Kerugian MNC Sky Vision Susut 74% di 2016 - Catatkan Laba Selisih Kurs

NERACA

Jakarta – Berkah mengantungi laba kurs sebesar Rp 195,61 miliar, kerugian yang dialami PT MNC Sky Vision Tbk (MSKY) mengecil. Tercatat sepanjang 2016, entitas MNC Group itu mencatat rugi bersih Rp 197,44 miliar, susut sekitar 74% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 758,06 miliar. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan menjelaskan, turunnya keugian itu seiring dengan perolehan laba kurs sebesar Rp 195,61 miliar. Padahal, periode yang sama tahun sebelumnya, MSKY mencatat rugi kurs hingga Rp 527,2 miliar. Sehingga, perolehan tersebut membuat kerugian MSKY jauh mengecil meski sejatinya pendapatan perseroan mengalami penurunan. Pendapatan 2016 tercatat Rp 3 triliun, turun 7% dibanding periode 2015, Rp 3,24 triliun.

Untungnya, beban pokok MSKY ikut mengalami penurunan. Penurunannya sebesar 3% menjadi Rp 2,94 triliun dari sebelumnya Rp 3,03 triliun. Kendati demikian, penurunan pendapatan itu memberikan konsekuensi turunnya laba kotor MSKY sebesar 71% menjadi Rp 60,52 miliar dari sebelumnya Rp 211,17 miliar. Sebagai informasi, tahun ini perseroan berencana melakukan penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue sebanyak-banyaknya 1.2 juta saham dengan nominal Rp100.

Disebutkan, penambahan modal dengan HMETD ini memerulkan persetujuan terlebih dahulu dari Pemegang Saham Luar Biasa yang akan diselenggarakan pada 12 Mei 2017. Nantinya, seluruh dana yang diperoleh dalam rangka penambahan modal dengan HMETD ini akan dipergunakan untuk modal kerja, sedangkan saham baru yang diterbitkan dalam rangka penambahan modal dengan HMTED sebagian akan dipergunakan untuk konversi uang muka setoran modal menjadi saham perseroan.

Sesuai rencana, rights issue bakal digelar pada semester kedua tahun ini. Asal tahu saja, mempertahankan menjadi leader market di pasar tv berlangganan di dalam negeri merupakan tantangan besar bagi MSKY ditengah serbuan banyaknya pemain baru. Maka untuk mensiasati menenuhi target bisnis, perseroan akan fokus pada pelayanan dan penjualan langsung kepada pelanggan.

Dengan strategi tersebut, perseroan menyakini akan bisa memenangkan kompetisi. Terlebih perseroan didukung dengan SDM yang melimpah. Dalam industri televisi berlangganan dibutuhkan pelayanan yang maksimal secara langsung. Pasalnya jika terjadi masalah dan tidak dilayani hanya dalam kurun waktu tiga sampai hari, maka kemungkinan besar pelanggan tersebut akan berpindah operator.

BERITA TERKAIT

Inovisi Infracom Belum Catatkan Pendapatan

NERACA Jakarta – Ancaman delisting terhadap PT Inovisi Infracom Tbk (INVS) membuat kekhawatiran sebagian investor yang dananya terlanjut mengendap di…

Hutama Karya Targetkan Laba Rp 1,6 Triliun

PT Hutama Karya (Persero) memproyeksikan peningkatan laba tahun berjalan lebih dari tiga kali lipat atau menjadi Rp1,688 triliun per akhir…

Laba BNI Tumbuh 31,6%

      NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk pada kuartal III 2017 membukukan laba sebesar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Pendapatan BTEL Susut Jadi Rp 1,51 Miliar

Bisnis telekomunikasi milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) terus menyusut. Tengok saja, hingga periode 30 Juni 2017 meraih pendapatan sebesar…

Saham IPO ZINC Oversubscribed 500 Kali

Kantungi dana segar hasil peawaran umum saham perdan atau initial public offering (IPO), PT Kapuas Prima Coal Tbk (ZINC) menyiapkan…

Hotel dan Residensial Beri Kontribusi - Penjualan PP Properti Proyeksikan Tumbuh 60%

NERACA Jakarta – Jelang tutup tahun yang tinggal dua bulan lagi, PT PP Properti Tbk (PPRO) terus bergerilya untuk memenuhi…