Menperin Ingin IKM Perkuat Struktur Industri Nasional

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian, Saleh Husin mengatakan Industri Kecil dan Menengah (IKM) memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. "Hal ini sejalan dengan Visi Pemerintah dalam Rencana Pembangunan Nasional Jangka Menengah (RPJMN) 2015 - 2019 yaitu terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong," kata Saleh lewat siaran pers yang diterima redaksi Neraca, kemarin.

Untuk lebih meningkatkan peran strategisnya, Menperin menegaskan, pemberdayaan IKM saat ini diarahkan untuk memiliki tujuan jangka menengah guna mewujudkan industri kecil dan industri menengah yang berdaya saing, berperan signifikan dalam penguatan struktur industri nasional, pengentasan kemiskinan dan perluasan kesempatan kerja, serta menghasilkan barang dan/atau jasa Industri untuk keperluan ekspor.

Pada tahun 2014, pertumbuhan industri pengolahan non-migas secara kumulatif sebesar 5,36% atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi (PDB) pada periode yang sama sebesar 5,01%. Pada periode Januari – Desember 2014, nilai ekspor produk industri pengolahan non-migas mencapai USD 117,33 miliar, sedangkan nilai impor mencapai USD 123,83 miliar sehingga neraca perdagangan industri pengolahan non-migas pada periode yang sama sebesar USD –6,5 miliar (neraca defisit).

Untuk memperkecil defisit tersebut, salah satu upaya yang dilakukan Kementerian Perindustrian adalah memperberdayakan IKM yang merupakan bagian penting dalam perkembangan industri nasional. Sampai saat ini, IKM telah berkontribusi sebesar 34,56% terhadap pertumbuhan industri pengolahan non-migas secara keseluruhan.

Angka ini dapat tercapai karena dukungan lebih kurang 3,5 juta unit usaha, yang merupakan 90 persen dari total unit usaha industri nasional. Jumlah unit usaha tersebut telah mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 8,4 juta orang, yang tentunya berdampak pada meningkatnya ekonomi nasional serta mengurangi kemiskinan.

Sementara itu, Menperin mengingatkan, pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015 akan membuat perekonomian nasional bersaing dengan para pelaku pasar di kawasan ASEAN. Artinya, produk dan jasa termasuk investasi negara-negara anggota akan dengan bebas memasuki pasar kawasan ASEAN.

Dalam rangka menghadapi tantangan tersebut, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian telah mengambil langkah-langkah strategis berupa peningkatan daya saing dan mendorong investasi di sektor industri. “Peningkatan daya saing industri itu sendiri dilakukan melalui penguatan struktur industri dengan melengkapi struktur industri yang masih kosong serta menyiapkan strategi ofensif dan defensif dalam akses pasar,” tegas Menperin.

Strategi ofensif dan defensif yang dilakukan Kementerian Perindustrian melalui program pelaksanaan Direktorat Jenderal IKM, antara lain meliputi: penumbuhan wirausaha baru, pembinaan IKM melalui pengembangan produk IKM dan peningkatan kemampuan sentra, pemberian bantuan mesin dan peralatan produksi, perluasan akses pasar melalui promosi dan pameran, fasilitasi pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual, fasilitasi sertifikasi mutu produk dan kemasan, serta fasilitasi pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Menperin mengharapkan, berbagai program strategis tersebut dapat didukung secara sinergis oleh seluruh komponen masyarakat. Untuk itu, Menperin berpesan kepada para peserta Rakornas agar dapat menyusun program pemberdayaan IKM tahun 2016 yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dalam rangka pengembangan industri di daerah.

Dalam kesempatan sebelumnya, Saleh juga mengatakan industri merupakan salah satu sektor yang memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional, terutama melalui kontribusinya terhadap peningkatan nilai tambah, devisa negara dan penyerapan tenaga kerja. Seiring dengan hal tersebut, Kementerian Perindustrian terus melakukan berbagai langkah strategis untuk menyiapkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) yang terampil di bidang industri dalam menghadapi pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015.

Menperin menegaskan, dalam menghadapi MEA 2015, Kementerian Perindustrian telah melakukan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Meningkatkan daya saing industri dengan memperkuat struktur industri (hilirisasi, penguatan pasar dalam negeri, SNI wajib bagi produk tertentu); (2) Meningkatkan kemampuan SDM sesuai kebutuhan industri (pendidikan vokasi industri berbasis kompetensi; pelatihan dan pemagangan industri;penyusunan sertifikasi kompetensi wajib).

Adapun target program pengembangan SDM industri pada tahun 2015, yaitu: (1)tersedianya tenaga kerja industri yang terampil dan kompeten sebanyak 21.880 orang; (2)tersedianya SKKNI bidang industri sebanyak 30 buah; (3)tersedianya LembagaSertifikasi Profesi (LSP) dan Tempat Uji Kompetensi(TUK) bidang industri sebanyak 20 unit; (4)meningkatnya pendidikan dan skill calon asesor dan asesor kompetensi dan lisensi sebanyak 400 orang; dan (5) Pendirian 3 akademi komunitas di kawasan industri.

Menperin menyampaikan beberapa capaian kinerja industri, dimana pada tahun 2014 pertumbuhan industri non-migas mencapai 5,34% atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi (PDB) tahun 2013 sebesar 5,06%.

Related posts