Mulia Industrindo Merugi Rp 82,14 Miliar - Beban Operasi Membengkak

NERACA

Jakarta – Produsen keramik, PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) berhasil mencatat kenaikan penjualan di semester pertama 2017 sebesar Rp 3,03 triliun atau naik tipis 3,87% dibandingkan priode yang sama tahun lalu. Sayangnya, kenaikan penjualan ini tak bisa menghasilkan keuntungan bagi MLIA. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Di periode ini, Mulia Industrindo justru membukukan rugi Rp 82,14 miliar. Kondisi ini berbeda jauh dengan semester satutahun lalu. Pada enam bulan pertama 2016, MLIA membukukan laba Rp 485,98 miliar. Rugi yang mesti ditanggung MLIA pada periode ini disebabkan oleh membengkaknya beban. Beban umum dan administrasi MLIA meningkat menjadi Rp 201,91 miliar dari Rp 186,69 miliar.

Beban keuangan produsen kaca dan keramik ini pun meningkat menjadi Rp 223,01 miliar. Padahal, di periode yang sama tahun lalu beban keuangan yang harus ditanggung MLIA hanya Rp 186,69 miliar. Di periode ini pun perusahaan tidak mencatat keuntungan penghapusan utang bank seperti di tahun 2016 silam. Selain itu, keuntungan kurs mata uang asing yang dicatat di semester pertama tahun ini pun juga turun drastis menjadi Rp 1,09 miliar. Tak seperti di tahun 2016 lalu di mana perusahaan berhasil mencatat keuntungan kurs mata uang asing hingga Rp 15,76 miliar.

Sebagai informasi, perseroan tahun ini tidak mematok target pendapatan lebih tinggi. Pasalnya, kondisi pasar dinilai lesu permintaan. Sementara, pasar properti yang banyak menyerap produk keramik Mulia masih belum meningkat. Sekretaris Perusahaan PT Mulia Industrindo Tbk, Henry Bun pernah mengatakan, perusahaannya hanya menargetkan pendapatan naik sesuai pertumbuhan ekonomi nasional saat ini. “Targetnya naik kisaran 5%-6%, atau meraih Rp 6,1 triliun,” sebut Henry.

Sebelumnya, di 2016 emiten berkode MLIA ini memperoleh pendapatan Rp 5,79 triliun. Di kuartal pertama 2017 ini, MLIA mencatat pendapatan senilai Rp 1,6 triliun, naik 14% dibandingkan kuartal sama tahun lalu. Namun, perseroan mencatatkan kerugian Rp 7 miliar, sementara triwulan pertama tahun lalu bisa mencetak laba Rp 84 miliar. Menurut Henry, beban biaya produksi naik cukup tinggi di awal tahun ini. “Apalagi keramik saat ini over supply, sehingga kita tidak bisa menaikkan harga. Sementara biaya pekerja naik terus dan daya beli tengah turun,” kata Henry.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal pertama, beban pokok penjualan naik 18% menjadi Rp 1,3 triliun. Perseroan juga mendapatkan rugi kurs senilai Rp 3 miliar. Perseroan menganggarkan belanja modal tahun ini sebesar di kisaran Rp 180 miliar-Rp 200 miliar. Dana tersebut lebih banyak diserap untuk perbaikan tungku api dan sisanya peremajaan mesin.

Asal tahu saja, gas menjadi energi utama keperluan pabrik MLIA, sekaligus menelan biaya yang besar. Dimana hampir 25%-28% biaya produksi adalah keperluan gas. Sementara harga gas yang harus ditanggung MLIA adalah US$ 8,3-US$ 9 per mmbtu. Harga gas ini cukup mahal dan tidak kompetitif.

BERITA TERKAIT

Pertengahan Tahun, PBB dan BPHTB Sukabumi Sudah Mencapai Rp13 Miliar lebih - Usulan Kerjasama Pembayaran Pajak Via Minimarket

Pertengahan Tahun, PBB dan BPHTB Sukabumi Sudah Mencapai Rp13 Miliar lebih Usulan Kerjasama Pembayaran Pajak Via Minimarket NERACA Sukabumi -…

MGRO Bangun Pabrik Senilai Rp 330 Miliar - Pacu Nilai Tambah di Sektor Hilir

NERACA Jakarta – Mengantungi dana segar dari IPO, PT Mahkota Group Tbk (MGRO) akan berinvetasi sebesar Rp 330 miliar membangun…

KINO Sisakan Dana IPO Rp 236,9 Miliar

PT Kino Indonesia Tbk (KINO) masih memiliki dana sebesar Rp236,9 miliar yang berasal dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) pada…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

WTON dan WEGE Raih Kontrak Rp 20,22 Triliun

NERACA Jakarta – Di paruh pertama 2018, dua anak usaha PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mencatatkan total kontrak yang akan…

Gelar Private Placement - CSAP Bidik Dana Segar Rp 324,24 Miliar

NERACA Jakarta – Perkuat modal dalam mendanai ekspansi bisnis, PT Catur Sentosa Adiprana Tbk (CSAP) berencana melakukan penambahan modal tanpa…

Luncurkan Dua Produk Dinfra - Ayers Asia AM Bidik Dana Kelola Rp 500 Miliar

NERACA Jakarta –  Targetkan dana kelolaan atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun sebesar Rp 350 miliar hingga Rp…