Pasar Modal Aman dan Citra

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Otoritas pasar modal selalu sesumbar bila pasar modal saat ini sudah bertransformasi modern dan terpercaya. Namun ironisnya, keyakinan tersebut tidak seiring dengan apa yang diharapkan para pelaku pasar. Pasalnya, setiap tahun selalu ada saja kejahatan pasar modal yang terkuak.

Belum lama ini adalah kejahatan penggelapan dana nasabah PT Falcon Asia Resources Management (Falcon) oleh manajemen perseroan dengan bekerjasama dengan PT CIMB Niaga Tbk sebagai bank kustodian. Modus yang dilakukan sangat klasik dengan pemalsuan tanda tangan direktur untuk menarik dana nasabah di bank custodian. Kasus yang menimpa nasabah Falcon bukan kali pertama dilakukan dan sebelumnya modus yang sama juga dilakukan PT Bank Mega Tbk (Mega) yang membobol dana deposito PT Elnusa Tbk sebesar Rp 111 miliar yang bekerjasama dengan direktur keuangan Elnusa.

Dugaan sementra pembobolan dana milik Elnusa berawal dari pencairan dana deposito dengan alibi untuk berinvestasi. Pencairan ini dilakukan dengan persetujuan Direktur Keuangan Elnusa Santun Nainggolan ke rekening PT Discovery. Dari catatan Bank Mega, pencairan dilakukan hingga 5 kali sejak September 2009 mencapai Rp 50 miliar, Oktober 2009 sebesar Rp50 miliar, November 2009 sebesar Rp40 miliar, April 2010 Rp10 miliar, dan Juli 2010 sebesar Rp11 miliar.

Berkaca dari kasus teranyar Elnusa dan Falcon merupakan deretan panjang kejahatan pasar modal di Indonesia, yang sebelumnya juga terjadi pada Sarijaya Sekurias, Antaboga dan kasus lainnya. Kejahatan pasar modal yang tiap tahun selalu terjadi merupakan tamparan telak bagi pemerintah yang jauh hari selalu sesumbar jika saat ini industri pasar modal di Indonesia jauh lebih aman dibandingkan sebelumnya.

Mungkin pemerintah boleh saja berkata demikian, namun fakta dilapangan tidak bisa dibohongi. Karena bagi investor kepercayaan merupakan harga mahal dan tidak hanya sekedar untung. Buat apa untung, tetapi selalu was-was dananya bisa di bobol oleh manajemen investasi atau pemilik perusahaan. Tentunya, apa yang pernah disampaikan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Ito Warsito, untuk dapat menjaga tiga pilar pasar modal, yakni pertumbuhan ekonomi dan politik yang baik, pasar uang stabil, serta kinerja emiten yang bagus, kondisi pasar modal Indonesia harus tetap positif walau tidak serta merta menjamin industri pasar modal positif, dan sebaliknya bakal runtuh bila kejahatan pasar modal belum bisa diminimalisir.

Menyinggung soal meminalisir kejahatan pasar modal tidak hanya menjadi kepentingan pemerintah sementara atau otoritas pasar modal, tetapi juga peran serta para pelaku pasar dan investor. Pasalnya, secanggihnya sistem pasar modal dibuat tetap saja bobol dan hanya sikap kewaspadaan dan kejelian menjadi kunci utama pelaku pasar untuk tidak lengah dengan berbagai iming-iming keuntungan. Bila sudah begitu, potensi kejahatan pasar modal dan risikonya bisa terdeteksi sejak dini dan bukan sebaliknya jatuh pada lubang yang sama.

BERITA TERKAIT

Modal Pemerintah di Koperasi, Mungkinkah?

Oleh : Agus Yuliawan  Pemerhati Ekonomi Syariah Koperasi yang merupakan soko guru perekonomian nasional—sebenarnya mampu memberikan kontribusi yang besar terhadap…

Kerusakan Jalan dan Tanggul Air di Tambun Utara

Dekat dengan Jembatan Besi penghubung Kota Bekasi dan Kab Bekasi. Akibat longsor karena derasnya aliran sungai DAS Cikeas dan Cileungsi yang…

Manfaat Integrasi dan Pertukaran Data Perpajakan bagi DJP

Oleh: Aditya Wibisono, Kepala Seksi Kerja Sama dan Humas, Kanwil Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Wajib Pajak Besar Saat ini Kanwil…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Kebijakan Impor Belum Signifikan Turunkan Harga Beras

Oleh: Budi Santoso Pasokan beras impor secara bertahap mulai memasuki gudang Perum Bulog dan sampai saat ini tercatat 57.000 ton…

Putusan Mahkamah yang Dinilai Aneh

Oleh: Maria Rosari Beberapa waktu lalu Mahkamah Konstitusi (MK) memutus tiga perkara permohonan uji materi atas pasal 79 ayat (3)…

Kembalinya Debitur Sontoloyo

Oleh: Eko B. Supriyanto, Pengamat Perbankan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan berulang-ulang mempersoalkan masalah wait and see dunia usaha.…