Hutan Mangrove di Pesisir Utara Jakarta

Sabtu, 07/01/2012

Di saat dunia mulai peduli dengan perubahan iklim, dengan pencemaran lingkungan, dan mempertahankan pelestarian alam, maka menjadi sangat relavan jika sejenak kita menengok Muara Angke. Sebuah kawasan yang ternyata berperan sangat penting bagi pelestarian ekosistem serta menjadi suaka bagi sejumlah spesies yang terancam punah.

Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) adalah sebuah kawasan hijau, kawasan tersebut tidak saja dikenal karena peran strategis sejak zaman Batavia hingga Jakarta Raya. Lebih dari itu, kota Jakarta sejatinya sangat bergantung pada daerah pesisir utara. Tidak saja dari sudut historis perniagaan, tetapi juga sisi pertahanan keamanan, hingga pelestarian alam.

SMMA merupakan sebuah kawasan hutan bakau Mangrove di pesisir utara Jakarta. Secara adminstratif, kawasan ini termasuk wilayah Kelurahan Kapuk Muara, Kecamatan Penjaringan, kotamadya Jakarta Utara. Kawasan yang berdampingan dengan Perumahan Pantai Indah Kapuk ini hanya dibatasi Kali Angke dengan pemukiman nelayan Muara Angke. Pada sisi utama SMMA, terdapat hutan lindung Angke-Kapuk yang berada dibawah wewenang Dinas Kehutanan DKI Jakarta

Suaka ini ditetapkan sebagai cagar alam oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1939. Setelah 60 tahun menyandang status sebagai cagar alam, pada tahun 1999 Pemerintah RI mengubah status kawasan ini menjadi Suaka Margasatwa. Hal ini, terjadi seiring meningkatnya tingkat kerusakan baik didalam maupun di sekitar kawasan Muara Angke. Meski SMMA yang memiliki luas 25,02 ha ini merupakan Suaka Margasatwa terkecil di Indonesia, namun peranannya sangat besar bagi lingkungan.

Kawasan Muara Angke merupakan hutan bakau terakhir yang tersisa di Propinsi DKI Jakarta. Kawasan terdiri dari Suaka Margasatwa Muara Angke, Hutan Lindung, dan Taman Wisata Alam Angke Kapuk, yang merupakan hutan bakau terakhir dapat dijumpai di Jakarta, keseluruhan kawasan ini memiliki luas 170,06 ha.

Hutan bakau yang masih tersisa ini, tidak hanya penting bagi ekosistem flora dan fauna di dalamnya. Dia juga semacam benteng bagi kota metropolitan, yang berhadapan dengan laut lepas dari bahaya abrasi, intrusi air laut, atau bahkan bahaya tsunami. Tidak hanya itu, keberadaan SMMA juga penting dalam pengendalian banjir Jakarta. Hal ini disebabkan lokasi SMMA yang terletak pada bagian akhir banjir kanal Barat.

Dulu, sebagai upaya melindungi kawasan penyerapan dan perlindungan terhadap abrasi pantai, pemerintah Hindia Belanda menetapkan hutan bakau Muara Angke sebagai kawasan konservasi.

SMMA bisa disebut sebagai salah satu ruang terbuka hijau yang secara ekologis masih memiliki komponen biotik dan abiotik yang cukup lengkap. Namun hingga saat ini, kawasan tersebut belum dikelola secara optimal, sehingga dapat menjadi areal rekreasi alternatif bagi masyarakat Jakarta.

Kondisi habitatnya juga dapat dijadikan laboratorium alam bagi para pelajar dan mahasiswa. Hingga saat ini, SMMA merupakan salah satu daerah tujuan aktivitas pengamatan burung bagi wisatawan mancanegara. Banyak para pengamat burung memanfaatkan waktunya sebelum menuju daerah lain di Indonesia atau sebelum kembali ke daerah asalnya, untuk mengamati burung di kawasan tersebut.

Taman Suaka Margasatwa Muara Angke melindungi tujuh spesies reptile seperti biawak serta berbagai jenis ular sanca dan kobra. Sedikitnya ada 76 jenis burung berada di kawasan itu dan 17 jenis diantaranya termasuk satwa yang dilindungi seperti burung Bubut Jawa, misalnya. Jenis mamalia yang bisa dilihat di kawasan itu adalah monyet ekor panjang dan berang-berang. Oleh karena banyak vegetasi yang rusak, monyet-monyet tersebut sering mencari makan dengan cara mengais sampah di bekal makanan yang dibawa nelayan.