Pertamina Usul Listrik Geothermal 10 Sen Dolar

NERACA

Jakarta--- PT Pertamina (Persero) mengusulkan harga jual listrik yang bersumber dari energi panas bumi (geothermal) minimal 10 sen dolar AS per kWh. Sehingga menarik investor mengembangkan panas bumi. "Kalau 10 sen dolar AS per kWh, saya pikir bakal banyak investor yang tertarik di geothermal," kata Direktur Hulu Pertamina M Husen di Jakarta, Rabu,9/11.

Menurut Husen salah satu kendala pengembangan panas bumi adalah rendahnya harga jual listrik yang hanya antara 5-7 sen dolar AS per kWh. Padahal harga panas bumi 10 sen per dolar kWh cukup layak karena hanya sepertiga BBM yang mencapai 30 sen dolar per kWh.

Dengan harga panas bumi yang jauh lebih murah dibandingkan BBM, lanjutnya maka pemanfaatannya akan menghemat subsidi listrik. Apalagi, panas bumi merupakan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. "Sayang sekali kalau sumber energi yang sangat strategis ini tidak segera dikembangkan," ujarnya.

Husen juga mengatakan, dengan harga jual listrik yang rendah, maka investor hanya akan memperoleh keuntungan yang tipis. Investor, tambahnya, akan lebih tertarik berinvestasi di bidang minyak dan gas yang memiliki risiko nisbi sama. "Kalau investasi di minyak, perbandingan antara modal dan harga jual bisa 1:10. Tentunya investor lebih tertarik mengembangkan minyak," tuturnya

Pemerintah akan merevisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 2 Tahun 2011 tentang harga listrik yang bersumber dari energi panas bumi. Harga panas bumi nantinya akan berbeda-beda tergantung kondisi dan wilayahnya.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM Sugiharto Harsoprayitno mengatakan, pemerintah akan memakai harga BBM sebagai acuan menetapkan harga panas bumi di suatu wilayah. Sesuai Permen ESDM 2/2011 itu, pemerintah mewajibkan PLN membeli listrik dari pembangkit listrik tenaga panas bumi dengan harga maksimal 9,7 sen dolar per kWh.

Diakui Sugiharto, meskipun harga pembelian listrik panas bumi maksimal US$ 9,7 sen per kWh. Namun harga itu tetap lebih rendah ketimbang harus menyalakan pembangkit berbahan bakar minyak yang menelan biaya hingga US$ 30 sen per kWh. "Sejauh itu lebih murah dibanding bahan bakar minyak, itu tetap akan dipakai," ujar Sugiharto.

Beberapa tarif listrik panas bumi yang lebih tinggi dari US$ 9,7 sen per kWh adalah PLTP Jailolo US$ 19,1 sen per kWh, PLTP Sokoria US$ 13,8 sen per kWh, dan PLTP Jaboi US$ 18,9 sen per kWh. Seperti diketahui, 40 persen potensi panas bumi dunia berada di Indonesia, dengan kapasitas mencapai 29.038 megawatt.

Namun pemanfaatan energi baru ini masih belum optimal. Sampai tahun 2010 lalu, kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi baru mencapai 1.189 megawatt atau sekitar 4 persen dari total potensi listrik panas bumi Indonesia sebesar 29.038 megawatt. Listrik panas bumi tersebut dihasilkan dari 7 wilayah kerja panas bumi, yaitu Sibayak 12 MW, Salak 375 MW, Wayang Windu 227 MW, Kamojang 200 MW, Darajat 225 MW, Dieng 60 MW, dan Lahendong 60 MW. **cahyo

BERITA TERKAIT

Konsumen Berhak untuk Tarif Listrik Wajar

  NERACA Jakarta - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan konsumen berhak atas tarif listrik…

Penggabungan PGN Ke Pertamina - Oleh : Jajang Nurjaman, Koordinator Investigasi Center for budget Analysis (CBA)

Hingga september 2017 total aset Perusahaan Gas Negara (PGN) mencapai USD6.307.676.412 atau setara Rp83.892.096.279.600 (Kurs Rupiah Rp 13.300). Bahkan PGN…

Kejagung Usut Usulan Investasi Pertamina di Australia

Kejagung Usut Usulan Investasi Pertamina di Australia  NERACA Jakarta - Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) mengusut…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Pengendalian Harga Mencegah PLN Bangkrut Akibat Harga Batubara

      NERACA   Jakarta - Sesuai prinsip berbagi keadilan Kabinet Kerja Joko Widodo, maka pengendalian harga batubara melalui…

Kemampuan Moneter Calon Gubernur BI Harus Teruji

      NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Enny Sri Hartati,…

Mendes Sebut Penyerapan Dana Desa Terus Meningkat

    NERACA   Semarang - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Eko Putro Sandjojo menyebutkan penyerapan dana…