Banjir Thailand Jadi Pelajaran Penting

Senin, 31/10/2011

Menjelang musim hujan tiba di negeri ini dalam waktu dekat ini, pemerintah Indonesia sejatinya harus belajar dari pengalaman Thailand yang dalam beberapa pekan terakhir dilanda bencana banjir. Hingga saat ini, banjir bahkan diperkirakan terus meluas setelah menggenangi Bandara Don Muang dan mengancam seluruh wilayah kota Bangkok.

Tragedi itu diprediksi masih akan terjadi hingga sebulan ke depan. Ini berarti sinyal bahaya sudah mulai terasa dari Bangkok, tidak hanya untuk Thailand melainkan juga untuk negara tetangga lainnya. Dampak bencana banjir di Thailand terasa bukan hanya sebatas di kawasan regional melainkan juga menjangkau kawasan global.

Luapan air di negeri Gajah Putih itu sepantasnya harus direspon sebagai sebuah peringatan tanda bahaya bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara perlu bersiap-siap menyiapkan langkah-langkah antisipasi dampak bencana Thailand dari berbagai sisi, terutama ekonomi dan keuangan.

Karena sudah terbukti misalnya, aktivitas operasional sejumlah pabrik besar milik Jepang di Thailand terpaksa menghentikan proses produksi, yakni Sony Corp, Nikon Corp dan Honda Motor Co. Hal itu dipastikan akan membawa dampak berantai yang panjang terkait aktivitas perdagangan dan ekonomi.

Banjir yang melanda Thailand memang fenomenal dan menakutkan. Lebih dari 300 warga tewas dalam bencana itu. Bencana yang menenggelamkan seluruh negeri itu dalam krisis memicu letupan sosial, politik, ekonomi dan bisa menyeret negeri itu ke tepi jurang kekacauan. Bagi negara lain, termasuk Indonesia, bencana itu diprediksi mengancam ketersediaan pangan bagi warga Thailand dan Asia Tenggara. Pasalnya, Thailand merupakan lumbung pangan di kawasan ini. Indonesia saja sudah mulai memikirkan mengimpor beras dari India.

Belajar dari pengalaman pahit Thailand menghadapi bencana itu tentu sangat penting bagi Indonesia. Musim hujan yang akan segera tiba dsetidaknya perlu persiapan antisipatif penting. Alangkah naifnya apabila di kemudian hari terjadi bencana, pihak-pihak yang semestinya bertanggung jawab mencari permakluman dengan menyebut bencana itu sebagai siklus. Ilmu pengetahuan, khususnya klimatologi dan meterologi, semestinya dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk menganalisis, memprediksi, dan memetakan kemungkinan dampak.

Kita melihat kondisi tata ruang dan sistem pengairan di Indonesia tidak lebih baik bahkan kurang dibanding di Thailand, pemetaan dan prediksi itu adalah sebuah urgensi. Berbekal prediksi klimatologi dan meteorologi, lembaga-lembaga terkait penanganan bencana sudah bisa melakukan mitigasi bencana. Termasuk di dalamnya adalah penyiapan bahan pangan, dana talangan,dana pemulihan. Dengan persiapan yang lebih matang, diharapkan hal itu akan semaksimal mungkin mengurangi dampak bencana bagi masyarakat.

Selain persiapan terhadap bencana, pemerintah Indonesia juga perlu memperhatikan kebijakan taktis untuk membendung kemungkinan efek domino jika terjadi krisis ekonomi akibat lumpuhnya aktivitas produksi dan perekonomian Thailand.

Yang sudah terjadi sekarang mengganggu produksi, adalah Toyota Motor Corporation yang memiliki basis produksi di Thailand kehilangan 6.000 unit pasokan Prius ke AS dalam sepekan karena terhentinya pengiriman beberapa komponen penting ke Jepang. Karenanya, tidak ada pilihan lain kecuali bergerak cepat menyiapkan jaring pengaman.

Jaringan infrastruktur seperti drainase dan saluran banjir kanal yang ada di Jakarta misalnya, harus segera dibenahi dan ditata lebih baik supaya mampu mengalirkan air banjir hingga ke sungai dan laut. Jika kondisi drainase tetap buruk, maka dipastikan Jakarta siap tergenang banjir hebat siklus lima tahunan pada 2012. Waspadalah!