Tidak Patuh Hukum

Oleh: A Eko Cahyono

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Keputusan pemerintah menyerahkan delapan nama calon pimpinan (capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke DPR telah sesuai dengan ketentuan Undang-undang dan final. Namun lagi-lagi DPR memberi contoh buruk bagi rakyat. Ketika Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan jabatan Jaksa Agung Hendarman Supanji tidak sah. Maka DPR mendesak presiden segera mencopot Hendarman. Bahkan jika tidak segera ganti, presiden dinilai tidak patuh hukum. Padahal putusan MK final dan mengikat.

Melihat proses pemilihan capim KPK kemarin, sangat jelas terlihat bagaimana perilaku anggota DPR mencari-cari alasan. Bahkan terkesan menghambat dan berusaha mengambangkan proses pemilihan capim KPK tersebut. Deadlock soal jumlah capim yang harus diusulkan antara 8 atau 10 mempertontonkan bagaimana DPR menafsirkan UU KPK, pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkesan semau-maunya.

Ada indikasi DPR tak sreg dengan 8 nama capim dan juga dengan gaya kepemimpinan Busro yang berani memeriksa Banggar DPR. Ditambah lagi dengan UU KPK yang berkaitan dengan jabatan Busyro itu. Padahal keputusan MK berlaku untuk Busyro dan berlaku surut, artinya berlaku saat itu juga

Jangan dikira rakyat masih bodoh dan tak bisa menilai tindakan lima fraksi yang menolak yaitu F-PDIP, F-Golkar, F-Gerindra, F-Hanura dan F-PKS. Mereka memperlihatkan contoh buruk di mata publik, karena tidak patuh hukum, alias melanggar putusan MK.

Intinya, DPR telah menafsirkan UU semaunya saja dan menafsirkan keputusan MK. UU dibaca bukan berdasarkan bagaimana seharusnya suatu ketentuan keputusan pengadilan dibaca. Sama semangatnya saat mengatakan posisi Chandra Hamzah tetap tersangka walaupun kasusnya sudah di-deponeering

Penafsiran DPR yang semau-maunya ini berpangkal dari kepentingan politik masing-masing fraksi. Akhirnya kepentingan politik menjadi "panglima" dan kepentingan hukum diabaikan

Yang jelas permintaan sepuluh nama calon pimpinan KPK justeru akan menimbulkan permasalahan baru. Selain itu jika nama Busyro Muqoddas ikut dimasukkan, maka tak ada jaminan pemilihannya tidak akan cacat hukum. Misalnya saja, usulan 10 nama capim dengan memasukkan Busyro untuk fit and proper test lagi, namun kemungkinan dia tidak terpilih lagi. Lalu buat apa dimasukkan ke DPR. Toh sekarang Busyro sudah jadi pimpinan KPK.

Jika Busyro kembali dipilih, maka masa jabatannya akan menjadi lima tahun. Tidak sesuai dengan UU KPK yang menyebutkan masa jabatan pimpinan KPK hanya empat tahun. Jelas ini akan menimbulkan masalah baru

Kalaupun masa jabatan Busyro berakhir pada 2014. Maka DPR tak perlu memilih satu pimpinan KPK lagi. Justru pemilihan Busyro pada 2010 lalu karena kekhawatiran akan pimpinan KPK yang tinggal berjumlah dua orang. Sebab kursi Busyro bisa dibiarkan kosong sampai pemilihan calon pimpinan KPK selanjutnya pada 2015. Meski hanya dengan empat orang pimpinan, maka KPK bisa berjalan dengan efektif.

BERITA TERKAIT

Jaksa KPK Tidak Memahami Proses Pemberian SKL

Jaksa KPK Tidak Memahami Proses Pemberian SKL NERACA Jakarta - Tim penasehat hukum terdakwa mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional…

Ekonom UI : Investor Diminta Tidak Panik

NERACA Jakarta – Jeli dan cermat berinvestasi terhadap mengkonsumsi kondisi informasi disekitar, mutlak diperlukan bagi seorang investor agar tidak salah…

Syafruddin Temenggung Tidak Melanggar Hukum, Ini Alasan Yuridisnya

Syafruddin Temenggung Tidak Melanggar Hukum, Ini Alasan Yuridisnya NERACA Jakarta - Mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arysad…

BERITA LAINNYA DI OPINI

Bijak Memaknai Iklan Pemerintah

  Oleh : Herlina Teturan, Mahasiswa Papua, tinggal di Yogyakarta   Beberapa pekan yang lalu, masyarakat diramaikan oleh pro kontra “Iklan…

Mengapa Pemerintahan Jokowi Menuai Pujian?

  Oleh : Dodik Prasetyo, Pemerhati Ekonomi Politik   Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menuai banyak pujian atas keberhasilan penyelenggaraan…

Mengantisipasi Hasil Pertemuan IMF Bank Dunia di Bali

  Oleh: Prof Dr. Umar Basalim, Guru Besar Universitas Nasional Seperti pernah saya tulis di rubrik ini terkait dengan IMF/World…