Bakrie Plantation Gali Bisnis Hilirisasi Sawit

Gandeng Mitra Strategis

Kamis, 16/04/2015

NERACA

Jakarta – Berhasil membukukan kinerja keuangan yang tumbuh positif dengan kenaikan pendapatan tahun lalu sebesar 27% ditengah merosotnya harga komoditas dunia, menjadi modal bagi PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) untuk terus memanfaatkan peluang dalam setiap sektor bisnisnya untuk meraup pundi-pundi keuntungan dan termasuk rencana kembali menggarap program hilirisasi kelapa sawit yang sempat mandek.

Direktur dan Investor Relation UNSP, Andi W. Setianto mengatakan, tahun ini perseroan bakal menggarap kembali program hilirisasi kelapa sawit. Namun kali ini, perseroan tidak bisa berjalan sendiri dan tengah mencari mitra strategis lantaran ketatnya kondisi keuangan perseroan, “Negosiasi terus berjalan. Investor juga terus kita cari. Asing maupun lokal,”ujarnya di Jakarta, Rabu (15/4).

Namun sayangnya, Andi belum mau menyebutkan mitra strategis yang sudah berminat dan termasuk porsi yang ditawarkan ke calon investornya. Namun UNSP berharap bisa memegang porsi mayoritas. Hingga akhir 2014, perseroan mengalami defisit sebesar Rp 2,3 trilun. Lalu total liabilitas jangka pendek UNSP tercatat Rp 7,69 triliun dan telah melebihi total aset lancarnya di Rp 2,59 triliun. Nah, auditor menilai kondisi ini menimbulkan keraguan signifikan tentang kemampuan UNSP menjalankan usahanya secara berkesinambungan.

Maka dari itu, UNSP berencana mencari solusi. Caranya pertama dengan opsi kemitraan strategis, divestasi sebagian atau seluruhnya, lalu menyelesaikan dan memulai produksi proyek oleochemical atau downstream di tahun ini. Kedua, menata ulang atau restrukturisasi pinjaman unit usaha upstream. Ketiga, fokus pada produktivitas, pengendalian biaya, dan manajemen kebun.

Pada tahun 2013, UNSP masih memperoleh pendapatan senilai Rp 3,96 miliar dari oleochemical. Sedangkan bisnis oleochemical-nya berhenti di tahun lalu karena UNSP kesulitan dana untuk mengembangkan pabrik hilir yang belum sepenuhnya rampung.

Bisnis hilir UNSP memiliki 2 lokasi yakni Tanjung Morawa yang memiliki lahan 7 hektare dan Kuala Tanjung dengan lahan seluas 74 hektare. Berdasarkan perhitungan perseroan, pengembangan Kuala Tanjung ditaksir membutuhkan belanja modal atau capital expenditure (capex) US$ 50,27 juta.

Lalu catatan perseroan di tahun 2013, bisnis oleochemical memiliki aset sebesar Rp 7 triliun dengan utang Rp 4,7 triliun. Sementara itu, Crude Palm Oil (CPO) dan karet memiliki aset Rp 2,6 triliun dengan utang Rp 3,3 triliun.

UNSP pun memiliki utang jangka panjang yang jatuh tempo tahun ini sebesar Rp 4,76 triliun. Utang itu terdiri dari Rp 2,14 triliun kepada Credit Suisse AG cabang Singapura, Rp 2,07 triliun kepada Verdant Capital Pte Ltd, Rp 517,6 miliar kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), serta Rp 31,57 miliar kepada PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA).

Kata Andi, pihaknya akan terus melakukan negosiasi dengan Credit Suisse untuk memperpanjang tenor utang. Sementara utang kepada Verdant Capital merupakan milik Agri International Resources Pte Ltd (APRIL). Asal tahu saja, sepanjang 2014 pendapatan perusahaan mencapai Rp 2,63 triliun naik 27% dibandingkan tahun 2013 sebesar Rp 2,07 triliun. Sedangkan perolehan laba kotor naik 25% menjadi Rp 731 miliar dari Rp 591 miliar pada 2013. Sementara laba operasi tumbuh hingga 46% menjadi Rp 312 miliar dari Rp 213 miliar pada 2013.

Disebutkan, optimalisasi produktivitas pabrik dengan menaikan pembelian sawit dan karet dari petani menopang peningkatan produktivitas aset. (bani)