Awas, 'Perang Candu' di Tanah Air

Kerjasama antara jajaran Polri bersama Taiwanese Police atau Kepolisian Taiwan dalam memberantas narkoba, patut mendapat apresiasi. Berkat koordinasi aparat penegak hukum lintas negara, jaringan peredaran narkoba internasional yang menyelundupkan barang terlarang di kawasan Anyer, Banten, berhasil dibongkar.

NERACA

Hampir saja narkoba 1 ton, yang bila dikalkulasikan oleh jaringan narkotika nilainya mencapai Rp1,5 triliun, masuk ke Indonesia. Kalau saja barang laknat ini lolos, setidaknya 5 juta rakyat jadi korban, dibunuh pelan-pelan atau dibuat bodoh. Peran polisi Taiwan dalam membantu membongkar penyelundupan narkotika lintas negara membuktikan, dunia internasional gencar berperang melawan mafia narkoba.

Fakta ini tentu harus menjadi perhatian serius pemerintah. Bahwa mafia internasional bukan saja menjadikan rakyat Indonesia ladang uang, melainkan juga sebagai target pembodohan. Tak berlebihan bila gencarnya upaya menebar racun narkotika jauh lebih jahat dibanding terorisme, karena membuat setiap hari puluhan orang mati sia-sia.

Tak berlebihan pula bila Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dalam berbagai ceramahnya mengingatkan, ‘perang candu’ bertujuan membuat generasi muda Indonesia bodoh dan mudah ditipu. Apalagi barang berbahaya ini sudah masuk ke semua lini. Bukan cuma remaja, pelajar maupun mahasiwa. Kaki tangan bandar juga sudah masuk ke jajaran eksekutif, legislatif, yudikatif, anggota Polri maupun TNI.

Itu sebabnya seluruh komponen harus bergandengan meningkatkan ketahanan bangsa. Apalagi gembong narkotika tidak gentar dengan ancaman hukuman mati dan tidak menghentikan aksi teror mereka, seolah memberi sinyal menantang.

Ada yang harus dicermati pada pernyataan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN), Komjen Budi Waseso. Mafia internasional ternyata memiliki peralatan canggih yang tidak dimiliki Polri maupun BNN. Ini tentu mengerikan karena bisa jadi berton-ton narkoba berulangkali lolos masuk Indonesia. Dan ini diakui oleh Budi Waseso.

Kenyataan ini tentu tidak bisa dianggap sepele. Indonesia bakal dibanjiri narkotika bila mafia internasional mengetahui kelemahan aparat kita, dan ini sudah terjadi. Kebutuhan peralatan teknologi canggih bagi aparat penegak hukum sangat mendesak dan harus dipenuhi, bila kita ingin negeri ini bebas dari cengkeraman mafia.

Langkah lainnya, tingkatkan kerjasama lintas negara dalam memerangi kejahatan transnasional. Indonesia kini dalam kondisi ‘darurat narkoba’. Jangan sampai di negeri ini muncul kartel-kartel yang kemudian mengendalikan aparat negara. Sungguh mengerikan.

Kendati Polri baru saja memecahkan rekor dengan menggagalkan penyelundupan satu ton sabu asal Tiongkok, namun ternyata tidak ada efek psikologis terhadap bandar. Tepat dua hari pasca pengungkapan kasus satu ton sabu, Badan Narkotika Nasional (BNN) berhasil membuat bandar asal Tiongkok gigit jari saat menyelundupkan 50 kg sabu ke Serdang Bedagai, Sumatera Utara.

Tak tanggung-tanggung, dari sembilan orang yang ditangkap, dua di antaranya tertembak mati karena berupaya melarikan diri dan melawan petugas. Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menjelaskan, saat ini baru ada sembilan orang bandar dengan peran operator ditangkap. ”Yang dua meninggal dunia saat proses penangkapan. Dua ini melawan dan tewas karena petugas tidak ingin dia kabur,” ujarnya.

Kasus ini masih sangat hangat. Semua masih dalam pengembangan. Saat ini, masih dikejar pihak lain yang sesuai keterangan tujuh tersangka merupakan bandar besarnya. ”Masih dikembangkan dulu,” ujar jenderal berbintang dua tersebut.

Menurutnya, 50 kg sabu itu dikirim dari Tiongkok menggunakan sebuah kapal dan transit di Malaysia. Kapal itu lalu menurunkan 50 kg sabu ke perahu-perahu nelayan yang disewa oleh bandar. ”Itu dulu ya,” ujarnya sembari menyebut masih berada di bandara Kualanamu, Medan.

Pengungkapan 50 kg sabu ini yang selang dua hari dari pemecahan rekor kasus satu ton sabu menunjukkan Indonesia sudah dalam kondisi darurat peredaran narkoba. Intensitas penyelundupan narkotika begitu tinggi dan bahkan pengungkapan sebesar apapun tidak akan memberikan dampak psikologis pada bandar.

Hanya 20%

Kepala Humas BNN Kombespol Sulistiandriatmoko menuturkan, kemungkinan bandar melakukan perhitungan taktis bahwa saat ada pengungkapan satu ton sabu itu, justru membuat petugas landai. Sehingga, menjadi waktu yang tepat untuk mengirimkan barang haram ke Indonesia. ”Bandar berpikirnya kita akan landai setelah mengungkap satu ton, ternyata tidak,” jelasnya.

Terlebih lagi, diketahui bahwa empat orang yang ditangkap dalam kasus satu ton sabu itu hanya operator lapangan. Bandar besarnya masih bebas di Taiwan dan sebagian ada yang di Indonesia. ”Maka, mereka tetap terus berupaya memasukkan narkotika,” paparnya.

Selain itu, kemungkinan bandar yang mengirim 50 kg sabu ini tidak terhubung dengan bandar yang mengirim satu ton sabu. Karena itu, para bandar ini cuek bebek dan hanya ingin memanfaatkan momentum. ”Yang utama, kondisi ini menunjukkan intensitas penyelundupan narkotika yang begitu deras,” tuturnya.

Bila berdasar data United Nation Office Drugs and Crime (UNODC), pengungkapan narkotika di Indonesia itu hanya 20 persen dari peredaran narkotika. Artinya, bila ada satu ton sabu yang digagalkan peredarannya, maka sudah ada empat ton sabu yang beredar di pasaran Indonesia. ”Begitulah parahnya peredaran narkotika,” jelasnya.

Apalagi, ada prediksi bahwa Indonesia akan menjadi sasaran bandar asal Filipina, dikarenakan bandar asal Filipina mengalihkan pasarnya. Hal itu sebagai dampak dari kebijakan Presiden Filipina Rodigo Duterte yang begitu keras. ”Kita sebagai negara tetangga akan terdampak,” ujarnya.

Dengan begitu, bisa jadi dalam waktu dekat akan mengalir dengan sangat deras penyelundupan narkotika asal Filipina. Kondisi ini memang harus diatasi secara bersama. ”Sinergi semua lembaga dan masyarakat urgen sekali,” pungkasnya. (iwan)

Related posts