Mengapa Lebih Banyak Orang Gagal Ketimbang Berhasil?

Oleh: Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M. Si, Rektor UIN Malang

Rabu, 22/04/2015
Hidup sukses, bahagia, sejahtera, kaya, dan terhormat adalah hak setiap orang. Siapapun boleh dan berhak memiliki keinginan seperti itu. Tetapi kenyataannya jika kita menengok ke kanan dan kiri kita, apa yang kita temukan?. Kita menemukan bahwa jumlah orang gagal lebih banyak daripada jumlah yang berhasil. Hidup ini memang bagaikan piramida. Di ujung paling atas adalah gambaran orang-orang berhasil yang jumlahnya sangat sedikit, bahkan jauh lebih sedikit daripada yang gagal. Semakin ke bawah semakin besar. Yang sedikit itu sering menentukan nasib orang-orang di bawahnya. Mengapa itu terjadi? Tulisan ini mengupasnya berangkat dari pengalaman empirik.

Kita sering menerima petuah dari orangtua, guru, atau mentor kita untuk mau belajar dari kisah orang-orang sukses jika kita ingin sukses. Saya sangat setuju dengan petuah tersebut, karena saya termasuk gemar membaca riwayat hidup atau kisah orang-orang sukses. Tetapi mempelajari kisah perjalan hidup mereka, khususnya dalam meraih sukses, tidak berarti meniru langkah-langkahnya. Sebab, sebenarnya kita tidak pernah bisa meniru siapapun, karena diri kita hakikatnya adalah kita sendiri. Kita bukan orang lain. Dan, kita tidak pernah menjadi orang lain (we are ourselves, we are not others, and we can never become others forever).

Orang sukses yang kemudian menjadi pemimpin selalu hadir sesuai zamannya. Kita lihat kisah beberapa pemimpin Indonesia sebagai contoh. Sebut saja, misalnya, Bung Karno. Siapa yang mengatakan beliau itu tidak hebat, karena mampu memerdekakan Indonesia dari belenggu penjajah. Pidatonya selalu memukau pendengarnya, karena kemampuan orasinya yang luar biasa. Konon, pidato Bung Karno mampu membius orang. (Saya menggunakan kata “konon” karena belum pernah mendengarkan pidato Bung Karno secara langsung, kecuali lewat kaset. Bahasa politik Bung Karno mampu membakar semangat rakyat untuk bangkit dari keterpurukan akibat penjajahan beberapa abad lamanya. Sosok Bung Karno sangat tepat hadir sebagai pemimpin Indonesia saat itu, karena untuk membakar semangat rakyat agar bisa bangkit diperlukan pemimpin yang hebat berpidato dengan bahasa yang inspiratif.

Selain itu, Bung Karno juga memiliki kemampuan berbahasa asing. Kemampuannya itu dimanfaatkan untuk sering bicara di panggung internasional untuk menunjukkan jati diri bangsa yang baru saja lahir. Di forum PBB, Bung Karno berani menantang negara-negara besar anggota PBB dengan menyatakan keluar dari keaggotaan PBB karena PBB dinilai tidak adil. Dunia terperangah dengan sikap Bung Karno yang pemberani, revolusioner dan suka menghentak. Tentu saja lawan politik Bung Karno tidak sedikit.

Ketika era Bung Karno berakhir dan Indonesia memasuki era Orde Baru atau era pembangunan, diperlukan sosok pemimpin yang berbeda. Sebagai penerusnya, Soeharto tampil dengan gaya berbeda dari Bung Karno. Soeharto bukan orator ulung. Pidatonya menjemukan, karena monoton. Tetapi Soeharto ahli strategi pembangunan, baik ekonomi, sosial, politik dan budaya. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia stabil secara politik dan mampu berswasembada pangan. Untuk melanggengkan kekuasaannya, Soeharto menggunakan militer, birokrasi, dan pengusaha sebagai pilar penyangga. Itu sebabnya dia mampu mempertahankan kekuasaannya selama 32 tahun.

Soeharto memimpin dengan model kepemimpinan otoriter. Ketika angin demokratisasi mulai berhembus hampir di semua negara-negara dunia, model kepemimpinan Soeharto tidak lagi tepat. Gelombang demonstrasi yang dimotori mahasiswa tidak mampu dibendung dan mengakhiri kekuasaannya. Soeharto pun jatuh. Kepemimpinan nasional Indonesia pun silih berganti.

Bung Karno dan Soeharto dianggap menjadi pemimpin di masanya. Bung Karno adalah Bung Karno, dan Soeharto adalah Soeharto. Pemimpin-pemimpin selanjutnya tidak bisa meniru model kepemimpinan keduanya, tetapi penting untuk mempelajarinya. Era yang berbeda memerlukan model dan sosok pemimpin yang berbeda pula.

Belajar dari kisah dua pemimpin negeri ini, kita bisa mengambil hikmah bahwa untuk berhasil atau sukses dalam menjalani hidup kita harus menjadi diri kita sendiri. Masalahnya kita sering tidak sadar bahwa kita memiliki kemampuan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Secara akademiki, ada orang yang tidak pandai berhitung, sehingga nilai pelajaran matematikanya jelek. Tetapi mungkin dia memiliki kelebihan yang lain seperti melukis, menulis, menyanyi dan sebagainya. Tidak mungkin seseorang tidak memiliki kelebihan tertentu. Sebagai Sang Maha Kasih dan Sayang, Allah menciptakan manusia lengkap dengan perangkat hidup dan aturan-aturannya. Perangkat itu berupa kompetensi untuk mencari rezeki yang sudah disediakan pula oleh sang Pencipta. Karena itu, yang kita miliki itu adalah “bench mark” yang membuat kita berbeda dengan yang lain. Kelebihan kita adalah harga diri kita. Sekanjutnya agar hidup tentram dan bahagia, jangan melanggar aturan main yang sudah dibuat Tuhan. Hampir semua keruwetan dan kehancuran disebabkan oleh pelanggaran aturan yang telah ditentukan oleh sang Pencipta.

Penyebab kegagalan lainnya adalah ketidakdisiplinan, baik dalam mengelola waktu maupun menekuni profesi yang dipilih. Perhatikan, adakah orang sukses tanpa kedisiplinan? Rasanya tidak pernah ada. Berkali-kali saya berinteraksi dengan orang-orang sukses dan menemukan umumnya mereka sangat disiplin. Terkait dengan waktu, kita sering kali mengabaikan dan tidak sadar bahwa waktu yang lewat tidak akan pernah kembali selamanya. Karena itu, jangan sia-siakan waktu yang tersedia. Waktu yang kita miliki harus kita manfaatkan untuk berkarya sesuai profesi yang kita pilih. Orang gagal dalam hidup umumnya karena tidak memanfaatkan waktu yang dimiliki untuk berkarya.

Selain tidak memanfaatkan waktu yang tersedia, orang gagal umumnya karena tidak fokus dalam meniti karier di bidangnya. Kesuksesan Bung Karno memerdekakan Indonesia adalah buah dari kerja keras dan semangat yang tidak pernah pudar untuk mengusir penjajah. Bung Karno tidak pernah beralih profesi selain sebagai negarawan. Pun Soeharto berhasil memberikan landasan pembangunan Indonesia karena sikap konsisten menggelorakan “pembangunan” di segala bidang agar Indonesia segera terentas dari kemiskinan. Tak salah jika predikat sebagai “Bapak Pembangunan” disematkan pada diri Soeharto.

Kesuksesan adalah buah dari proses perjalanan panjang dalam hidup seseorang. Kesuksesan tidak hadir tiba-tiba. Dia adalah produk dari berimajinasi, berkreasi, belajar dari orang-orang suskses sebelumnya, dan disertai dengan kedisiplinan serta sikap konsisten memperjuangkan pilihan dan tujuan hidupnya. Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ringkas ini dengan kalimat kesimpulan untuk berkontemplasi bahwa “semua yang kita miliki hari ini, baik keberhasilan maupun kegagalan, adalah buah dari pilihan dan keputusan yang kita buat sebelumnya”. Mungkin kesimpulan saya itu salah atau mungkin benar. Pembaca sendiri yang menilainya! (uin-malang.ac.id)