Lorena Masih Sisakan Dana IPO Rp 16 Miliar

NERACA

Jakarta – Sejak mencatatkan sahamnya di pasar modal 2014 kemarin, PT Eka Sari Lorena Transport Tbk (LRNA) menyisakan dana penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) sebesar Rp 16 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

LRNA telah menggunakan dana IPO sebesar Rp 111,42 miliar. Dana tersebut di antaranya digunakan untuk pengembangan investasi baru bis AKAP dan rekondisi bus lama sebesar Rp 103,07 miliar. Lalu dana juga digunakan untuk perbaikan infrastruktur depo busway Transjakarta di Ceger Jakarta Timur sebesar Rp 4,52 miliar, dan dana lainnya digunakan untuk modal kerja sebesar Rp 3,82 miliar.

Sebelumnya direncanakan dana sebesar Rp 103,21 miliar setara 81% dana IPO, untuk pengembangan investasi baru bis AKAP, APTB, BKTB dan rekondisi bus lama, lalu Rp 20,38 miliar atau setara 16%, untuk fasilitas atau infrastruktur Depo dan Workshop Busway Transjakarta di Ceger, Jakarta Timur, dan Rp 3,82 miliar atau setara 3% digunakan untuk modal kerja. Sehingga totalnya mencapai Rp 127,42 miliar.

Artinya, sejak IPO hingga saat ini LRNA telah menggunakan dana IPO 87,44%. Sebab, pada perhelatan IPO, LRNA mengantongi dana bersih IPO sebesar Rp 127,42 miliar. Sebagai informasi, Eka Sari Lorena Transport tengah mengembangkan strategi bisnis dengan merubah “business model” dari layanan “mass public transportation” menjadi “boutique mass transportation” dengan mulai mengoperasikan armada bus double decker (bis tingkat) Mercedes-Benz OC 500 RF 2542. Hal ini merupakan strategi perseroan untuk menciptakan “product and services differentiation” yang signifikan dibandingkan para pesaing.

G.T. Soerbakti, Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena Transport Tbk, pernah mengatakan, perseroan akan merubah secara berangsur-angsur layanan dari kelas eksekutif menjadi kelas super eksekutif untuk meningkatkan tingkat pelayanan kepada para pelanggan. “Perseroan juga sudah mulai mengevaluasi trayek AKAP, dimana trayek-trayek yang bersinggungan langsung dengan moda transportasi udara dan kereta api sebagian sudah dialihkan ke trayek-trayek lain yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan,”ujarnya.

Strategi lainnya, kata Soerbakti, berupa perkuatan di rute jarak pendek termasuk menjajaki kemungkinan masuk di Jakarta residence connection dan Jakarta airport connection yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), selain memperkuat dan menambah jumlah armada bus di BRT (bus rapid transport) seperti TransJakarta.

BERITA TERKAIT

Gihon Telekomunikasi Serap 80% Dana IPO

Sejak resmi mencatatkan sahamnya di pasar modal beberapa bulan lalu, PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON) telah menggunakan lebih dari…

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif

Pengamat: Kebijakan HAM di Indonesia Masih Normatif NERACA Jakarta - Pengamat hukum pidana Universitas Bung Karno Azmi Syahputra menilai kebijakan…

Kalsel Diminta Manfaatkan Dana Bergulir LPDB-KUMKM

Kalsel Diminta Manfaatkan Dana Bergulir LPDB-KUMKM NERACA Banjarmasin - Meski jumlah koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tingkatkan Kualitas Pasar Modal - Bursa Efek Rilis 12 Program Prioritas

NERACA Jakarta – Dalam rangka meningkatkan daya saing industri pasar modal dan juga memacu pertumbuhan transaksi saham serta kemudahan bagi…

Laju IHSG Sepekan Kemarin Terkoreksi 1,20%

NERACA Jakarta - Laju indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan kemarin mengalami koreksi sebesar 1,20% menjadi 5.872,78 poin dari 5.944,07…

Cari Modal Danai Jalan Tol - Lagi, Jasa Marga Bakal Rilis RDPT Rp 1,55 Triliun

NERACA Jakarta – Besarnya kebutuhan dana pembangunan beberapa ruas jalan tol,  mendorong PT Jasa Marga Tbk (Persero) atau JSMR disibukkan…