Timah Tambah Porsi Saham di Bisnis Properti

Genjot Bisnis Non Timah

Jumat, 24/04/2015

NERACA

Jakarta – Keputusan melakukan diversifikasi usaha menjadi pilihan tepat bagi PT Timah (Persero) Tbk (TINS) ditengah kondisi harga komoditas yang loyo. Maka pengembangan bisnis di sektor properti yang dilakoni PT Timah Tbk saat ini, tengah menyedot banyak biaya sebagai investasi awal. Pasalnya, perusahaan plat merah ini berharap besar sektor properti bisa menuai hasil da nada kemajuan bisnis guna mendongkrak pendapatan perseroan.

Oleh karena itu, Timah kembali menambah porsi saham di perusahaan patungan atau joint venture di usaha properti antara PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA),”Sekarang ada perubahan porsi kepemilikan,”kata Direktur Utama TINS, Sukrisno di Jakarta, Kamis (23/4).

Tadinya porsi kepemilikan TINS adalah 40%. Lalu ADHI dan WIKA masing-masing 30%. Tapi kini, TINS akan memeluk porsi mayoritas 51% dengan ADHI dan WIKA masing-masing 24,5%. Pendapatan bisnis properti itu pun mulai akan dikonsolidasikan ke laporan keuangan TINS di tahun ini.

Anak usaha properti dari 3 emiten Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu akan resmi dibentuk Mei mendatang. Sehingga proses penjualan propertinya dapat mulai dilakukan sekitar Juni atau Juli. TINS memiliki total 176 hektare lahan untuk pengembangan propertinya. Pada tahap pertama, TINS akan menggarap rumah tapak di atas lahan 40 hektare. Investasi yang digelontorkan untuk aksi perdananya yakni Rp 150 miliar.

Kemudian, TINS akan mengerjakan powerplant berkapasitas 2x150 MW di Mulut Tambang. Tak tanggung-tanggung, investasi yang digelontorkan mencapai Rp 2 triliun sampai Rp 3 triliun. TINS pun menggandeng ADHI untuk membangun powerplant tersebut. Nantinya, TINS akan memegang porsi mayoritas minimal 51%.

Untuk operasional powerplant itu, TINS akan mengambil batubara dari tambang milik anak usahanya di Sumatera Selatan. Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan TINS menyebut bahwa pihaknya masih menunggu izin untuk membangun powerplant itu.

Bisnis Rumah Sakit

Lebih lanjut, TINS juga menggarap bisnis rumah sakit. TINS pun melakukan kerjasama operasional dengan Pertamina Medika untuk rumah sakitnya di Pangkal Pinang. Demi mendukung operasionalnya, TINS berinvestasi peralatan Rp 200 miliar. Di situ, Rp 150 miliar merupakan pinjaman bank dan Rp 50 miliar kas internal.

Selain itu, TINS akan mengembangkan bisnis logam tanah jarangnya. Saat ini, TINS baru memiliki miniplant sebagai pilot project dengan kapasitas 15 kilogram per hari. Di tahun 2017, TINS akan membuat pabrik untuk logam tanah jarangnya. Maka kapasitas pabriknya nanti akan berada dalam hitungan ribuan ton per tahun.

Sukrisno berharap, TINS dapat meningkatkan pendapatan bisnis non-timahnya. Sehingga, pendapatan bisnis timah dan non-timah akan seimbang dengan porsi masing-masing 50% di 2019. Saat ini, porsi pendapatan timah masih berkontribusi 90% sampai 95%. Dengan adanya pemasukan dari bisnis properti, tahun ini pendapatan timah akan berporsi 85% dan non-timah 15%.

Selain itu, Timah juga mengalokasikan dana sebesar Rp150-Rp200 miliar untuk eksplorasi di wilayah laut. Dana tersebut akan di gunakan untuk pembuatan empat kapal survei berjenis geotin. Kapal tersebut akan menambahkan tiga kapal eksplorasi sebelumnya menjadi tujuh unit. Kata Agung, perseroan terus melakukan eksplorasi pada saat harga timah mengalami penurunan,”Jika potensi tersebut dibiarkan, maka perseroan akan menjadi rugi,”ungkapnya.

Dia menjelaskan, sumber daya perseroan di sektor laut mencapai 449.197 ton. Sedangkan produksi di wilayah laut mencapai 21.112 ton atau meningkat 6,92% dibanding tahun sebelumnya sebanyak 19.744 ton. Menurutnya, produksi di wilayah laut sebenarnya masih bisa lebih maksimal jika pemerintah serius dalam penegakan hukum terhadap penambangan ilegal di laut. (bani)