Banten Desember 2016 Alami Inflasi 0,61 Persen

Selasa, 10/01/2017
Banten Desember 2016 Alami Inflasi 0,61 Persen

Banten Desember 2016 Alami Inflasi 0,61 Persen

NERACA

Serang - Provinsi Banten pada Desember 2016 mengalami inflasi 0,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yang tercermin dari naiknya angka Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 132,73 menjadi 133,18.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Banten Agoes Soebeno di Serang, Senin (9/1), mengatakan inflasi terjadi karena naiknya enam dari tujuh indeks pada kelompok pengeluaran antara lain kelompok bahan makanan naik 0,80 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,96 persen dan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar naik 0,13 persen.

Kemudian kelompok kesehatan naik 0,66 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 0,28 persen, dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan naik sebesar 0,99 persen. Hanya pada kelompok sandang mengalami penurunan indeks sebesar 0,19 persen.

Kelompok-kelompok komoditas yang memberikan andil/sumbangan terhadap inflasi Banten di antaranya kelompok bahan makanan 0,1827 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,1931 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,0304 persen, kelompok kesehatan 0,0372 persen dan kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga 0,0190 persen.

Kemudian kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,1606 persen. Hanya pada kelompok yang memberikan andil deflasi yaitu kelompok sandang yaitu sebesar 0,0105 persen.

Soebeno juga mengatakan beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga yang cukup tinggi selama bulan Desember 2016 antara lain cabe rawit, tarip angkutan udara, kol putih, cumi-cumi, buncis dan telur ayam ras. Sementara komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain adalah buah pir, bawang merah, pepaya, tomat buah, emping mentah dan melon.

Dari 107 komoditas yang ada pada kelompok bahan makanan, 104 komoditas di antaranya mengalami koreksi harga. Koreksi harga positif atau kenaikan harga terjadi pada 71 komoditas. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yang cukup besar antara lain telur ayam ras 0,0715 persen, bayam 0,0352 persen, bawang putih 0,0302 persen dan cabe rawit 0,0203 persen. Sedangkan komoditas yang memberikan andil deflasi antara lain bawang merah sebesar 0,0620 persen, cabe merah 0,0234 persen, daging ayam ras 0,0187 persen, melon 0,0142 persen dan pepaya sebesar 0,0141 persen.

Semua sub kelompok yang ada pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau mengalami kenaikan indeks yaitu berturut-turut sub kelompok makanan jadi naik 1,07 persen; sub kelompok minuman yang tidak beralkohol 0,39 persen dan sub kelompok tembakau dan minuman beralkohol naik 1,24 persen.

Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah pada komoditas rokok kretek 0,0363 persen; mie 0,0277 persen, kue kering berminyak 0,0193 persen dan air kemasan 0,0137 persen. Sementara komoditas yang memberikan andil deflasi terbesar adalah gula pasir 0,0026 persen dan minuman ringan 0,0008 persen.

Secara keseluruhan kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar memberikan andil inflasi 0,0304 persen, dimana kontribusi terbesar disumbangkan oleh pengharum cucian/pelembut 0,0099 persen, kenaikan tarip listrik dengan andil sebesar 0,0089 persen, keramik 0,0048 persen dan cat tembok dengan andil 0,0036 persen. Sementara komoditas yang memberi andil deflasi diantaranya adalah bahan bakar rumahtangga 0,0033 persen, semen 0,0028 persen dan AC sebesar 0,0006 persen. Ant