Berbisnis Franchise ala Gerobak

Sabtu, 01/10/2011

NERACA. Perkembangan bisnis franchise di Indonesia, saat ini semakin pesat. Dari franchise lokal hingga luar negeri. Ini karena tingginya minat masyarakat untuk mencoba peluang bisnis. Besarnya animo masyaralat pada bisnis franchise yang belum memiliki pengalaman dan kemampuan dalam berbisnis, layaknya sebuah jawaban dari kondisi sebagaian orang yang masih kesulitan untuk memulai sebuah bisnis.

Dari aneka franchise yang ditawarkan, bisnis dibidang makanan menjadi peluang bisnis yang paling banyak dipilih masyarakat. Franchise makanan dipilih karena prospek bisnisnya sangat menarik dibandingkan dengan bisnis franchise lainnya.

Franchise makanan targetnya adalah masyarakat umum. Dan uniknya, tak sedikit orang yang lebih yakin dengan produk yang memiliki brand, termasuk produk makanan. Mulai dari investasi bernilai milyaran rupiah hingga kemitraan ala ‘gerobakan’ yang tentu dapat dijangkau calon mitra dengan modal tak terlalu besar.

Investasi franchise makanan ala gerobak terbilang cukup murah, apalagi dapat modal dapat berbalik dengan cepat. Biasanya para franchisor (orang uang mengambil franchise) akan menawarkan pola kemitraan ala gerobak dengan investasi mulai dari dua juta rupiah sampai belasan juta rupiah.

Selain cepat berbalik modal, rata-rata para franchisor memberikan jaminan pada mitranya dengan rentang waktu tertentu, misalnya dipastikan akan kembali modal kurang dari satu tahun. Maka tak heran jika banyak orang tertarik dengan kemitraan ala gerobak, karena keuntungan yang ditawarkan cukup menggiurkan.

Pada umumnya kemitraan ala gerobak hanya membutuhkan lokasi usaha yang strategis, sedangkan untuk peralatan dan bahan baku awal semuanya di support oleh franchisor. Sehingga para mitra hanya perlu mempersiapkan lokasi usaha, dan calon tenaga kerja saja, karena diluar itu, ditanggung oleh perusahaan yang menyelenggarakan kemitraan.

Karena menggunakan gerobak sebagai media tempat usaha,maka para mitra tidak membutuhkan lokasi usaha yang besar, sehingga biaya sewanya juga tidak terlalu mahal. Sebagai gambaran, para mitra bisa menyewa lokasi sekitar 2-3 m2 di depan minimarket atau di pinggir jalan yang ramai dilalui orang. Disamping itu, kemitraan gerobak juga tidak membutuhkan banyak tenaga kerja. Paling banyak hanya mempekerjakan dua orang tenaga kerja saja. Jadi, setiap bulannnya tidak memakan biaya operasional yang terlalu besar.

Namun meskipun saat ini banyak franchisor yang mewaralabakan bisnisnya, tidak semua produk yang ditawarkan berhasil menarik minat konsumen. Selama ini produk kemitraan yang ditawarkan para franchisor adalah produk makanan yang sudah umum dipasaran. Seperti burger, kebab, fried chicken, serta teh kemasan yang sebenarnya sudah banyak ditawarkan dengan berbagai merk. Karena itu sebelum bergabung dengan sebuah kemitraan, pastikan untuk memilih produk yang benar-benar berkualitas dan memiliki potensi pasar cukup bagus.

Perhitungan lain adalah perkembangan jumlah mitra yang semakin meningkat, yang ternyata tidak selalu berdampak baik bagi para mitranya. Utamanya bagi mitra yang lokasinya cukup jauh dengan franchisor. Kendala utama jarak ini, adalah operasional bisnis yang kurang terkontrol dengan baik. Karena itu, walaupun ada franchisor yang akan membantu Anda dalam menjalankan usaha, namun jangan sepenuhnya bergantung kepada mereka. Belajarlah menjalankan usaha secara mandiri, dengan bimbingan dari franchisor Anda.

Murahnya biaya investasi yang ditawarkan penyelenggara kemitraan ala gerobak, kadang membuat sebagian besar para mitra menjadikannya sebagai ajang coba-coba. Mereka tidak menjalankan kemitraan dengan serius, bahkan meninggalkan kemitraannya bila omset yang dihasilkan ternyata tidak bisa optimal.

Kondisi ini tentunya akan merugikan franchisor dan mitra lainnya, ini jelas akan membuat citra sebuah franchise dipandang kurang berkualitas. Bahkan tidak sedikit para franchisor yang menawarkan sistem kemitraannya dengan perencanaan yang kurang matang, akibatnya pola kemitraan tidak berjalan lancar, dan akhirnya kandas di tengah persaingan bisnis waralaba yang kian tajam.

Dalam sistem franchise, keberadaan seorang mitra tentunya menjadi salah satu kebutuhan utama selain modal usaha. Bahkan bisa dikatakan keberhasilan bisnis franchise tidak terlepas dari kiprah dan dukungan para mitra yang bergabung dibawahnya. Hal itulah yang membuat sebagian besar franchisor melakukan seleksi cukup ketat dalam memilih calon mitra, karena mereka tidak menginginkan brand miliknya tercoreng akibat perilaku mitra yang kurang bertanggungjawab.

Karena itu, untuk memutuskan membeli bisnis franchise bukan berarti melimpahkan semua tanggung jawab kepada franchisor. Karena sebagai mitra Anda pun memiliki kewajiban penuh untuk mengembangkan bisnis tersebut. Dan berhasil tidaknya bisnis franchise yang dijalankan akan tergantung oleh franchise-nya. Sehingga Anda sebagai seorang franchisor wajib mengikuti sistem kemitraan yang telah disepakati dan menjaga nama baik brand yang ditawarkan. Selamat mencoba.