Global Teleshop Ngerem Laju Ekspansi Bisnis - Tunda Bagikan Dividen

NERACA

Jakarta – Sengitnya persaingan bisnis ponsel seiring dengan maraknya serbuan barang impor, membuat bisnis ritel ponsel PT Global Teleshop Tbk (GLOB) ikut melandai. Alhasil, berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham (RUPS) memutuskan untuk tidak membagikan dividen untuk pembukuan priode 2014,”Untuk sementara, tidak ada dividen karena ini juga untuk memperkuat struktur modal kerja kami," ujar Evy Soenarjo, Presiden Direktur GLOB di Jakarta, Kamis (23/4).

Disebutkan, keputusan tidak membagikan dividen telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham (RUPS). Tahun lalu, GLOB meraup pendapatan Rp 4,04 triliun, naik 4% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara, laba bersihnya susut 20% menjadi Rp 92,12 miliar. Terakhir kali GLOB membagikan dividen adalah pada tahun 2013 lalu. Dividen yang dibagikan merupakan dividen atas pembukuan periode 2012 dengan nilai Rp 51 per saham.

Menyadari ketatnya likuiditas saat ini, kata Evy, perseroan memastikan sepanjang tahun ini tidak banyak ekspansi membuka gerai baru,”Kami lihat dulu seperti apa, karena tahun ini pertumbuhan penjualan ponsel diperkirakan flat," ujarnya.

Karena menurutnya, pelemahan rupiah terhadap dolar AS membuat banyak pengembang yang menunda pembukaan mall baru. Padahal, pembukaan mall baru menjadi kesempatan bagi GLOB untuk menambah gerai barunya.

Andai ada pembukaan, letaknya pun tidak terletak di lokasi yang strategis. Jadi, hal ini dinilai kurang menguntungkan. Sayang, Evy enggan merinci target pembukaan gerai baru yang bakal dilakukan sepanjang tahun ini,”Yang jelas, belum ada banyak pergeseran ke luar Jawa, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya," tandas Evy.

Pada kesempatan yang sama, Januar Chandra menjelaskan, tahun lalu GLOB menutup sekitar 30 gerai. Tapi, penutupan itu banyak dilakukan pada penutupan service center seperti service center Blackberry dan Nokia. Penutupan gerai itu pun masih diimbangi dengan pembukaan sekitar 10 gerai tahun lalu.

Minimnya ekspansi yang dilakukan membuat manajemen tidak berani memasang target kinerja terlalu tinggi tahun ini. Pertumbuhan pendapatannya dipatok pada angka 5% hingga 9%. Tahun lalu, realisasi pendapatannya Rp 4,04 triliun."Asumsi pertumbuhan ini adalah, adanya migrasi pengguna feature phone ke ponsel pintar dan tablet," pungkas Januar. (bani)

BERITA TERKAIT

Temu Bisnis Pengembang Raih Transaksi Rp10 Triliun

Temu Bisnis Pengembang Raih Transaksi Rp10 Triliun NERACA Nusa Dua, Bali - Kongres The International Real Estate Federation (FIABCI) di…

Likuiditas Seret - Bank Mayapada Batal Bagikan Dividen Interim

NERACA Jakarta – Mempertimbangkan menjaga likuiditas keuangan, PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) menggagalkan rencananya untuk membagikan dividen interim tahun…

Kemudahan Bisnis Harus Dorong Perkembangan Wirausaha

NERACA Jakarta – Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengingatkan bahwa kebijakan pemerintah harus fokus meningkatkan kemudahan berusaha sebagai upaya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

IHSG Sepekan Kemarin Tumbuh 0,17%

NERACA Jakarta – Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sepekan pada minggu ke-3 bulan Desember mencatat indeks harga saham gabungan…

Estika Tiara Bidik Dana IPO Rp 226,11 Miliar

PT Estika Tata Tiara mengincar dana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) hingga Rp226,11 miliar. Calon emiten distribusi makanan…

PLI Mulai Pasarkan Double Great Residence

PT Prioritas Land Indonesia (PLI) mulai melakukan pembangunan hunian edukasi pertama di Serpong, Double Great Residence (dahulu K2 Park) pada…