Revolusi Hijau dari Tanaman Organik

Sabtu, 08/10/2011

NERACA. Hippocrates, pemikir ilmu kesehatan modern, mengungkapkan bahwa, “Biarkan makanan menjadi obat Anda dan biarkan obat menjadi makanan Anda.” Pemikiran ini menyudutkan kita pada sebuah pertanyaan besar, mengapa kita seharusnya memilih makanan?

Menelisik istilah makanan organik, sebenarnya tidak sepenuhnya mengacu pada objek makanan tersebut, namun lebih menekankan pada bagaimana proses produksi dan pengolahan makanan tersebut.

Kenyataan bila hingga sekarang kita tidak lepas sepenuhnya dari penggunaan proses kimiawi dan pestisida adalah benar. Contoh, ketika tanah masih tetap mengandung bahan kimia karena penggunaan pupuk urea. Atau polusi udara dan air yang juga turut memberikan andil kian menurunnya kualitas kesehatan di masyarakat.

Alasan lain adalah masalah masa depan. Generasi penerus kita tidak seharusnya menerima akibat negatif dari apa yang kita lakukan sekarang. Sebuah hasil studi terakhir membuktikan bahwa anak-anak terkena empat kali lebih banyak efek pestisida daripada orang dewasa.

Bahkan sampai sekarang tercatat setidaknya ada delapan jenis pestisida dalam makanan yang dapat menyebabkan kanker. Dan pilihan makanan yang non-residu kimia dan pestisida, hingga saat ini dituding sebagai pembawa pengaruh penting pada kesehatan generasi mendatang.

Alasan lain adalah penghematan energi. Kebanyakan pertanian modern sekarang menggunakan bahan bakar minyak bumi. Hingga mencapai total 12% yang dikonsumsi oleh sektor tersebut. Artinya? Banyak energi yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk kimia daripada untuk mengolah dan memanen tanaman.

Secara kesehatan, pestisida ternyata bisa juga menyebabkan kanker. Hampir 1,4 juta kasus kanker di dunia disebabkan oleh bahan ini. Ternyata pestisida juga memberikan pengaruh pada cacat kelahiran, kerusakan syaraf dan mutasi genetik.

Memilih makanan berarti kita menolong kelangsungan hidup petani. Secara kesehatan, para pekerja pertanian terancam saat harus menggunakan pestisida. Ini karena aturan penggunaan pestisida di negara berkembang belum menjamin keamanan penggunaannya.

Hingga sekarang diperkirakan satu juta petani mengalami keracunan pestisida per tahunnya. Beberapa jenis pestisida yang dilarang digunakan di negara AS ternyata masih diproduksi dan diekspor ke negara-negara berkembang tersebut.

Memilih makanan organik ini bila dilihat dari segi nutrisi, yang ternyata mengandung kandungan gizi lebih baik dibandingkan dengan bahan pangan non-organik. Sehingga secara logika berarti lebih membantu proses pertumbuhan dan perbaikan tubuh apabila mengalami masalah kesehatan.

Dan yang tidak dapat dimungkiri adalah semakin intensifnya penggunaan pestisida dan antibiotik pada pertanian konvensional. Sebelum munculnya Revolusi Hijau dengan teknologi modernnya tahun 1960-an, pertanian konvensional sendiri sudah berada pada kondisi hama penyakit yang kebal terhadap pestisida.

Karena itu pertanian organik muncul sebagai pilihan yang dianggap lebih bersahabat terhadap lingkungan, “Berasal dari alam dan dikembalikan ke alam.” Dan bila konsumen sekarang ini memilih makanan organik karena alasan kesehatan, tentu akan menjadi sebuah cara untuk ikut memperbaiki lingkungan, sepanjang memang diproduksi dengan cara yang benar-benar organik.

Masalah lain tak kalah penting terkait makanan organik adalah kemauan kita melindungi kualitas air. Karena dua pertiga dari tubuh kita mengandung air. Air juga memenuhi dua pertiga isi bumi ini. Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Namun hingga sekarang kebanyakan air tanah diperkirakan telah tercemar oleh pestisida.

Bahkan terdapat 38 negara yang tingkat pencemaran airnya melebihi ambang batas, dan mirisnya berarti lebih dari setengah penduduk negara tersebut meminum air tercemar tadi. So bukan sesuatu yang merugikan bila kita memutuskan menggunakan jenis produk makanan organik sebagai alternatif makanan keluarga kita di rumah, yang sekaligus mengurangi tingkat kerusakan lingkungan di bumi yang kita cintai ini.