Fintech Akselerasi Target Keuangan Inklusif

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memandang perkembangan industri Teknologi Finansial (Financial Technology atau Fintech) dapat memudahkan akses masyarakat terhadap industri jasa keuangan sehingga dapat mempercepat pencapaian target keuangan inklusif pemerintah sebesar 75 persen pada 2019. Hal itu seperti dikatakan oleh Direktur Kepala Program Elektronifikasi dan Keuangan Inklusif BI, Pungky P. Wibowo.

Menurut Pungky, ada kecenderungan baru Fintech akan menjadi pemain besar. “Positifnya adalah kita punya finansial inklusif 2011 baru 20 persen, kita naikkan dengan lintas sektor meningkat menjadi 36 persen. Pemerintah Jokowi targetkan 75 persen di 2019," ujarnya di Jakarta, Selasa (10/10).

Para pelaku industri teknologi finansial (tekfin), menurut Pungky, cukup jeli melihat peluang pasar untuk merambah produk dan jasa keuangan yang selama ini belum terakses masyarakat Sehingga, dengan kontribusi akses keuangan tersebut, industri Tekfin juga dinilai telah memperbaiki kualitas pertumbuhan ekonomi.

Meski demikian, Pungky mengakui, industri Tekfin juga tidak terhindar dari risiko, seperti ketidakcocokan ketersediaan dana, ketidakcocokan jangka waktu pinjaman dan serangan siber dan ancaman peretas. Untuk itu, menurut dia, perkembangan tekfin harus dibarengi dengan regulasi yang kuat tapi juga tetap bersahabat.

"Tapi fintech perkemangan pesat harus dibarengi regulasi yan kondusif. Impactnya akan kerasa. Konsekuensinya peraturan yang mendorong dan prudent dan ketiga menciptakan iklim bisnis yang kondusif," kata dia. Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir 2016, indeks keuangan inklusif di Indonesia sudah mencapai 67,82 persen.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pelaksanaan atau realisasi edukasi literasi yang dilakukan lembaga jasa keuangan sampai pertengahan 2017 ini masih rendah. Hal ini tercermin dari pelaksanaan realisasi edukasi keuangan pada semester 1 2017 sebesar 5,89%. Padahal, pada periode yang sama, rencana edukasi literasi keuangan mencapai 48,6%.

Direktur Literasi dan Edukasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Horas Tarihoran bilang partisipasi tertinggi peningkatan edukasi literasi keuangan tercatat ada di industri perbankan dan pasar modal. "Sedangkan terendah ada di perusahaan asuransi," kata Horas. Dia menambahkan, edukasi dan literasi keuangan ini sangat penting, karena terdapat kesenjangan antara literasi keuangan dengan pemanfaatan produk layanan jasa keuangan. Diharapkan dalam jangka panjang sampai 2019, indeks keuangan inklusif Indonesia bisa menjadi 75%.

BERITA TERKAIT

Pasar Keuangan Global Masih Akomodatif

    NERACA   Jakarta - Kondisi pasar keuangan global saat ini bagi Indonesia masih akomodatif di tengah peningkatan harga…

Tak Lakukan Perbaikan Kebijakan, Target Pertumbuhan Sulit Dicapai

      NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memprediksi pertumbuhan ekonomi…

TARGET PERTUMBUHAN PENDAPATAN

kiri ke kanan. President Director TIKI Titi Oktarina, Operation Director Ahmad Ferwito, Managing Director Tomy Sofhian, Business Support Director Th.Nia…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Ungkap Kasus Penyelewengan Kredit BPR

      NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkap kasus tindak pidana perbankan yang dilakukan Direktur Utama…

Cegah Kerugian Kurs, BI Minta Korporasi Tingkatkan Hedging

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) meminta korporasi untuk meningkatkan rasio lindung nilai (hedging) terhadap transaksi…

BRI Syariah Raih Penghargaan Digital Brand Award

      NERACA   Jakarta – BRI Syariah menerima penghargaan Digital Brand Award 2018 untuk kategori Bank Umum Syariah…