Dampak Krisis Global Atas Kinerja Bursa

Oleh: Dr. Agus S. Irfani

Lektor Kepala FE Univ. Pancasila, Jakarta

Krisis keuangan global yang memuncak belakangan ini telah memicu terjadinya resesi di Amerika Serikat dan Eropa. Sebelumnya krisis yang berawal dari kebangkutan kredit perumahan murah di Amerika Serikat (AS) juga berdampak pada esunya perekonomian sejumlah negara di dunia, termasuk Indonesia.

Ditinjau dari sisi pertumbuhan kinerja Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2002-2011 antara lain ditandai oleh pesatnya pertumbuhan indikator utama bursa, yaitu indeks harga saham gabungan (IHSG) yang mengalami peningkatan sangat signifikan hingga mencapai 623,91%, yaitu dari 451,64 pada Januari 2002 menjadi 3.269,45 pada 4 Okt. 2011.

Pertumbuhan negatif IHSG selama kurun waktu tersebut hanya terjadi pada 2008, yaitu anjlok sebesar -5,10% dari posisi IHSG 2.627,25 (Jan.2008) menjadi 1.355,408 (Des.2008). Hal ini diduga kuat sebagai dampak dari memuncaknya krisis keuangan global pada masa itu. Fakta empirik di BEI menunjukkan bahwa krisis keuangan global telah berdampak pada koreksi IHSG di BEI sebesar -41,98% dari 2165,9 pada akhir Agust. 2008 ke angka 1256,7 pada awal Okt. 2008, sehingga pada 8 Okt. 2008 perdagangan saham di BEI dihentikan sementara.

Secara sistemik, dampak krisis global terhadap IHSG tersebut tidak terlepas dari pergerakan keluar masuknya arus modal asing ke BEI. Fakta empirik di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan saham di bursa lebih banyak dilakukan oleh pemodal asing daripada pemodal lokal. Sejak tahun 2006 hingga tahun 2011 perdagangan saham di BEI didominasi oleh pemodal asing dengan rata-rata kepemilikan di atas 66%.

Di satu sisi, kondisi ini merefleksikan adanya persepsi positif pemodal asing terhadap BEI, tetapi di sisi lain hal ini mengindikasikan adanya ketergantungan aktivitas perdagangan di BEI pada kontribusi pemodal asing, sehingga tidak mengherankan jika kondisi bursa sangat rentan terhadap isu global.

Besarnya peranserta pemodal asing di bursa lokal itu merupakan konsekuensi logis dari keterbukaan pasar modal Indonesia seiring dengan diberlakukannya SK Menkeu No. 455/ KMK.01/1997 yang mengizinkan pemodal asing memiliki hingga 100% dari total nilai saham yang ditawarkan di pasar perdana, maupun yang diperdagangkan di bursa.

Di samping itu terdapat “pull factor” lainnya, seperti relatif stabilnya kondisi perekonomian Indonesia dan murahnya harga saham-saham di pasar modal Indonesia, sehingga proporsi kepemilikan pemodal asing atas saham yang diperdagangkan di bursa menjadi sangat fenomenal. Selama kurun waktu 2002-2008 volume kepemilikan saham oleh pemodal asing meningkat 337,79% dari 113,51 miliar lembar (2002) menjadi 496,93 miliar lembar pada 2008. Pada periode yang sama nilai kepemilikan saham pemodal asing meningkat 326,03% dari Rp185,53 triliun menjadi Rp790,39 triliun.

Kemudian sejak akhir 2009 hingga 2010 indeks terus melejit, bahkan sempat menembus angka psikologis 4.000 pada akhir Juli 2011 sebagai capaian tertinggi yang pernah dialami BEI. Namun, sebaliknya Begitu ada penarikan kepemilikan asing secara besar-besaran pada Agust. dan Sept. 2011, akhirnya juga memukul pertumbuhan IHSG yang terpuruk ke level 3.425, 68 pada penutupan perdagangan 7 Okt. 2011. Jelas, ini dampak dari terlalu besarnya ketergantungan bursa terhadap peranserta pemodal asing telah menyumbang rentannya kinerja BEI terhadap isu finansial global.

Related posts