Kenaikan Suku Bunga Tiba-Tiba Jadi Ancaman Global

NERACA

Jakarta - Mantan kepala ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) Ken Rogoff mengatakan kenaikkan suku bunga yang tiba-tiba bisa menjadi ancaman terbesar. Terutama bagi ekonomi secara global. Rogoff memperingatkan selama ini banyak orang sudah terbiasa dengan suku bunga ultra rendah. “Jika ada sesuatu yang terjadi mendorong tingkat suku bunga naik, kita bisa melihat banyak titik lemah, tempat di mana ada hutang yang tinggi,” kata Rogoff dikutip dari BBC, Kamis (10/8).

Dia juga mengatakan bahwa kebijakan ekonomi dari administrasi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bisa menimbulkan risiko. Ditambah, sebelumnya Rogoff menyebut Cina merupkan ancaman nomor satu. Kebijakan ekonomi Gedung Putih menurutnya mampu menciptakan ketidakpastian tanpa memberi keputusan spesifik. Saat ini, Trump sedang mengejar agenda perdagangan dan mencoba untuk melonggarkan peraturan yang dibawa untuk melindungi sistem keuangan.

Rogoff mengatakan, Trump bahkan berjanji untuk memangkas pajak dan meningkatkan belanja infrastruktur. “Risikonya adalah Gedung Putih atau AS akan melakukan sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal,” jelasnya. Dia menambahkan, Cina yang selama ini memiliki perekonomian terbesar kedua di dunia tetap menjadi ancaman karena masalah utangnya sendiri. Begitu juga ketidakstabilan politik dan ketergantungan pada ekspor.

Pada akhir bulan lalu, Ketua The Fed Janet Yellen mengumumkan bahwa bank sentral mempertahankan tingkat suku bunga acuan. The Fed akan menjaga kebijakan moneter tetap stabil. Meski demikian, bank sentral memberi sinyal akan mulai mengurangi program stimulus yang besar "relatif segera" mengingat perekonomian secara luas berkembang seperti yang diantisipasi.

Director Investor Relation and Chief Economist Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat dalam pernyataannya mengatakan kenaikan bunga The Fed kali ini diperkirakan juga tidak akan direspon negatif dan memberikan dampak negatif kepada perekonomian Indonesia. Situasi saat ini berbeda sekali dengan situasi ketika mantan Gubernur The Fed Ben Bernanke mengumumkan Fed akan mengurangi belanja obligasinya (tapering off).

Current account deficit atau defisit transaksi berjalan Indonesua cukup besar ketika Bernanke mengumumkan langkah Fed tersebut pada Mei 2013 lalu, terjadi peralihan aset dari negara berkembang dan membuat saham, obligasi, rupiah melemah. Keadaan berbeda pada tahun ini. Fundamental Indonesia lebih kuat, cadangan devisa sempat mencapai rekor pada Mei lalu. Dengan demikian, rencana-rencana The Fed pun tidak terlalu berdampak traumatis terhadap pasar keuangan di dalam negeri.

Nilai tukar rupiah misalnya, hanya mendatar saja. Indeks saham gabungan pun hanya bergerak turun 0,4 persen, demikian pula dengan yield Surat Utang Negara bertenor 10 tahun, hanya naik 10 basis poin saja. “Sehingga kebijakan kenaikan suku bunga Fed memang memengaruhi, tetapi tidak traumatis seperti ketika ada pergantian arah kebijakan The Fed pada masa Bernanke,” imbuh Budi.

Untuk Indonesia, bunga the fed yang tertahan tersebut harus jadi momentum Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunganya. Direktur Riset CORE Indonesia Mohammad Faisal mengatakan sepanjang tahun ini BI belum pernah melakukan pelongaran moneter, meskipun kondisi ekonomi global cukup mendukung. “Tekanan secara eksternal sudah mulai mereda. Ini harusnya jadi ruang bagi BI untuk longgarkan moneternya. Sebab kalau kita lihat ekonomi domestik perlu dukungan dari sisi moneter juga, bukan hanya dari fiskal,” kata Faisal.

Dia menyebutkan, pelonggaran moneter BI salah satunya akan memberikan dukungan positif bagi konsumsi masyarakat yang masih tertekan pada tahun ini. Pasalnya, selama ini, perekonomian Tanah Air lebih banyak mendapat sokongan dari sisi eksternal, salah satunya melalui aktivitas ekspor-impor berkat membaiknya ekonomi global. Di sisi lain, dia melihat bahwa kebijakan Presiden AS Donald Trump yang masih belum terlalu bertaji untuk ekonomi AS, akan memberikan keuntungan bagi negara berkembang, terutama Indonesia.

Inflasi negeri Paman Sam yang diperkirakan akan melesat karena rencana kebijakan Trump yang agresif, rupanya belum terwujud. “Akhirnya, The Fed yang diperkirakan akan mengetatkan kebijakan moneternya secara lebih cepat, tak terlaksana. Kebijakan The Fed relatif teprediksi dan tak memberi eksposur berlebih bagi negara berkembang,” lanjutnya.

Related posts