Sumber Daya Harus Disiapkan Sambut Investment Grade

Jumat, 27/01/2012

Jakarta – Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Goeritno mengatakan pemerintah dan masyarakat harus mempersiapkan sumber daya yang diperlukan untuk menyambut investasi infrastruktur berkaitan dengan diperolehnya investment grade oleh Indonesia.

“Saat ini kebutuhan pembiayaan infrastruktur berdasarkan minimum 5% dari PDB tahun 2010-2014 sebesar Rp 1.924 triliun,” katanya kemarin. Bambang mengatakan hal itu dalam temu wartawan bertema Kesiapan Sumber Daya Konstruksi Nasional Menyambut Investasi Infrastruktur 2012 di Kementerian Pekerjaan Umum, kemarin.

Menurut Bambang, dari jumlah tersebut kemampuan pemerintah hanya sebesar Rp 560 triliun (termasuk DAK), serta potensi pendanaan lain (BUMN, swasta dan APBD) sebesar Rp 1.041 triliun.

“Dengan demikian untuk mencapai target angka pertumbuhan ekonomi minimal 7% pada akhir 2014, masih terdapat kesenjangan pembiayaan sebesar Rp 323 triliun, sehingga diharapkan peran pemerintah dan swasta lebih ditingkatkan,” katanya.

Menurut dia, untuk pekerjaan di sektor ke-PU-an, anggaran Kementerian PU pada 2012 mencapai sekitar Rp 62 triliun, lebih tinggi daripada tahun lalu yang mencapai sekitar Rp 56 triliun.

Bambang mengatakan kenaikan anggaran serta adanya tahun Investasi Infrastruktur , tidak hanya menjadi peluang namun juga menjadi tantangan yang memerlukan keispan pelaku jasa konstruksi nasional dan pemerintah.

“Salah satu faktor pendukung yang harus dipersiapkan pemerintah tersebut adalah ketersediaan material dan peralatan sektor konstruksi. Dari data dan kecenderungan yang ada kenaikan, kebutuhan akan material dan peralatan mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.”

Salah satu fajta akan Material Peralatan Konstruksi di Indoneia adalah bahwa tidak semua material dan peralatan dapat disediakan dari produksi dalam negeri. Misalnya saja untuk semen dan baja, produksinya masih lebih tinggi daripada konsumsi, dengan asumsi pada 2011 produksi semen 56,8 juta ton dan konsumsi 47,99 juta ton. Sedangkan produksi baja pada 2011 sebesar 18,9 juta ton dan konsumsi 10,36 juta ton.

“Dengan demikian kebutuhan semen dan baja masih bias dipenuhi dari dalam negeri,” katanya.

Namun untuk aspal, katanya, pada 2011 Pertamina hanya bias memasok sebesar 600.000 ton, sementara konsumsi mencapai 1,2 juta ton.

Demikian juga dengan kebutuhan alat berat yang belum mencukupi, dengan prediksi pada 2012 ketersediaannya sebesar 47.550 unit, namun kebutuhan mencapai 210.240 unit.

Menurut dia, yang perlu dicermati adalah pada 2012 dengan adanya Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) diperkirakan kebutuhan semen marjinal mencukupi, baja mencukupi namun kritis, serta aspal dan peralatan konsturksi nasional tidak mencukupi.

“Dengan demikian supply –demand material dan peralatan konstruksi nasional harus segera dibenahi dengan memperhitungkan potensi dalam negeri dan kebutuhan akan investasi ,” katanya.

Menurut dia, potensi dalam negeri tersebut salah satunya dengan memaksimalkan pengelolaan aspal di Pulau Buton. Tentunya usaha ini memerlukan dukungan dari pihak-pihak terkait.