Right Issue Mandiri “Laris Manis” - Raup Dana Rp 11,68 Triliun

NERACA

Jakarta – Kesuksesan PT BNI Tbk (BBNI) dalam menerbitkan saham terbatas (right issue), di ikuti oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang right issuenya laris manis terjual. Dimana perseroan menyatakan right issue yang di tawarkan mengalami kelebihan permintaan atau over subscribed.

Direktur Finance dan Strategy PT Bank Mandiri Tbk, Pahala N. Mansury mengatakan, perseroan memastikan right issue yang terbitkan mengalami kelebihan permintaan dan terlihat pada akhir masa perdaganganrights issuetanggal 21 Februari 2011dengan total dana yang diperoleh sebesar Rp11,68 triliun (gross). “Dengan demikian, seluruh penawaran saham sebanyak 2.336.838.591lembartelah di serap oleh investor sehingga tidak terdapat sisa saham yang harus di serap penjamin emisi, PT Mandiri Sekuritas maupun PT Danareksa Sekuritas,”katanya dalam siaran pers di Jakarta, Kamis (24/2).

Dari right issue itu, Kementerian BUMN mendapat dana segar Rp 389,5 miliar karena pemerintah berkomitmen untuk tidak menyerap Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMTED). Saham BMRI yang menjadi hak pemerintah dihargai Rp 5.250 atau lebih tinggi 5% dibandingkan harga right issuenya Rp 5.000 per lembar saham.

Sebelumnya, Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan, pelepasan 2,33 miliar lembar saham baru bertujuan menjaga rasio kecukupan modal dalam rangka mendukung pertumbuhan kredit sampai dengan tahun 2014 sesuai dengan rencana bisnis perseroan. Nantinya dari ekspansi organik, kredit BMRI di 2011 akan mencapai 22% atau lebih tinggi dari tahun 2009 yang ditargetkan mencapai 6%.

Selain itu, aksi korporasi tersebut juga untuk mendukung rencana perseroan dalam merealisasikan tiga strategi pertumbuhan bisnis untuk menjadi pemain utama dalam retail payment dan juga meningkatkan pelayanan transaksional terhadap segmen wholesale. "Kami ingin terus menjaga momentum pertumbuhan secara berkelanjutan (sustainable growth),"ungkapnya.

Menurutnya, untuk mendukung rencana tersebut, kini perseroan berkomitmen untuk terus meningkatkan permodalan sehingga ruang gerak bank menjadi lebih fleksibel dalam menangkap peluang bisnis dalam upaya mewujudkan keinginan sebagai salah satu financial institution yang terbaik di kawasan Asia Tenggara.

Pasca rights issue porsi kepemilikan pemerintah akan menjadi 60% dari saat ini sebesar 66,73%, sementara saham publik akan menjadi 40%. Sebelumnya, sebanyak 7 investor tercatat membeli saham rights issuePT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang menjadi hak pemerintah yang tak dieksekusi senilai Rp 8,8 triliun.

Kabar tujuh investor membeli saham right issue Mandiri, dibenarkan salah seorang pelaku pasar. Dijelaskannya, transaksi ini ditangani oleh PT Mandiri Sekuritas (CC) sebanyak 1.149.721.000 HMETD BMRI dan PT Danareksa Sekuritas (OD) sebanyak 529.672.000 HMETD BMRI. Totalnya sebanyak 1.679.393.000 HMETD, lebih banyak dari rencana semula 1.559.372.392 HMETD.

Tujuh investor membeli sahamrights issueBank Mandiri milik pemerintah yang tidak dieksekusi tersebut melalui PT CLSA Indonesia (KZ), PT Deutsche Securities Indonesia (DB), PT Merryll Lynch Indonesia (ML), PT Mandiri Sekuritas (CC), dan PT Danareksa Sekuritas (OD).

Transaksi dilakukan di harga Rp 5.250/HMETD di mana sebesar Rp 5.000/saham akan masuk ke kas Bank Mandiri, sedangkan Rp 250/saham akan masuk ke kas negara.

Artinya, dari jumlah tersebut, sebesar Rp 8,3 triliun akan masuk ke Bank Mandiri, sedangkan sebesar Rp 419,848 miliar akan masuk ke kas negara. Nilai yang masuk ke kas negara lebih besar dari rencana semula Rp 389,843 miliar.

Asal tahu saja, PT Bank Mandiri Tbk giat melakukan roadshow ke beberapa negara di luar negeri untuk mencari investor pada penawaran umum saham terbatas (rights issue). Roadshow dilakukan dibeberapa negara diantaranya, Hongkong, Amerika Serikat, Singapura dan London.

Direktur Utama Bank Mandiri, Zulkifli Zaini mengatakan, roadshow yang dilakukan bertujuan mencari investor sebanyak-banyaknya dan diharapkan bisa terserap banyak. Pelaksanaan roadshow dalam negeri sudah dilakukan pada hari Rabu 5 Januari 2011. “Untuk roadshow di luar negeri, sebagai negara tujuannya antara lain Singapura, New York, London dan Hongkong,’kata Zulkifli di Jakarta.

Dirinya pernah menyampaikan, melalui roadshow ini nantinya akan terhimpun dana yang mencapai Rp 14 triliun untuk mendukung ekspansi organik maupun non organik. Untuk ekspansi organiknya sendiri, Zulkifli mengatakan kredit BMRI di 2011 akan mencapai 22% atau lebih tinggi dari tahun 2009 yang ditargetkan mencapai 6%.

Seperti diketahui BMRI akan menerbitkan 2.336.838.591 lembar saham baru harga penawaran di Rp 4.000-6.150 per lembar. Total dana yang akan diraup bank terbesar di Indonesia itu berkisar antara Rp 9,3 triliun hingga Rp 14,4 triliun.

Setiap pemegang 8.985 saham lama yang namanya tercatar dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan tanggal 10 Februari 2011, berhak atas 1.000 Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Dan setiap 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli sebanyak 1 saham baru di harga Rp 4.000-6.150.

Sebelumnya, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Senin (27/12) tahun lalu telah mendaftarkan rights issue ke Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK). Dan rights issue ini sudah dimulai 28 Januari 2011.

Momentum ini perlu dipertahankan dan untuk itu dibutuhkan penguatan modal jangka panjang yang cukup besar. Sebagai bank terbesar milik pemerintah, Bank Mandiri berkomitmen untuk terus meningkatkan fungsi intermediasi, khususnya di sektor produktif yang berdaya saing. (bani)

Related posts