narkoba, pengembang PT PP Properti Tbk (PPRO) mengambil peran dengan menerapkan konsep…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

WTON dan WEGE Raih Kontrak Rp 20,22 Triliun

NERACA Jakarta – Di paruh pertama 2018, dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan total kontrak yang akan…

Gelar Private Placement - CSAP Bidik Dana Segar Rp 324,24 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnis, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) berencana melakukan penambahan modal tanpa…

Luncurkan Dua Produk Dinfra - Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…