Sari Roti Raup Laba Bersih Rp 67,12 Miliar

Senin, 27/04/2015

NERACA

Jakarta- Sepanjang kuartal pertama tahun 2015, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI) membukukan laba bersih sebesar Rp67,12 miliar atau naik 9,6% dari posisi sebesar Rp61,24 miliar miliar di kuartal I-2014. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin.

Perseroan juga mencatatkan laba bersih per saham menjadi Rp13,26 per saham di kuartal I-2015, atau naik dari posisi Rp12,10 per saham di kuartal I-2014. Laba bruto menjadi Rp275,25 miliar di kuartal I-2015, atau naik dari laba bruto tahun sebesar Rp220,25 miliar di kuartal I-2014. Laba sebelum pajak menjadi Rp89,62 miliar di kuartal I-2015, atau naik dari laba sebelum pajak sebesar Rp81,82 miliar di kuartal I-2014.

Sementara laba yang naik berdampak baik bagi penjualan perseroan. Penjualan jadi Rp518,86 miliar, dari posisi pendapatan sebesar Rp464,60 miliar di kuartal I-2014. Beban pokok penjualan menjadi Rp243,61 miliar di kuartal I-2015, atau turun tipis dari posisi beban pokok penjualan sebesar Rp244,33 miliar di kuartal I-2014.

Beban usaha perseroan menjadi Rp177,37 miliar di kuartal I-2015, atau naik dari posisi Rp145,26 miliar di kuartal I-2014. Pendapatan operasi lainnya jadi Rp9,73 miliar di kuartal I-2015, atau naik dari posisi Rp9,07 miliar di kuartal I-2014. Adapun posisi aset Sari Roti menjadi Rp2,72 triliun di kuartal I-2015, atau naik dari posisi aset sebesar Rp2,14 triliun di akhir 2014.

Tahun ini, perseroan tetap menahan harga jual produksinya. Meski ada pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL). Investor Relations Nippon Indosari Corporindo Stephen Orlando pernah bilang, perseroan tidak akan menaikkan harga, saat ini perseroan terus mengkaji harga berdasarkan pengamatan di lapangan terhadap berbagai macam pabrikan roti. Sehingga, peningkatan harga tidak langsung terjadi, kecuali ada tekanan ke biaya produksi perseroan,”Kita analisa dari waktu ke waktu dulu. Untuk tahun ini belum ada rencana menaikkan harga jual produk," ujarnya.

Menurutnya, pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidak memiliki dampak yang besar bagi kinerja perseroan, sebab pasokan bahan baku roti yang harus diimpor telah distok dan dikontrak selama beberapa bulan ke depan. "Jadi saat harga gandum naik, kita tidak langsung naikkan harga jual produk," tutur dia.

Sampai saat ini, perseroan punya 10 pabrik roti yang tersebar di Pulau Jawa. Dari 10 pabrik yang beroperasi tersebut, menghasilkan 4 juta roti per hari, dimana pemasaran paling besar ada di Jabodetabek dan Jawa Barat. "Indonesia Timur kita belum masuk, baru Bali, masuk kesana harus analisa dulu," pungkasnya.

Perseroan tahun ini menargetkan penjualan naik 20%. Faktor pendukung pertumbuhan penjualan tahun ini didukung dari demand market yang masih tinggi. Kemudian faktor lainnya yaitu pertumbuhan masyarakat kelas ekonomi menengah yang masih besar. Di sisi lain, pangsa pasar ROTI yang masih luas dan kekuatan brand Sari Roti. (bani)