Kriteria BLT Harus Transparan

Melihat perkembangan jumlah penduduk miskin dari waktu ke waktu akan memunculkan perdebatan mengenai keberhasilan pemerintah menanggulangi kemiskinan. Proses dinamika tersebut tentu tidak lepas dari masih adanya jutaan penduduk Indonesia yang sekarang masih hidup di ambang garis kemiskinan. Akibatnya, pergerakan status penduduk di sekitar ambang tersebut cenderung relatif tinggi.

Sebagai contoh gambaran data antara Maret 2009 dan 2010. Pada periode tersebut, terdapat ada 14,7 juta penduduk miskin yang meningkat pengeluarannya melewati garis kemiskinan. Namun, pada saat yang sama dijumpai 13,2 juta penduduk yang awalnya tidak miskin, lalu pada Maret 2010 tergelincir jatuh ke bawah garis kemiskinan. Karena itu, antara 2009 dan 2010, secara neto hanya 1,5 juta penduduk yang keluar dari kemiskinan.

Fenomena seperti ini terjadi dari tahun ke tahun. Hal ini terjadi karena jumlah penduduk yang hidup di sekitar garis kemiskinan itu memang sangat besar. Fakta di atas menunjukkan bahwa Indonesia juga menghadapi masalah kerentanan. Artinya, ada kelompok besar penduduk yang dapat dengan mudah jatuh ke bawah garis kemiskinan. Lalu, bagaimana antisipasi yang harus dilakukan pemerintah untuk hal ini?

Selama ini, kita sudah mengenal dengan baik berbagai program untuk penanggulangan kemiskinan di negeri ini. Diantaranya memiliki sasaran langsung kepada rumah tangga miskin seperti bantuan langsung tunai (BLT). Selain itu, kita juga memiliki program beras untuk keluarga miskin (raskin), jaminan kesehatan masyarakat (Jamkesmas), program keluarga harapan (PKH), dan juga subsidi pendidikan untuk siswa dari keluarga miskin.

Nah, untuk mengamankan penduduk agar tidak jatuh miskin, dan orang-orang miskin juga tidak jatuh lebih miskin lagi (melarat), maka satu strategi penting yang perlu dilakukan adalah mengurangi beban hidup mereka dan meng-cover risiko yang mungkin terjadi. Pemberian BLT, subsidi pendidikan, dan raskin sesungguhnya adalah upaya mengurangi beban hidup tersebut. Sementara Jamkesmas sangat penting untuk meng-cover risiko yang dihadapi bila seseorang jatuh sakit.

Kita akui belakangan ini sering menjadi perdebatan di berbagai kalangan, apakah penanganan kemiskinan lebih efektif melalui pembagian BLT ataukah dalam bentuk pembagian raskin? Keduanya punya sisi positif dan negatif. Namun, untuk kondisi darurat akibat krisis yang disertai fluktuasi harga pangan, maka BLT sebenarnya sangat efektif. Ini penting untuk menahan agar dalam situasi yang luar biasa akibat krisis, orang miskin tidak jatuh terjerembab lebih dalam lagi.

Berbagai survei menunjukkan bahwa jika diberikan uang tunai, kelompok miskin secara umum dapat mempergunakannya dengan baik. Memang sering ada tudingan bahwa BLT di masa lalu itu sarat dengan muatan politis. Hal ini muncul karena penetapan BLT terkesan bersifat ad-hoc, diputuskan oleh pemerintah karena mengantisipasi kondisi sesaat. Namun, pemerintah justeru seharusnya meyakinkan publik bahwa program seperti ini bukan untuk bagi-bagi uang atau menyenangkan rakyat.

Karena itulah penting bagi pemerintah untuk menetapkan kriteria kapan dan dalam kondisi apa suatu program BLT dapat digulirkan. Kriteria ini sudah ditetapkan sejak awal dengan mengaitkan faktor inflasi harga pangan. Jika inflasi tersebut melewati tingkat tertentu, pemerintah dapat meluncurkan program BLT untuk jangka waktu yang juga telah ditentukan, misalnya untuk 2-3 bulan. Dengan adanya kriteria yang jelas terukur, maka program bantuan tunai tidak bisa lagi memiliki dimensi politis. Hanya pada saat krisis saja maka program tersebut dijalankan untuk membantu rakyat miskin.

BERITA TERKAIT

BUMN Harus Mampu Sebagai Jangkar Kinerja Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan kontribusi ekspor BUMN mencapai sekitar lima miliar dolar AS tahun ini. PT…

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…

Perdagangan Dunia Harus Tumbuh

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Di bolak balik melihat perkembangan kondisi perekonomian saat ini adalah tidak ada…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Mewaspadai Politisasi Emak-Emak

Oleh : Rika Prasetya, Peneliti di Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia     Beberapa pekan yang lalu, media mengulas fenomena…

Selamat Bertanding Secara Beradab Kedua Kubu Koalisi

  Oleh : Doddy Soemintardjo, Pemerhati Kajian Informasi Strategis   Jika tidak ada aral melintang,  dalam waktu dekat akan dilakukan…

Kendalikan Ekspektasi Liar dari Pelemahan Mata Uang

Oleh: Dr. Fithra Faisal Hastiadi MSE., MA., Dosen FEB-UI  Tekanan terhadap rupiah memang cukup banyak. Kondisi internal perekonomian kita juga…