Menjelajahi ‘Surga’ di Barat Pulau Jawa

Surga tersembunyi di wilayah Barat Pulau Jawa itu bernama Tanjung Lesung. Terletak di Desa Panimbangjaya, Pandeglang, Banten. Sebelumnya, nama Tanjung Lesung sudah pernah saya dengar. Saya pikir jaraknya dekat dengan Anyer, karena lokasinya yang satu garis pantai di pinggir Selat Jawa. Nyatanya, pikiran itu ada benarnya tapi juga ada salahnya.

Saya berkesempatan untuk mengunjungi Tanjung Lesung saat Festival Tanjung Lesung 2017 yang berlangsung belum lama ini. Perjalanan dari Jakarta menggunakan bus melalui jalur darat yang berangkat dari titik kumpul di kawasan Senayan, sekitar pukul 08.00. Waktu tempuh hampir lima jam melewati ruas jalan tol Jakarta-Merak, namun berbelok ke kiri menyusuri Pandeglang. Supir bus yang saya tumpangi memilih untuk menghindari kawasan Anyer yang terbilang lebih padat kendaraan.

Rombongan kami sempat berhenti sesaat untuk memberikan kesempatan bagi para kaum adam melaksanakan ibadah sholat Jumat. Kami tiba sekitar pukul 13.30 di Tanjung Lesung Beach and Resort, tempat peristirahatan selama kami berada di sana. Saya punya waktu tiga hari dua malam untuk menyusuri sebagian kecil dari kawasan Tanjung Lesung yang kini telah dinobatkan sebagai satu dari 10 Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) oleh Kementerian Pariwisata di tahun 2017. Berikut ini catatan perjalanan saya di Tanjung Lesung:

Setibanya di Tanjung Lesung, saya sempat berhenti sejenak di depan pintu masuk kawasan untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi. Maklum, jarak dari gerbang menuju tempat menginap saya tinggal cukup jauh, sekitar 2,5 kilometer. Tidak ada kendaraan umum yang bisa mengantarkan kami keluar masuk kawasan tersebut. Sehingga asupan pribadi benar-benar harus tercukupi untuk tetap nyaman selama tiga hari.

Setengah perjalanan masuk dari pintu gerbang ke area kamar, kami disambut oleh puluhan Bebegig, atau yang dikenal dengan orang-orangan sawah buatan masyarakat Pandeglang yang ikut dilombakan dalam Festival Tanjung Lesung 2017.

Bentuknya rupa-rupa, mulai dari sosok 'hantu' sampai sosok atlet bulutangkis, atlet surfing, sampai sosok seorang turis. Di sebelah kanan jalanan tempat Bebegig itu dipamerkan, ada lapangan kosong yang sudah disulap menjadi tempat diselenggarakannya festival.

Panggung besar tempat band kondang asal Bandung The Cangcuters beraksi, ada juga stand tempat para masyarakat sekitar menjajakkan dagangan khas, juga bagian di mana ada promosi wisata yang ada di sekitar Banten.

Tempat tidur saya malam ini berbentuk cottage, yang berisi dua kamar dengan satu kamar mandi, ruang tamu dan ruang makan. Tempatnya cukup besar dan bisa menampung sekitar enam sampai delapan orang dengan tambahan kasur.

Saya harus berjalan kaki sekitar 100 meter dari lobi menuju cottage. Kamarnya cukup nyaman dengan fasilitas pendingin udara.

Tipe kamar yang saya inapi bernama Mutiara Cottage, yang harga per malamnya dibanderol Rp2 jutaan. Untuk cottage dengan satu kamar dihargai Rp1,2 jutaan. Itu sudah termasuk sarapan. Bagi Anda yang ingin sensasi berbeda, boleh dicoba menginap di area tenda yang lokasinya tidak jauh dari resor dan pantai. Untuk dua orang, tenda-tenda itu dilabeli harga Rp500 ribu, termasuk sarapan dan voucher untuk snorkeling. Ada juga kamar yang berada di dalam sebuah kontainer besar.

Hari kedua di Tanjung Lesung, saya sudah disibukkan dengan liputan Mountain Bike Cross Country Marathon (MTB XCM) yang merupakan bagian dari rangkaian festival. Ini jadi kali pertama Tanjung Lesung mengadakan event tersebut. Event tersebut dimulai sejak pukul 08.00.

Medan berpasir yang licin ditambah pecahan batu karang serta cuaca panas pantai yang saat itu sedang dalam puncak musim kemarau menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Tak sekadar letih dan prestasi yang didapat peserta, suguhan pemandangan indah dari pinggir pantai, menyusuri hutan bakau dengan desir ombak yang kecil membuat kesan tersendiri bagi para peserta juga saya yang sempat menjajal rute sejauh 16 kilometer menggunakan sepeda motor milik warga.

Anda bisa menyewa motor warga sekitar untuk berkeliling seharian di kawasan Tanjung Lesung seharga Rp25-30 ribu di hari biasa dan Rp50 ribu di akhir pekan. Saya juga sempat merasakan nikmatnya dipijat di Andaru Spa yang masih berada di kawasan resor. Setelah letih menjelajah pantai, pijatan dari terapis membuat saya kembali bugar.

BERITA TERKAIT

Setelah Menanti 15 Tahun - Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati:

Presiden Jokowi berharap Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Majalengka, Jawa Barat, dapat memberikan pelayanan kepada masyarakat Indonesia yang akan…

Duta Daya Intidaya Genjot Pasar di Luar Jawa - Targetkan Pendapatan Tumbuh 20%

NERACA Jakarta – Dalam rangka mengejar pertumbuhan bisnis dan penetrasi pasar, PT Duta Intidaya Tbk (DAYA) terus menambah gerai baru.…

Konsumsi Premium Di Jawa Madura dan Bali Turun 50%

    NERACA   Jakarta - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat bahwa konsumsi bahan bakar minyak (BBM)…

BERITA LAINNYA DI WISATA INDONESIA

Ini Pilihan Tempat Menginap di Bandung

Bandung menjadi "pelarian" bagi warga Jakarta yang ingin liburan sambil merasakan hawa dingin. Di musim libur, seperti Lebaran, Paris van…

Menikmati Wisata Susur Sungai Martapura di Malam Ramadan

Bulan Ramadan bukan berarti menjadi berakhirnya aktivitas petualangan. Warga kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan, justru memiliki tren wisata baru yakni…

Wisata Jalur Vulkanik Jadi Berkah dari Gunung Merapi

Pekan kemarin Gunung Merapi kembali menunjukkan statusnya sebagai gunung api teraktif di Indonesia. Gunung yang terletak di perbatasan Provinsi Jawa…