BUMN Go Publik Mampu Berkembang Pesat

Tingkatkan Jumlah Emiten

Jumat, 24/04/2015

NERACA

Jakarta- Masih rendahnya penetrasi perusahaan BUMN masuk ke industri pasar modal menuai keprihatinan bagi Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia. Pasalnya, selain kalah dari jumlah dibandingkan dengan negara tetangga, juga karena BUMN yang go public bisa lebih transparan dan bahkan janjikan bisa berkembang lebih pesat lagi.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito menyatakan, perusahaan yang melakukan initial public offering (IPO) lebih sukses dibanding yang masih 100% milik pemerintah,”BUMN yang go public lebih sukses dibandingkan yang tidak,”tandas Ito di Jakarta, Kamis (23/4).

Dirinya mencontohkan, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang kinerja keuangannya meningkat setelah go publik. Perusahaan yang disetir oleh Asmawi Syam, kini sahamnya semakin meningkat lebih dari 30 kali lipat selama kurun waktu kurang lebih 12 tahun,”2003, BRI melakukan IPO. Sekarangmarket capital-nya hampir Rp318 triliun. Dulu sebelum IPO Rp11 triliun-an.See, kontribusinya buat negara meningkat," ucapnya.

Artinya, lanjut Ito, fungsinya sebagai agen pembangunan tidak hilang meski perusahaan sibuk mencari keuntungan. Ito menjelaskan, laba BRI 2014 (sudah IPO) sebesar 24%, di mana pemerintah mendapat 55% dari keuntungan tersebut atau sekitar lebih dari Rp12 triliun,”Coba bandingkan sebelum IPO, laba masih hitungan miliaran. Meski pemerintah dapat keuntungan dari perusahaan 100 persen, namun nilainya kecil hanya miliar. Kalau IPO triliunan. Kan bedanya besar sekali," ungkapnya.

Kata Ito, sudah sejak 1994 berkecimpung di dunia bursa sehingga banyak mengetahui seluk beluk mengapa baru 20 dari 118 perusahaan BUMN yang baru tercatat di bursa. Pada umumnya, para pemegang masih berpikir harus memperbesar perusahaan terlebih dahulu dan baru nanti melakukan IPO sehingga hasilnya besar. Namun konsep tersebut menurut, Ito Warsito dinilai konsep yang salah.

Menurutnya, sampai sekarang perusahaan yang berfikir demikian tidak kunjung mencatatkan sahamnya di bursa karena sibuk dan fokus pada fokus bagaimana memperbesar perusahaan namun implementasinya nihil. "The game is always the same," pungkasnya.

Ito mengegaska, privatisasi dna IPO untuk BUMN memang harus dilakukan, dengan alasan IPO bisa melecut direksi perusahaan BUMN unuk berperan lebih profesional. Selain itu, denganlistingdi bursa, akan lebih mengurangi intervensi di perusahaan,”Intervensi bisa datang dari mana saja dan dalam bentuk apapun juga. Saya tidak bicara kalau mereka IPO akan menghilangkan potensi hilangnya intervensi, tapi kalau IPO mereka akan lebih terbuka dan transparan," tuturnya.

Lebih lanjut, Ito menambahkan dirinya percaya dengan semakin banyak mata yang melihat dan yang mengawasi perusahaan, maka akan membawa kinerja yang semakin baik,”Kinerjanya semakin baik, yakni dengn mencatatkan sahamnya di BEI, karena perusahaan akan menjalankan peraturan pasar modal. Jadi bisa diawasi oleh banyak investor publik, analis saham dan para penyandang dana,”kata Ito (bani).