Uji Ketangguhan Ekonomi

Oleh : Ahmad Nabhani

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Tragedi pemboman gereja di Solo, Jawa Tengah, merupakan mimpi buruk di siang bolong. Bagaimana tidak peristiwa tersebut memberikan sentakan kesunyian bagi masyarakat bila aksi terorisme di Indonesia masih terus ada. Padahal masyarakat jauh sebelumnya percaya kondisi keamanan dalam negeri kondusif dan tidak terpikir akan muncul lagi aksi terorisme, kendati sempat terjadi bentrokan di Ambon beberapa pekan sebelumnya, hal ini mampu diredam oleh pihak keamanan untuk tidak semakin melebar.

Pasca tragedi pemboman, sudah biasa bila pihak kepolisian dan intelijen mulai bersikap reaksional dengan melakukan berbagai macam razia dan pengamanan ketat agar tidak terulang kembali, dan meredam potensi aksi bom bunuh diri berikutnya. Namun kesibukan dibalik pencarian dalang dan kelompok teroris tersebut, adalah polemik adanya pengalihan isu yang berbau politik seperti korupsi yang dilakukan pejabat negara hingga isu membongkar kembali kasus Bank Century.

Apapun itu, bagi pelaku ekonomi kejadian itu tidak mempengaruhi dampak secara signifikan terhadap roda perekonomian atau iklim investasi, bahkan aksi terorisme tersebut dinilai masih kalah dahsyatnya bila dibandingkan dengan "bom" krisis ekonomi global yang sedang melanda Eropa dan Amerika.

Kemudian bila sudah begitu, pertanyaannya apakah perekonomian dalam negeri tahan banting sebagaimana yang diklaim pemerintah tentang fundamental ekonomi Indonesia masih bagus, sehingga tidak terpengaruh signifikan dampak aksi terorisme di Solo. Pernyataan Menko Perekomian Hatta Rajasa tentang bom di Solo, bahwa tidak mengganggu iklim investasi dan dunia usaha menjadi angin segar bagi pelaku investor asing untuk tidak was-was selama berada di Indonesia pasca krisis Eropa.

Padahal bila dilihat peristiwa terorisme sebelumnya, perekonomian dan dunia investasi sangat rawan terhadap keamanan yang tidak kondusif. Karena memang sudah hukumnya, menciptakan roda perekonomian yang baik harus seirama dengan stabilitas politik dan keamanan.

Hal yang perlu dikritisi bagi pelaku ekonomi sekarang, adalah membangun kepercayaan diri untuk tangguh menghadapi ancaman dari luar dan dalam. Kepercayaan menjadi kata kunci untuk bangkit lebih awal ketika dihadang hambatan dan kendala yang ada. Saat inilah yang perlu dibangun investor lokal, khususnya industri pasar modal untuk tidak terpengaruh terhadap aksi investor asing yang melepas portofolio sahamnya di Indonesia.

Bila berkaca lebih jauh, Indonesia masih menjadi ladang yang aman untuk berinvestasi karena memberikan nilai keuntungan yang lebih selain fundamental ekonomi yang kuat, inflasi terjaga dan stabilitas politik yang kondusif. Setidaknya, kondisi ini yang dikeluhkan otoritas pasar modal sulitnya membangun kepercayaan pelaku pasar untuk mengkoleksi saham yang sedang murah.

Kemudian menguji sejauhmana ketahanan ekonomi dalam negeri bisa tetap positif dengan dampak krisis global dan juga stabilitas keamanan. Pasalnya, bagaimana pun juga bila sudah teruji tahan banting ekomomi kita, pemerintah sudah tidak perlu lagi panik dan repot mendatangkan investor asing. Sudah saatnya, klaim pemerintah membuktikan kepada dunia ketangguhan ekonomi dalam negeri dan tidak hanya berupa wacana kajian empirik belaka.

Related posts