KAA Tarik Peluang Investasi Industri Hilir

Selasa, 21/04/2015

NERACA

Jakarta - Peringatan ke-60 Konferensi Asia Afrika (KAA) diharapkan mampu menarik investor asing untuk menanamkan modalnya dalam industri hilir beragam sektor. Ketua Panitia Peringatan KAA sekaligus Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Panjaitan mengatakan, pemerintah tengah mendorong hilirisasi industri untuk menjembatani masyarakat kaum bawah dan menengah.

“Untuk industri-industri menengah, pemerintah mendorong program hilirisasi. Walaupun awal sangat berat. Saya harap akan bagus karena itu akan mensejahterakan kelas menengah dan atas,” katanya Jakarta, Senin (20/4).

Sementara itu, pemerintah menekankan pengelolaan industri hulu pada masyarakat melalui Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Menurutnya, selama ini sektor hilir mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Terlebih, dapat memberikan nilai tambah pada sebuah produk. “Sektor hilirisasi macam-macam. Bisa kelapa sawit, pertambangan, dan gas,” katanya.

Luhut mencontohkan, Indonesia telah berhasil mengoptimalkan 47 persen turunan kelapa sawit. “Mestinya kita sampai 100 persen, kosmetik, dan lainnya,” ujarnya.

Lebih jauh, Luhut menyampaikan akan mengoptimalkan ekspor dan impor melalui gelaran negara-negara dua benua tersebut. Ia memastikan pemerintah tengah mengupayakan pembuatan industri hilir sektor mineral dan batu bara. “Kita terlalu terlena dengan harga komoditi (minerba) sehingga (dulu) tidak membuat industri hilir. Sekarang komoditi turun, kita baru membuat hilirisasi padahal kita tidak boleh memaksa itu,” katanya.

Meski demikian, Luhut berpendapat, menarik investor asing untuk berbinis dalam industri hilir tidaklah mudah. Intensif bagi investor menjadi kunci utama. Saat ini, pihaknya menjelaskan pemerintah tengah menggodok beragam insentif yang dapat diberikan.

Hal senada diucapkan peneliti Sawit Watch Achmad Surambo. Menurut Achmad, industri hilir merupakan kunci ketimpangan ekonomi sektor perkebunan, terutama kelapa sawit. “Industri besar cukup di hilir seperti pabrik dan pemasaran. Hilir artinya tidak langsung on farm di atas lahan, tapi di parbik seperti pengolahan dan pemasaran barang,” katanya usai Konferensi Rakyat Asia Afrika.

Sementara itu, pengelolan lahan sawit dalam industri hulu diserahkan langsung kepada masyarakat. Hal tersebut perlu diterapkan untuk merealisasikan pembangunan berbasis kerakyatan. Alhasil, konflik lahan dan kisruh sosial akibat perebutan lahan dapat diminimalisir.

“KAA nanti ada pertemuan di tingkatan bisnis. Ini yang perlu dibicarkan. Sawit menjadi satu hal yang didiskusikan, diatur lebih jelas bagaimana investor berinvestasi, tidak investasi di lahan,” katanya.

Dalam agenda KAA, pemerintah Indonesia menggelar dua ragam pertemuan yang membahas sektor ekonomi secara spesifik, Asia Africa Business Summit dan World Economic Forum. Luhut menjelaskan, pemerintah berupaya membuka kesempatan investor asing melalui dua acara tersebut.

“Asia Africa Business Summit, itu bicara banyak soal UKM karena khusus di Afrika masih banyak negara-negara yang jauh lebih bersahaja. Kalau World Economic Forum, kami mengundang CEO di dunia yang kaya-kaya,” kata Luhut yang berharap kegiatan tersebut akan melahirkan berbagai bentuk kerja sama ekonomi antara Selatan dan Selatan.

Disisi lain, Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan pemerintah akan terus mengupayakan pengembangan industri hilir karet. Produksi karet nasional selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah dibanding diolah lagi menjadi produk turunannya. “Kami akan dorong terus agar penyerapan karet alam ini untuk dalam negeri terus terserap sehingga petani bisa menikmati yang mereka lakukan,” kata Saleh.

Penyerapan karet untuk kebutuhan domestik pada 2014 hanya mencapai 18% dari total produksi karet alam nasional sebesar 3,1 juta ton. Sementara 82% sisanya diekspor ke luar negeri dengan nilai ekspor sebesar US$4,7 miliar. Dengan angka tersebut, Indonesia menjadi negara penyuplai karet alam terbesar kedua di dunia.

Penggunaan karet alam untuk proyek infrastruktur yang disiapkan a.l. untuk dock fender dalam program pembangunan fasilitas pelabuhan, bahan campuran aspal jalan, rubber pads rel kereta api dan bantalan jembatan, bendung karet dan komponen water stop dalam pembangunan bendungan, serta komponen pintu irigrasi dan pengembangan rawa.

Di luar itu, pembangunan infrastruktur nasional, produk berbasis karet alam lainnya dapat dikembangkan di dalam negeri seperti karpet untuk sapi, genteng karet, paving block, bearing bangunan anti gempa, penguatan tebing, kasur lateks, dan lainnya.