Tol Tangerang-Merak Lumpuh Akibat Banjir

Senin, 16/01/2012

Serang - Jalan tol Tangerang-Merak lumpuh total akibat meluapnya Sungai Ciujung di Km 25 yang menyebabkan banjir melintasi jalan tol.

"Aktivitas jalan tol terganggu total karena kendaraan dari arah Jakarta ke Merak dan sebaliknya, sejak pukul 06.00 WIB tidak bisa melintas," kata Humas PT Marga Mandala Sakti (MMS) Hari Wirakusumah di Serang, Minggu.

Ia mengatakan, banjir yang disebabkan meluapnya air Sungai Ciujung terjadi sejak Sabtu (14/1) sore, hingga saat ini ketinggian air mencapai sekitar 1,2 meter. Akibat banjir tersebut selain memotong arus kendaraan, juga mengakibatkan ratusan warga sekitar sungai tersebut mengungsi di jalan tol.

"Satu lajur tol kami gunakan untuk menampung warga karena pemukiman mereka kebanjiran. Sedangkan kendaraan dari Jakarta ke luar gerbang Balaraja dan dari arah Merak harus balik arah atau keluar Serang," tutur Hari.

Pihaknya belum memperhitungkan nilai kerugian akibat banjir tersebut. Ia menyebutkan, banjir yang terjadi akibat luapan Sungai Ciujung tersebut, hampir sama dengan yang terjadi Tahun 2001 lalu.

"Kami sudah meminta bantuan Pemprov Banten untuk penanganan bagi warga yang ada di sekitar tol," ujarnya, menambahkan.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten Suyadi Wiraatmaja mengatakan, pihaknya sudah berupa melakukan evakuasi terhadap ratusan warga yang pemukimannya kebanjiran. Selain itu, berbagai bantuan juga sudah diberikan seperti kebutuhan pokok dan obat-obatan.

"Ratusan warga sementara ini ditampung di Jalan tol karena pemukiman mereka terendam," ucap Suyadi.

Ratusan warga yang mengungsi di jalan tol tersebut, sebagian besar warga Kampung Undar-andir, Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang.

Jangan Sampai Kelaparan

Sementara itu, Bupati Lebak Provinsi Banten H Mulyadi Jayabaya menegaskan, satuan kerja perangkat daerah setempat diminta membantu para korban banjir jangan sampai terancam kelaparan dan terserang berbagai penyakit.

"Semua satuan kerja perangkat daerah (SKPD) harus membantu para korban banjir dengan menyediakan makanan dan pelayanan kesehatan," katanya saat meninjau lokasi penampungan banjir di Gedung Juang Rangkasbitung, Minggu.

Ia mengatakan, banjir awal tahun 2012 di Kabupaten Lebak cukup besar dibandingkan dengan 2011, sehingga warga tetap waspada jika hujan terus menerus.

Sebab wilayah Kabupaten Lebak merupakan daerah "langganan" banjir tahunan, karena terdapat 17 sungai utama dan 195 anak sungai.

Luapan sungai bisa menimbulkan banjir, apabila curah hujan deras terus menerus.

Mereka para korban banjir kebanyakan masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai (DAS).

"Kami minta warga tetap waspada banjir, terlebih saat ini intensitas curah hujan meningkat," katanya.

Menurut dia, warga yang tinggal di penampungan diminta sabar dan tidak pulang sebelum air banjir surut.

Pemerintah daerah menjamin warga korban banjir yang tinggal di pengungsian tidak kelaparan.

Mereka para korban banjir yang tinggal di penampungan diminta mendirikan dapur umum untuk penyediaan makanan mereka.

Siaga 24 Jam

Selain itu juga petugas medis diminta siaga selama 24 jam untuk melayani kesehatan warga yang terkena musibah bencana alam itu.

"Kami minta jangan sampai warga korban banjir terancam kelaparan dan terserang berbagai penyakit," ujarnya.

Bupati meminta jika pengungsi tidak tertampung di Gedung Juang Rangkasbitung bisa menggunakan Gedung Korpri atau tempat lainnya.

Pemerintah daerah sangat memperhatikan warganya yang terkena musibah banjir agar tidak terserang penyakit maupun kesulitan pangan.

"Kami sudah meninjau sejumlah lokasi banjir di Lebak dan tidak ada korban jiwa. Kami minta warga tetap sabar dan tinggal di penampungan," katanya.

Di tempat terpisah, Asisten Daerah (Asda) II Pemerintah Kabupaten Lebak Robet Chandra mengatakan, pihaknya mengusulkan bantuan perahu karet ke Brimob Polda Banten untuk melakukan evakuasi para korban banjir.

Sebab banyak para korban banjir terjebak karena tinggi air mencapai 1,5 sampai 2,0 meter.

Pemerintah daerah hanya memiliki lima unit perahu karet dan masih kurang dibandingkan dengan jumlah wilayah rawan banjir.

"Kami kekurangan perahu karet sebanyak tujuh unit dan berharap Brimob Polda Banten bisa membantunya," katanya.

Endang, warga Kalimati Kelurahan Muara Ciujung Barat, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak mengaku dirinya bersama keluarga belum bisa pulang ke rumah karena masih tergenang air banjir setinggi dua meter.

Selain itu juga warga korban banjir masih bertahan di penampungan yang disediakan pemerintah daerah di Gedung Juang Rangkasbitung.

Apalagi, hujan hingga kini masih turun dengan kapasitas sedang.

"Kami tinggal di pengungsian hanya pakaian di badan saja, karena barang-barang perabotan rumah tangga tidak bisa diselamatkan dan terendam banjir," ujarnya.

Berdasarkan keterangan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak banjir melanda sembilan kecamatan antara lain adalah Kecamatan Rangkasbitung, Cibadak, Kalanganyar, Cileles, Cimarga, Leuwidamar, Wanasalam, Banjarsasri, dan Cijaku.

"Dari sembilan kecamatan itu diperkirakan antara 3.000 sampai 4.000 rumah terendam banjir," kata Kepala BPBD Kabupaten Lebak Muklis.