BEI Di Ingatkan Soal Tren Merger Bursa Global

NERACA

Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) meminta Bursa Efek Indonesia mengantisipasi tren bursa global yang melakukan penggabungan atau merger. Hal ini terlihat dari tren pengumuman London Stock Exchange yang membeli bursa di Kanada TMX, dan diikuti oleh penggabungan Deutsche Boerse dengan NYSE Euronext,

Ketua Bapepam-LK Nurhaida mengatakan, guna menghindari dari merger bursa global, maka BEI harus meningkatkan aktivitas pengembangan bursa dalam negeri sehingga dapat bersaing di tingkat regional."Di bursa saham Indonesia banyak yang perlu dikembangkan dan kami juga harus melihat kebutuhan ke depan," ujarnya di Jakarta, Selasa (22/2).

Dijelaskannya, bursa global melakukan merger karena didukung permintaan yang terbatas di bursa saham tertentu.Namun untuk kondisi bursa dalam negeri dinilai belum perlu melakukan merger dengan bursa lain karena masih banyak potensi domestik yang bisa ditingkatkan dan dikembangkan di bursa saham dalam negeri ini.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito menambahkan, Indonesia masih memiliki potensi domestik yang tinggi. Kapitalisasi pasar bursa masih mencapai 50% dari total pendapatan domestik bruto Indonesia."Belum terlalu dipikirkan untuk merger. Potensi dalam negeri masih sangat tinggi sehingga dibutuhkan pertumbuhan anorganik," paparnya.

Selain itu bentuk pasar modal yakni mutual corporation adalah yang berlaku di Indonesia. Hingga kepemilikan bursa, juga menjadi hak anggotanya. "Untuk saat ini tidak. UUPM kita masih menyatakan bursa kita bentuknyamutual corporation. Artinya bursa dimiliki oleh AB. Jadi tidak mungkin untuk merger dengan bursa lain. Kalau yang melakukan, bursa-bursa yang sudah demutualisasi. Mutualisasi artinya siapa saja bisa menjadi pemegang saham tidak harus anggota bursa atau broker,"kata Ito.

Sebagai informasi, kapitalisasi pasar saham di BEI 29 Desember 2010 tercatat naik 60,63% menjadi Rp 3.243,77 triliun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 2.019,38 triliun. “Kenaikan itu karena kenaikan harga saham dan masuknya emiten baru,” demikian disampaikan Direktur Utama BEI Ito Warsito.

Membaiknya kinerja BEI akhir tahun lalu mendapatkan apresiasi dari Wakil Menteri Keuangan Anny Ratnawati yang menilai, kinerja IHSG tercatat hasil yang terbaik di kawasan ASEAN hingga Asia Pasifik. Dimana membaiknya kinerja indeks juga terlihat dari indikator utama bursa yang memiliki kapitalisasi dan transaksi yang besar.

Nilai transaksi harian tahun lalu mencapai Rp 4,8 triliun, tumbuh 18,74% dibanding akhir 2009 sebesar Rp 4,05 triliun per hari.Sedangkan, frekuensi rata-rata perdagangan harian saham hingga akhir tahun lalu mencapai 105.878 kali, meningkat 21,64% dari periode yang sama tahun sebelumnya 87.040 kali dengan volume transaksi mencapai 5,44 miliar saham per hari, turun 10,67% dibanding periode yang sama tahun 2009 sebanyak 6,09 miliar saham per hari.

Kemudian untuk transaksi obligasi konvensional, obligasi syariah, sukuk korporasi dan Efek Beragun Aset (EBA) di sepanjang 2010 tercatat sebesar Rp 90,01 triliun, naik 132% dibanding Rp 38,86 triliun pada 2009.

Frekuensi transaksinya mencapai 15.017 kali, naik 51% dibanding 9.936 kali pada 2009. Nilai transaksinya naik 128% menjadi Rp 365,9 miliar per hari. Selain itu, aktivitas perdagangan Surat Berharga Negara (SBN) termasuk SBSN, ORI, dan sukuk ritel mencapai Rp 1.429,5 triliun, tumbuh 79% dibandingkan Rp 799,9 triliun pada 2009.

Efek-efek ini ditransaksikan sebanyak 81.484 kali, naik 55% dibanding 52.693 kali pada 2009. (ardi/bani)

Related posts