Ayo, Berwirausaha Lewat Medsos

Industri lokal lesu, selain dari efek pelemahan daya beli juga karena imbas berkembangnya bisnis toko online. Banyak masyarakat semakin menggemari belanja daring atau online.

NERACA

Pelemahan daya beli menjadi salah satu topik hangat yang dibicarakan para pakar ekonomi dan pebisnis belakangan ini. Melemahnya daya beli dianggap jadi penyebab lesunya industri dan menghambat laju ekonomi. Namun, ternyata tak semua sektor bisnis lesu, salah satunya bisnis ritel berbasis internet atau daring.

Masih tumbuhnya penjualan online didukung data pertumbuhan impor barang konsumsi dan kredit konsumsi yang semakin besar. Menurut Rhenald Kasali, pakar marketing dan Guru besar Universitas Indonesia, industri lokal lesu, selain dari efek pelemahan daya beli juga karena imbas berkembangnya bisnis toko online.

Banyak masyarakat semakin menggemari belanja daring atau online. "Ada shifting (pengalihan) dari kalangan menengah ke atas karena disruptive economy dari konvensional ke serba online. Perubahan ini mendukung pemerataan ekonomi masyarakat," ujarnya di Jakarta.

Rhenald mengaku membuat survei kecil tentang perkembangan bisnis daring. Hasilnya, daya beli masyarakat masih terlihat naik, terbukti dari kenaikan penjualan di bisnis daring. "Salah satunya, batik Trusmi dari Cirebon yang tidak memiliki lapak di Tanah Abang, tetapi membuka lapak online, pertumbuhan semester I-ini naik sebesar 20%. Beda dengan di di Tanah Abang yang justru turun sekitar 20%," kata Rhenald.

Kenaikan penjualan diyakini juga terjadi pada situs-situs penjualan online, seperti Tokopedia, Lazzada, Blanja dll. "Buktinya, bisnis logistik semakin berkembang, semakin banyak lowongan kerja yang ditawarkan perusahaan logistik karena tingginya permintaan barang akibat bisnis online yang berkembang," katanya.

Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemkeu Suahasil Nazara, kenaikan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) turut meningkatkan daya beli sehingga efeknya dirasakan bisnis online.

Sementara itu, pengamat internet Marketing, Agus Setiyawan atau yang akrab dengan nama Agus Piranhamas menyebutkan prospek bisnis melalui medi sosial ke depan sangat cerah. Ini, mengingat pengguna media social di Indonesia yang terus bertambah setiap harinya, menjadikan peluang bisnis menggunakan jejaring sosial lebih bergairah ke depan. “Bicara bisnis dengan media sosial pasti akan terus bertambah kinclong,” kata Agus kepada Neraca.

Bagaimana tidak kinclong, tambah Agus, sekarang pengguna internet di Indonesia ada sekitar 63 jutaan dari penduduk Indonesia, dan kebanyakan orang Indonesia mempunyai lebih dari satu akun media sosial. Maka dari itu, prospek bisnis yang memanfaatkan media sosial akan terus bersinar. “Potensi pasarnya sangat besar, makanya tren berbisnis online bakal terus naik,” tambahnya.

Di samping pasarnya sangat luas, dengan bisnis melalui berbasis online atau media sosial, menurut Agus lagi, dengan bisnis online sangat-sangat efisien. Karena, biaya promosi tentu sangat murah, selain itu tidak harus sewa kantor atau toko. “Dengan bisnis online bisa dikerjakan semua dari rumah, kita tidak usah bayar promosi, tinggal pasang gambar seluruh pengguna jutaan mata bisa melihatnya. Tanpa harus pasang iklan, atau sewa kantor atau took yang costnya sangat tinggi,” ujarnya.

Selain itu juga, dengan media sosial, pangsa pasar pun menjadi luas, bukan hanya di dalam negeri, ke luar negeri pun bisa. Tinggal kita mau main disbisnis apa dan segmen seperti apa. “Dengan media sosial atau online bukan hanya di dalam negeri saja ke luar negeri pun bisa. Tinggal di asah kemampuan bahasanya. Disamping itu juga lebih praktis kapan dan dimana saja bisa, tinggal buka laptop atau smartphone yang tersambung internet bisa, ” paparnya.

Atas pesatnya perkembangan dunia digital menurut Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara diprediksi akan menyebabkan adanya peralihan fokus ekonomi Indonesia yang tidak lagi pada pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) tetapi menjadi berbasis layanan. "Ekonomi (Indonesia) tadinya berbasis sumber daya alam, migas, batubara juga pertanian dan lain sebagainya, dan ini nanti akan berpindah ke services (layanan)," ungkap Rudiantara.

Menurutnya, salah satu contohnya adalah layanan kesehatan konsultasi pasien dengan dokter, saat ini telah tersedia di dunia maya (internet) dan aplikasi ponsel pintar yang memungkinkan pasien melalukan konsultasi kesehatan dengan dokter tanpa perlu ke rumah sakit melalui sambungan video call dan panggilan suara. "Saat ini kalau ke rumah sakit harus antre berapa lama? Daru survei HaloDoc, di Jakarta, waktu tunggu di rumah sakit sekitar 4 jam 20 menit diluar waktu perjalanan dari rumah ke rumah sakit," ungkapnya.

Namun demikian, Rudiantara menjelaskan, strategi pengembangan ekonomi digital nasional harus terus digencarkan, agar mampu bersaing. Menurutnya, ada tiga faktor utama dalam mengembangkan perekonomian digital di Indonesia, yakni layanan digital seperti economy sharing, pengembangan ekonomi usaha kecil menengah, dan inklusi keuangan.

Dunia Tertarik

Sedangkan menurut Ketua Umum Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA) Aulia Marinto mengatakan, pesatnya pertumbuhan ekonomi digital dalam negeri membuat perusahaan e-commerce dunia tertarik berbisnis di Indonesia. "Dengan jumlah penduduk yang besar, sektor e-commerce Asia Tenggara memiliki potensi yang bagus. Perusahaan raksasa seperti e-Buy, Alibaba tertarik masuk ke Indonesia.Maka tidak berlebihan tahun 2016 merupakan tahun pembuka dan tahun 2017 tahun utama bagi e-commerce," kata Aulia.

Menurutnya, perkembangan ekonomi digital di Indonesia masih memiliki peluang yang luas, terlihat dari masifnya inovasi pelaku ekonomi digital dalam melebarkan bisnisnya. "Sekarang belanja online yang semakin maju, juga transportasi dan sebagainya. Melihat prospek ini, keinginan dan harapan menjadikan Indonesia sebagai the next China dalam teknologi digital bisa dilakukan, karena Indonesia masih banyak peluang dengan tantangan," pungkas dia. (agus, iwan)

Related posts