Investment Grade Indonesia

Oleh : Prof. Firmanzah Ph.D

Dekan Fakultas Ekonomi UI

Perjalanan panjang ekonomi Indonesia pasca krisis 1997-1998 membuahkan hasil dengan kembalinya posisi “Investment-Grade” yang dilakukan oleh lembaga pemeringkat internasional Fitch Ratings. Fitch menaikkan posisi long term foreign dan local currency issuer default ratings (IDR) Indonesia menjadi BBB- dari BB+ dengan outlook terhadap keduanya stabil.

Sementara itu counter-ceilling Indonesia menjadi BBB dan short term-foreign currency naik menjadi F3. Prestasi kembalinya posisi investment grade Indonesia perlu segera diantisipasi oleh pengambil kebijakan, untuk mengarahkan aliran dana asing ke sektor yang produktif.

Kenaikan peringkat Indonesia ditopang oleh pertumbuhan ekonomi yang kuat dan resilien, rasio utang publik yang rendah dan cenderung menurun, likuiditas eksternal yang kuat dan kebijakan makro yang mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudence). Berbeda dengan sejumlah negara maju di Eropa yang justeru masuk dalam daftar downgrade karena krisis keuangan dan ekonomi yang terjadi. sementara sejumlah negara berkembang yang masuk dalam G-20 seperti Turki dan Brasil posisi mereka masih dibawah Indonesia. Hal ini semakin menegaskan peningkatan daya-saing Indonesia untuk menarik modal dan investasi asing.

Meski terjadi lompatan besar pada posisi ini, bila dibandingkan dengan sejumlah beberapa negara ASEAN lainnya, posisi Indonesia masih dibawah mereka. Peringkat Singapura adalah AAA, Malaysia A- dan Thailand BBB. Ke depan, dengan adanya tren positif ekonomi dan stabilitas nasional diharapkan dengan hasil pemeringkatan ini maka Indonesia akan menjadi salah satu negara tujuan pemodal asing untuk berinvestasi. Menjelang Pemilu 2014, diharapkan semua kekuatan politik untuk dapat menjaga stabilitas mengingat ketidakstabilan kondisi politik akan berdampak buruk bagi kondisi yang semakin kondusif.

Momentum keberhasilan Indonesia kembai ke posisi “investment-grade” perlu dioptimalkan meningkat sejumlah kawasan kurang menarik untuk dijadikan tempat investasi oleh pemilik modal. Sementara di Indonesia sendiri kebutuhan akan pembiayaan proyek infrastruktur yang tertuang dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sangatlah besar.

Dua pertimbangan ini yang perlu dijadikan dasar pertimbangan agar pengambil kebijakan di Indonesia untuk dapat menjaga keterkaitan antara sektor finansial (pasar modal, obligasi, perbankan dll) dengan sektor riil. Begitu pula aliran modal asing yang akan masuk ke Indonesia perlu tersalurkan ke sektor-sektor yang dapat memberikan multiplier-effect terhadap peningkatan aktivitas produksi dan kesejahteraan manusia Indonesia.

Dan tidak hanya terkonsentrasi di pasar keuangan yang justeru berpotensi menciptakan kondisi penggelembungan (bubble). Membanjirnya dana asing perlu segera diantisipasi melalui perangkat peraturan dan kebijakan nasional, baik dari sisi moneter dan fiskal, dan ditopang oleh kebijakan industri, ketenagakerjaan, perdagangan dan infrastruktur fisik agar industrialisasi pengolahan hasil sumber daya alam dapat ditingkatkan.

Related posts