Mahasiswa Ciptakan Mesin Pengering Padi

Penjualan hasil panen padi dalam keadaan kering sebetulnya akan lebih menguntungkan daripada melepas padi dalam keadaan basah. Tapi kebanyakan petani masih mengandalkan pengeringan tradisional menggunakan sinar matahari. Dalam kondisi cuaca tak menentu, itu sulit. Untunglah ada mahasiswa Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah. Sekelompok mahasiswa fakultas teknik dari kampus itu telah membuat mesin pengering padi elektronik otomatis dengan metode momen putar.

"Pengeringan padi atau gabah dengan alat ini mampu meningkatkan penghasilan para petani," kata salah satu anggota kelompok mahasiswa tersebut Suranto Heri Prasetyo, di Magelang, seperti dilansir Antara, Kamis (28/9). Kelompok mahasiswa Fakultas Teknik Untidar yang menemukan alat pengering padi tersebut selain Suranto Heri Prasetyo adalah Agus Musafa, Rizal Martovani Vauzi, dan Miftahul Rhama Yudha.

Heri mengatakan pascapanen sebagian besar para petani langsung menjual padi dalam keadaan basah. Kondisi ini menyebabkan penghasilan yang diperoleh tidak maksimal. "Cuaca yang kurang menentu dan tenaga yang terbatas memaksa para petani melepas hasil panen padi dalam keadaan basah dengan kisaran harga Rp4.000 per kilogram," katanya lagi.

Ia mengatakan kondisi tersebut menginspirasi pihaknya bersama teman-temannya menciptakan mesin pengering padi tersebut. Mesin pengering padi tersebut berdimensi panjang 160 sentimeter, lebar 80 sentimeter dan tinggi 130 sentimeter dengan memanfaatkan energi listrik dan kompor sebagai sumber pemanasan.

Heri menuturkan mesin tersebut juga dilengkapi beberapa komponen yang dapat memberikan berbagai kemudahan pekerjaan, antara lain pengendalian suhu pengeringan secara otomatis melalui perangkat thermocontrol, pemerataan pengeringan secara kontinu dan otomatis melalui blower dan sistem mekanik serta drum silinder padi sebagai tempat pengeringan padi dengan kapasitas 100 kilogram.

"Pengeringan padi atau gabah dengan alat ini mampu meningkatkan penghasilan para petani. Harga gabah kering yang dihasilkan bisa dijual seharga Rp8.000 per kilogram, walaupun ada pengurangan berat pada saat proses penggilingan, penghasilan para petani tetap meningkat 35 persen," katanya lagi.

Dia menjelaskan proses pengeringan dengan metode konvensional memerlukan waktu lima hari untuk 10 ton padi, sedangkan menggunakan mesin pengering gabah ini padi sebanyak 10 ton bisa dikeringkan dalam waktu satu hari. Penggunaan motor listrik dengan daya rendah, ukuran alat yang tidak terlalu besar, adanya gir pemutar dan pengatur suhu menjadi keunggulan alat ini.

"Pengeringan bisa dilakukan sewaktu-waktu. Hasil pengeringannya pun memiliki kualitas yang lebih baik. Kadar air terkontrol dengan baik yaitu 14-15 persen dengan warna kulit padi yang lebih cerah. Kondisi ini meminimalkan adanya padi yang busuk saat penyimpanan setelah dikeringkan," katanya pula. Mesin pengering padi ini merupakan program kreativitas mahasiswa teknologi (PKMT) Untidar yang lolos mendapatkan dana dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi tahun 2017.

BERITA TERKAIT

Mahasiswa-Pemuda Deklarasi Anti-Terorisme

Belasan organisasi mahasiswa dan pemuda Indonesia yang tergabung dalam sebuah aliansi sepakat mendeklarasikan diri untuk bersatu melawan terorisme dan radikalisme…

150 Mahasiswa Sumut Ikuti E-Coaching Jam Pertambangan Tambang Emas Martabe

150 Mahasiswa Sumut Ikuti E-Coaching Jam Pertambangan Tambang Emas Martabe NERACA Medan – Sebanyak 150 mahasiswa yang berasal dari berbagai…

KPPU Dorong Pelaku Usaha Ciptakan Iklim Kondusif

KPPU Dorong Pelaku Usaha Ciptakan Iklim Kondusif  NERACA Solo - Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mendorong pelaku usaha menciptakan iklim…

BERITA LAINNYA DI PENDIDIKAN

Mahasiswa-Pemuda Deklarasi Anti-Terorisme

Belasan organisasi mahasiswa dan pemuda Indonesia yang tergabung dalam sebuah aliansi sepakat mendeklarasikan diri untuk bersatu melawan terorisme dan radikalisme…

Anak Jalanan akan Dilibatkan Dalam Asian Games

    Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) melibatkan anak jalanan dalam penyelenggaraan pesta multi-cabang olahraga tertinggi di Asia itu…

Moratorium Izin Perguruan Tinggi Baru Diperlukan - Orang Kaya Bikin Universitas

    Pertumbuhan orang kaya di Indonesia cukup besar. Dengan melimpahnya dana, tak ayal membuat mereka mencari penyaluran dana dengan…