Sulit Kejar Pertumbuhan Kredit Double Digit

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2017 masih dua digit atau di bawah 10 persen hingga akhir tahun. "Kalau saya lihat 2017 mungkin agak sulit bisa mencapai pertumbuhan kredit 10 sampai 12 persen," kata Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo di Jakarta, Rabu (16/8).

Dia berpendapat lambatnya pertumbuhan kredit di 2017 salah satunya dikarenakan suku bunga kredit yang juga masih tinggi dan tidak mengalami penurunan yang signifikan. Suku bunga kredit perbankan per Juni 2017 tercatat mencapai 11,77 persen, meski sudah mengalami penurunan pada bulan sebelumnya yang sebesar 11,83 persen.

Namun penyaluran kredit perbankan pada Juni berada di 7,6 persen, bahkan lebih kecil dari periode Mei 2017 yang sebesar 8,6 persen. Hal ini berbeda dengan penurunan suku bunga deposit yang lebih cepat ketimbang penurunan suku bunga kredit. Agus mengatakan turunnya bunga kredit yang lebih pelan dalam banyak hal karena bank sedang melakukan konsolidasi.

"Jadi mereka (bank) banyak melakukan penyehatan, lebih berhati-hati dalam memberikan kredit, dan juga mengantisipasi bahwa nanti mungkin kalau OJK tidak memperpanjang relaksasi dari aturan kreditnya," kata Agus. Namun demikian Agus meyakini suku bunga kredit perbankan diprediksi bisa turun di bawah sepuluh persen atau hanya satu digit di tahun 2018.

Sementara itu, penyaluran kredit perbankan hingga semester I-2017 masih mengecewakan karena pertumbuhannya melambat dan berkutat di bawah level single digit atau kurang dari 10 persen. Masih lambannya pertumbuhan pembiayaan itu karena permintaan dari dunia usaha masih lemah karena mereka masih melakukan konsolidasi bisnis.

Bank Indonesia (BI) mencatat hingga Juni 2017, tren pertumbuhan kredit terus melambat dari target tahun ini di kisaran 10–12 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Hingga Juni 2017, pertumbuhan kredit secara tahunan hanya sebesar 7,6 persen (yoy), lebih lambat dibanding Mei lalu sebesar 8,6 persen.

Data analisa uang beredar dalam arti luas yang disampaikan bank sentral menyebutkan pada Juni 2017 kredit modal kerja (KMK) perbankan hanya tumbuh 6,9 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan Mei 2017 yang sebesar 8,5 persen. Sementara itu, kredit investasi (KI) melorot menjadi 6,1 (yoy) persen dari bulan sebelumnya 7,9 persen (yoy).

“KMK tumbuh melambat utamanya karena kredit yang disalurkan kepada sektor perdagangan, hotel dan restoran, dan juga sektor keuangan, real estate, dan jasa perusahaan, yang masing-masing tumbuh melambat menjadi 4,3 persen (yoy) dari 6,7 persen (yoy), dan 17,1 persen (yoy) dari 18,5 persen (yoy),” sebut Statistik BI.

Sektor perdagangan, hotel, dan restoran dalam menyerap KI juga melambat dengan mencatatkan pertumbuhan 6,7 persen di Juni 2017 dari 8,2 persen pada Mei 2017. KI untuk industri pengolahan melambat pada Juni 2017 menjadi 3,5 persen (yoy) dari 4,7 persen (yoy). Sebaliknya, kredit konsumsi (KK) tumbuh 9,9 persen (yoy) menjadi 1.306,2 triliun rupiah, lebih tinggi dibandingkan Mei lalu 9,5 persen.

Menyikapi perlambatan kredit, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk, Parwati Surjaudaja, menilai masyarakat dan pelaku usaha masih melakukan wait and see dengan kondisi perekonomian yang belum pulih. Dia mengakui penyaluran kredit yang lebih lambat memang terkait kondisi ekonomi yang belum pulih. “Yang terlihat melambat adalah penyaluran kredit di segmen menengah, sedangkan penyaluran kredit ritel seperti usaha kecil dan menengah dan korporasi masih lebih baik,” jelasnya.

Related posts