Adhi Karya Raih Kontrak Baru Rp 2,5 Triliun

Jumat, 24/04/2015

Jakarta – Sampai dengan akhir Maret 2015, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) meraih kontrak baru sebesar Rp2,5 triliun. Disebutkan, realisasi kontrak baru perseroan diraih melalui perolehan beberapa proyek, mayoritas terbagi atas proyek-proyek yang berasal dari lini konstruksi bisnis sebesar 89%, sementara sisanya merupakan proyek dari lini bisnis lainnya,” Kontrak per Maret itu kontrak yang sudah di tandatangani,”kata Direktur Keuangan Adhi Karya, Supardi di Jakarta, Kamis (23/4).

Supardi menyampaikan, realisasi kontrak baru berasal dari perusahaan swasta atau lainnya sebanyak 56%, dari APBN atau APBD sebanyak 28% dan BUMN tercatat sebesar 16%. Untuk kinerja perseroan tahun ini, perseroan menargetkan kontrak baru sebesar Rp15,2 triliun. Lini bisnis jasa konstruksi ditargetkan meraih perolehan kontrak baru sebesar Rp12,5 triliun.

Sementara lini bisnis engineering procurement and construction (EPC) Rp460,1 miliar, lini bisnis properti realti Rp1,7 triliun dan bisnis precast concrete Rp479 miliar,”Sedangkan dari jenis pekerjaan, proyek gedung diperkirakan sebanyak 39%, jalan dan jembatan sebesar 31% dan sisanya adalah proyek infrastruktur lainnya,”paparnya.

Selain itu, lanjut Supardi, perseroan akan melakukan pembanguan proyek Light Rail Transit (LRT), dimana proses pembiayaannya mulai dilirik perbankan asal China,”Perseroan saat ini sedang mencari tambahan pendanaan, baik dari bank plat merah dalam negeri maupun dari luar negeri. Dari sisi funding, pada saat Ibu Menteri ke China mungkin dari China Development Bank bicara mereka supaya dapat rate yang baik. Semua dalam proses, selama proyek bagus enggak ada masalah," ujarnya.

Selain dari pinjaman, proyek transportasi massal gagasan Jokowi tersebut juga dibiayai dari dana right issue yang akan dilakukan perseroan pada Juni mendatang,”Penggunaan PMN untuk proyek tranportasi dan stasiun masal LRT Cawang-Kuningan-Dukuh Atas dan properti transportation oriented development di stasiun," jelas Supardi.

Sekadar informasi, proyek LRT membutuhkan dana tidak sedikit. Untuk moda transportasinya membutuhkan dana sekitar Rp6,7 triliun sampai Rp6,8 triliun. Sementara infrastruktur stasiun sekitar Rp3 triliun lebih. Diperkirakan untuk keseluruhan perseroan diperkirakan membutuhkan dana Rp9,9 triliun.

Supardi menambahkan, tahun ini perseroa belum berencana ekspansi ke Asia Tenggara. Pasalnya, gejolak ekonomi global seperti penurunan pertumbuhan ekonomi dunia akan memengaruhi perekonomian di negara ASEAN,”Ekspansi ke ASEAN di tahun ini, kita belum ke sana karena pengaruh dari ekonomi global, sehingga kita lihatnya secara situasional,”ungkapnya.

Kendati demikian, BUMN konstruksi ini meyakini perseroan masih akan mampu mengantisipasi dampak dari pelemahan ekonomi dunia. Antisipasi yang dilakukan melaui bisnis properti, seperti hotel yang telah dilakukan sebagai investasi jangka panjang,”Gejolak ekonomi memang betul di tahun ini tapi sudah kita minimalisir, hotel ada yang sudah bisa mulai operasi Juni nanti," jelas Supardi.

Pada tahun ini, dia menjelaskan, perseroan masih mengandalkan kontraktor sebagai penggerak utama bisnis. Pasalnya, dengan adanya alokasi dana subsidi bahan bakar minyak (BBM) ke infrastruktur bisa mendorong bisnis semakin berkembang. (bani)