Waspadai Tren Kelangkaan Pangan

Di tengah kemajuan ilmu pengetahuan belakangan ini, pelayanan kesehatan dan kualitas pangan dapat membuat harapan hidup manusia mencapai 70 tahun. Sementara di sisi lain, luas lahan pertanian makin menyempit, terdesak keperluan nonpertanian. Lantas bagaimana meningkatkan produksi pangan saat pestisida mencemari sungai, danau, dan air? Lalu mampukah produksi digenjot saat terjadi erosi genetika intensif, serta lahan rusak, dan hanya tersedia sedikit pengairan irigasi?

Pertanyaan ini penting untuk kita jawab. Karena produksi pangan di saat perubahan iklim dan cuaca semakin sulit diprediksi, pola tanam sekarang menjadi kacau balau. Maka untuk bisa memberi makan 9,5 miliar manusia pada 2050, menurut FAO, dunia harus meningkatkan produksi pangan sebesar 70%. Bila tidak mampu mencukupi, tentu akan terjadi kelaparan massal. Saat ini ada sekitar satu miliar manusia dalam kondisi perut lapar ketika menjelang tidur.

Ini menggambarkan volatilitas ekstrem dan lonjakan harga pangan merupakan hasil dari fenomena baru, yaitu penimbunan besar-besaran produk derivatif komoditas pangan. Menurut Executive Director Food First Eric Holt Gimenez (2011), produk keuangan khusus yang dikreasi lembaga keuangan kuat seperti Wall Street, para investor institusional maupun hedge fund dunia berebut menimbun.

Pola kerjanya, investor institusional mengubah komoditas pangan jadi aset spekulatif. Keuntungan spekulatif, bukan permintaan riil, jadi pembimbing harga pangan internasional. Kemudian investor kuat melobi dan menyuap anggota parlemen guna menderegulasi pasar keuangan dengan membebaskan mereka dari tanggung jawab publik. Selanjutnya, investor institusional menimbun produk derivatif dengan memperjualbelikan secara berulang-ulang sehingga menciptakan kelangkaan pangan (semu) di pasar berjangka.

Hasil dari serangkaian transaksi derivatif ini adalah harga meroket karena investor institusional telah menciptakan kejutan permintaan, sehingga terjadi kelangkaan buatan ( semu) yang sangat besar di pasar pangan global. Kondisi ini terjadi pada rentang 2007–2008 saat krisis pangan mencapai puncak dan berulang pada 2010. Pada periode itu harga sejumlah pangan pokok seperti beras,gandum,dan jagung naik dua-tiga kali lipat. Kejutan permintaan itu akhirnya menciptakan ratusan juta warga miskin baru.

Sebaliknya, korporasi multinasional menangguk keuntungan besar lewat spekulasi. Lalu diimbangi volatilitas ekstrem dan lonjakan harga pangan, akibat spekulasi memiliki ramifikasi rumit karena spekulan bukan perusahaan gurem, tapi korporasi transnasional (TNCs) yang kekuatan modalnya jauh melampaui entitas sebuah negara.

Ketika situasi tenang kembali, spekulan nyaman membiakkan investasi di pasar finansial. Nah, saat bergejolak, mereka berhamburan keluar dari sarang membawa portofolio investasi. Mereka mencari tempat yang lebih aman untuk mengeramkan investasi, salah satunya di pasar komoditas.

Menurut data Bank of International Settlements, investasi di pasar komoditas (di luar emas dan logam mulia) pada 2002 baru US$770 miliar, naik US$7 triliun (Juni 2007), dan melesat jadi US$12,6 triliun pada Juni 2008. Hingga sekarang ini belum ada aturan ketat yang membatasi gerak perusahaan untuk berspekulasi di pasar komoditas.Tanpa aturan ketat, spekulasi di pasar komoditas akan membuat harga pangan tidak stabil karena faktor kelangkaan semu. Jadi para pemrotes Occupy Wall Street tidak salah menduduki Wall Street, karena bursa itu dianggap menciptakan malapetaka.

Related posts