Rampas Harta Koruptor

Upaya memiskinkan koruptor dan keluarganya diharapkan dapat melahirkan perubahan perilaku secara signifikan dan mengubah gaya hedonistis bagi sebagian orang, yang selama ini melakukan perbuatan korup untuk kepentingan pribadinya.

Kita bisa melihat beberapa ciri koruptor a.l. memiliki sifat serakah, hidup bermewah-mewahan tanpa memikirkan penderitaan rakyat. Bagaimanapun, korupsi adalah mengambil secara tidak jujur perbendaharaan milik publik atau barang yang diadakan dari pajak yang dibayarkan masyarakat untuk kepentingan memperkaya dirinya sendiri.

Tindakan korupsi menurut perspektif keadilan atau pendekatan umum, misalnya mengatakan bahwa korupsi adalah mengambil bagian yang bukan menjadi haknya. Artinya, tingkah laku yang menyimpang dari tugas-tugas resmi suatu jabatan secara sengaja untuk memperoleh keuntungan berupa status, kekayaan atau uang untuk perorangan, keluarga dekat atau kelompok sendiri.

Gaji kecil yang tidak mencukupi untuk hidup yang layak dari bulan ke bulan sering menjadi alasan untuk membenamkan diri. Apalagi kalau hampir semua orang di tempat itu telah menganggap hal itu adalah hal yang biasa. Tahu sama tahu, untuk tidak mengatakan atasan mereka juga melakukan hal yang sama.

Secara struktural, memberantas korupsi berarti memberantas KKN dengan memberdayakan komisi pemeriksaan kekayaan pejabat dan latar belakang kehidupannya. membangun sistem pencegah dini korupsi, UU Antikorupsi yang konsisten, memberikan jaminan hidup yang layak bagi pegawai, sistem pembuktian terbalik, pengumuman dan audit kekayaan pejabat sebelum dan sesudah bertugas, serta membuat iklan layanan masyarakat di media massa dan di kemasan produk yang dikonsumsi semua orang.

Bangsa ini perlu banyak belajar dan merenung untuk menghargai bahwa korupsi merugikan orang banyak yang telah bekerja keras dan berlaku jujur. Tindakan korupsi tidak menghargai fitrah manusia yang diilhamkan kepadanya untuk cinta kepada kebaikan. Dengan begitu kita semua sedang belajar untuk hidup lebih lurus. Anak bangsa ini lahir dan besar dalam kondisi majemuk dan berbeda status sosial ekonominya. Ada yang kaya dan ada yang lahir dalam serba berkekurangan.

Dalam kemajemukan tersebut, keragaman pandangan dan pilihan untuk memelihara dan menjinakkan perilaku korupsi adalah hal biasa dan harus kita hargai. Dengan kemauan mengoreksi kesalahan berarti kita berpeluang untuk mengatasi krisis apapun. Krisis adalah peluang di masa sulit. Bangsa ini perlu membangun kehidupan sehari-hari yang berdasar etika yang kuat, aturan-aturan hukum yang dibuat aspiratif dan partisipatif, dengan begitu keadilan akan datang dengan sendirinya.

Adalah calon pimpinan (capim) KPK Abdullah Hehamahua mengusulkan koruptor harus mengganti seluruh kerugian keuangan negara yang disebabkan perbuatannya. Uang pengganti tidak sebatas uang yang dinikmati, sebagaimana putusan hakim selama ini. Perampasan kekayaan koruptor ini juga meliputi bunga dari uang korupsi yang disimpan di bank.

”Uang hasil korupsi dipakai membeli rumah bak istana, mengendarai mobil mewah, berganti-ganti pasangan, serta mengonsumsi makanan dan minuman yang mahal,” paparnya dalam sebuah diskusi di Jakarta belum lama ini.

Jadi, sangat tepat jika pemerintah harus merampas semua aset terdakwa koruptor, termasuk perusahaan yang diperoleh dari proses pengembangan uang hasil korupsi. Apabila seluruh harta kekayaan koruptor dan keluarganya setelah disita, tetapi ternyata masih ada uang pengganti yang belum dilunasi, sisa uang tersebut merupakan utang yang harus dilunasi koruptor dan keluarganya. Ini tentu bisa membuat jera para koruptor.

BERITA TERKAIT

Kejagung Kaji Unsur Korupsi ASN Koruptor Terima Gaji

Kejagung Kaji Unsur Korupsi ASN Koruptor Terima Gaji NERACA Jakarta - Kejaksaan Agung (Kejagung) akan mengkaji adanya unsur korupsi terkait…

KPK: Kerugian Negara Akibat Gaji Koruptor Masih Dihitung

KPK: Kerugian Negara Akibat Gaji Koruptor Masih Dihitung NERACA Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo mengatakan kerugian…

Pengamat: Kejaksaan Belum Maksimal Memburu Koruptor

Pengamat: Kejaksaan Belum Maksimal Memburu Koruptor  NERACA Jakarta - Kejaksaan harus lebih maksimal dan punya strategi kekinian dalam memburu buronan…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewaspadai Politisasi Emak-Emak

Oleh : Rika Prasetya, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia     Beberapa pekan yang lalu, media mengulas fenomena…

Selamat Bertanding Secara Beradab Kedua Kubu Koalisi

  Oleh : Doddy Soemintardjo, Pemerhati Kajian Informasi Strategis   Jika tidak ada aral melintang,  dalam waktu dekat akan dilakukan…

Kendalikan Ekspektasi Liar dari Pelemahan Mata Uang

Oleh: Dr. Fithra Faisal Hastiadi MSE., MA., Dosen FEB-UI  Tekanan terhadap rupiah memang cukup banyak. Kondisi internal perekonomian kita juga…