Empat Pilar Dongkak Daya Saing SDM

NERACA

Jakarta—Sosialisasi 4 pilar menargetkan mahasiswa sebagai salah satu program guna membangun kemandirian bangsa. Alasanya 4 pilar bangsa itu modal kemandirian. Sehingga bisa meningkatkan daya saing, terutama sumber daya manusia. “Mahasiswa dikenal sebagai agent of change atau agen perubahan. Karena itu kemandirian bangsa melalui kualitas SDM sangat penting,” kata politisi PDI Perjuangan Puan Maharani saat menjadi keynote speaker dalam Sosialisasi 4 Pilar kerjasama MPR dengan FISIP Universitas Indonesia, Rabu, 7 Desember 2011.

Lebih jauh kata Puan, peran Bhinneka Tunggal Ika menjadi demikian penting dan menjadi modal pembangunan Indonesia ke depan. “Sejarah sudah mencatat aksi mahasiswa di tahun ’98 yang melahirkan reformasi Indonesia,”tambahnya.

Puan mengingatkan Pancasila tidak cukup hanya diketahui tapi juga harus dilaksanakan. Masalahnya Bung Karno telah memperkenalkan bagaimana penerapan ekonomi Pancasila guna membangun kekuatan ekonomi Indonesia. “Apalagi oleh mahasiswa sebagai agen perubahan. Kalau mau ada perubahan ya harus ada yang dilaksanakan," tambahnya.

Anggota Komisi VI DPR RI ini menegaskan mengetahui Bhinneka Tunggal Ika saja tidak cukup. Berdasarkan data BPS pada 2011 menunjukkan sekitar 70% masyarakat Indonesia sudah tahu tentang Pancasila, UUD ’45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

"Namun kenyataan di lapangan, sering terjadi konflik horizontal di Indonesia dengan alasan perbedaan. Ini bisa mengganggu ekonomi dan hubungan antar suku, antar umat beragama, dan konlik lainnya," ucap Puan.

Sebagai almamater UI, Puan menceritakan bila dulu tahun ’60-an di Kampus UI dikenal semboyan “Buku, Pesta dan Cinta” dalam kehidupan mahasiswanya, dia berharap kelak dikenal semboyan “Buku, Cinta dan Bangsa”. “Jangan lupa bangsa yang artinya Anda juga memiliki tanggung jawab menjaga keutuhan dan memajukan bangsa," papar Puan.

Puan mengenang masa lalu saat ada diskusi yang bahas semacam 4 pilar ini langsung diawasi intel-intel dan dicap kelompok radikal. Karena dianggap menerapkan politik praktis. Sekarang justru sosialisasi ini merupakan hasil kerjasama Fraksi MPR dengan berbagai universitas di Indonesia. Jadi salah kalau ada yang bilang ini “politik praktis masuk kampus tapi yang benar adalah “4 pilar bangsa dan negara masuk kampus”. "Teman-teman saya ada juga yang waktu itu sering sembunyi-sembunyi dari kejaran aparat atau intel,” cetusnya.

Padahal bicara 4 pilar itu, lanjut Puan, bukan bicara politik praktis tapi bicara bangsa dan negara. Namun itu dulu saat masih jaman otoriter. Kalau sekarang, sosialisasi atau diskusi tentang 4 pilar seperti acara ini sudah bisa dilakukan di kampus-kampus," tuturnya. "Dulu sebelum tahun ’98 namanya kampus, termasuk UI itu ingin disterilkan oleh penguasa. Pokoknya kerjaan mahasiswa hanya kuliah saja gak perlu atau gak boleh mikirin yang lain," tambahnya Puan.

Diskusi 4 pilar sangat penting sekali dilakukan di kampus-kampus. "Di Indonesia, yang namanya perbedaan atau keragaman adalah kenyataan. Sekarang tergantung kita apakah akan diam saja melihat kita terpecah-belah dengan alasan keragaman? Atau kita mau bersikap pro-aktif menjadikan keragaman sebagai dasar persatuan," harap Puan. **cahyo

Related posts