Penjualan Motor Bebek Stagnan, Matic Meningkat Drastis

Sabtu, 08/10/2011

NERACA - Tahun 2005 merupakan tahunnya motor jenis bebek dengan tingkat penjualan yang mendominasi pasar di Indonesia. Dengan angka penjualan hingga 90 persen atau sebanyak 4,98 juta unit. Tapi dengan kehadiran skubek, hanya dalam kurun waktu lima tahun, market share-nya turun drastis hanya 46 persen saja di tahun 2010.

Menurut Agustinus Indraputra, GM Marketing Planning & Analysis Division PT Astra Honda Motor (AHM) bahwa sebenarnya dengan angka penjualan tersebut sepeda motor tipe bebek memang terus stagnan di angka 3 juta unit tiap tahunnya. Tapi pasar secara keseluruhan terus meningkat dan sepeda motor jenis skubek ternyata jauh lebih diminati.

Di tahun 2010, saat total pasar mencapai 7,21 juta unit, sepeda motor tipe bebek hanya mampu terjual 3,32 juta unit atau menguasai 46 persen market share. Sedang skubek mencapai 47 persen dengan 3,37 juta unit. “Ditahun 2011, diperkirakan total pasar sepeda motor akan mencapai 8 juta unit. Kontribusi bebek diprediksi tinggal 40 persen, sedang 50 persennya adalah skubek,” terangnya.

Sedangkan menurut Sigit Kumala, GM Sales Division PT AHM walaupun penjualan motor tipe bebek mengalami stagnan tapi hal tersebut tidak berlaku diseluruh daerah di Indonesia. “Pertumbuhannya memang mengecil, tapi di beberapa daerah seperti Sulawesi, Sumatera Utara, Jambi dan Aceh, permintaan bebek masih cukup tinggi,” terangnya.

Infrastruktur yang masih belum memadai di beberapa daerah membuat bebek lebih fungsional dengan roda 17 inci. Medan tak bersahabatpun lebih mudah dilalui menggunakan bebek ketimbang skubek.

Selain itu Sigit menambahkan PT Astra Honda Motor (AHM) tetap berupaya mempertahankan penguasaan pangsa pasar di segmen sepeda motor bebek (cub) dengan merilis SupraX 125 Helm In. Meskipun penjualannya terus turun, Honda tetap meyakini penjualan jenis ini bisa tembus lebih dari 3 juta unit dari total target penjualan 8,2 juta unit pada akhir tahun.

President Director AHM, Yusuke Hori mengatakan, dirilisnya SupraX 125 Helm In itu untuk memperkuat pasar bebek di dalam negeri. Meskipun mesinnya sama, raja motor bebek itu dibekali 14 perubahan, di antaranya bagasi sangat luas menjadi 19,5 liter dan tangki bensin sanggup menampung 5,6 liter hingga mampu menempuh perjalanan 287 kilometer.

Hori mengaku bahwa pihaknya ingin tetap menjaga dominasi di segmen motor bebek, khususnya kelas high end yang dihuni SupraX (kelas 125 cc). “Supra adalah raja motor bebek di kelasnya. Data terakhir pangsa pasarnya mencapai 62 persen,” ucapnya.

Executive Vice President Director AHM Johannes Loman mengatakan, pasar sepeda motor bebek masih besar walaupun cenderung turun dalam beberapa tahun belakangan ini. Data Asosiasi Industri Sepedamotor Indonesia (AISI), selama Januari sampai Agustus tahun ini penjualannya tercatat hanya 2,16 juta unit atau pangsa pasar 39,6 persen dari total market. Angka tersebut turun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 2,42 juta unit, meskipun pasar keseluruhan tahun ini mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan tahun lalu.

Khusus di segmen bebek high end, pada periode Januari sampai Agustus 2011 penjualan mencapai 722.385 unit atau naik 4,8 persen dari 689.188 unit pada periode yang sama tahun lalu. SupraX 125 menguasai pangsa pasar sebesar 62 persen atau sebanyak 447.804 unit.

Loman mengatakan, turunnya penjualan sepeda motor bebek belakangan ini akibat tingginya penjualan motor matik yang saat ini pangsa pasarnya sudah lebih dari 50 persen. “Sudah begitu adanya. Masyarakat sepertinya lebih memilih yang praktis,” ungkapnya.

Pihaknya sudah melakukan analisa bahwa kontribusi penjualan motor bebek tahun ini masih bertahan di kisaran 40 persen atau di atas 3 juta unit. “Kami perkirakan mencapai 3,24 juta unit. Maka, pasar segmen ini masih sangat penting,” tegasnya.

Di segmen bebek kelas high end dan low end, Honda sudah menjadi pemimpin pasar. Akan tetapi di kelas middle end masih menjadi milik kompetitor. Meski begitu, kata Indra, pihaknya sedang dalam proses merebut penguasaan pangsa pasar di kelas middle motor bebek.

Terlebih Honda memiliki sejarah kuat dalam perkembangan motor bebek di Indonesia, terutama dari brand Supra. Sejak 1971, penjualan motor bebek Honda sekitar 22 juta unit dan 11 juta unit di antaranya dari penjualan Supra sejak 1997. “Supra ini sudah muncul selama 14 tahun dan masih menjadi pemimpin pasar,” terusnya.

Sementara itu, SupraX125 Helm In terbaru ditawarkan di harga Rp15,6 juta (on the road DKI Jakarta). Direktur Pemasaran AHM Auddie A Wiranata mengatakan, dengan adanya produk ini maka target penjualan Supra ditambah sekitar 8 ribu sampai 12 ribu unit per bulan dari semulai 60 ribu unit per bulan. “Sehingga targetnya sekitar 70 ribu unit per bulan,” ucapnya.